
Wanto Tirta, “Presiden Geguritan Banyumas”, membacakan geguritan dalam sebuah acara budaya. (Foto: Dokumentasi pribadi Wanto Tirta)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Di tengah suasana kehidupan desa yang sederhana, sosoknya cukup dikenal oleh masyarakat. Kepiawaiannya dalam membuat dan membawakan geguritan membuat namanya tidak asing lagi bagi warga. Setiap penampilannya selalu mampu menarik perhatian dan membuat suasana menjadi lebih hangat.
Bagi pegiat geguritan dan parikan yang dijuluki “Presiden Geguritan” itu, bahasa ibu bukan jalan yang dipilih, melainkan tempat bermula. “Saya waktu itu tidak berpikir tentang sastra, apalagi sampai kepada sastra Banyumasan,” ujarnya.
Kecintaan pada bahasa daerah, katanya, tumbuh begitu saja karena bahasa pertama yang didengarnya adalah bahasa ibu.
Pegiat sastra itu menyebut nama komunitas, lembaga, hingga waktu kongres dengan rinci. Ia pendiri Rumah Gurit, ikut mendirikan Komunitas Orang Pinggiran Indonesia (KOPI), dan menjadi pengurus bidang komite sastra di Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB).
Istilah “Penginyongan” disepakati dalam Kongres Bahasa Banyumasan di Baturraden pada Oktober 2016. Kata inyong berarti ‘aku’ dan menjadi ciri khas orang Banyumas. Wanto lahir dan besar di desa. Ayahnya orang desa, ibunya orang desa asli Kracak. Bahasa mereka adalah bahasa ibu, yakni bahasa Jawa Banyumasan, yang disebutnya juga bahasa biyung.
Sejak kecil, Wanto bergaul dengan petani, pengarit, dan pedagang. Bahasa Indonesia baru dikenalnya setelah besar. Masa kecilnya diisi ronggeng, wayang, hadrah, ketoprak, mocopatan, dan sandiwara pada perayaan tujuh belasan.
“Bahasa bagi saya adalah cara kita mengenali siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita melihat kehidupan ini,” tuturnya.
Dari penonton, Wanto berubah menjadi pelaku. Ia membentuk grup sandiwara anak-anak, mendirikan Teater Gethek, mengajar drama di SMAN 1 Ajibarang, menjadi penyiar radio, lalu menulis parikan dan geguritan, yaitu puisi berbahasa Jawa.
Isinya guyonan, sindiran, kecintaan pada lingkungan, hingga protes atas keadaan. Bahasa itu tidak ingin dibiarkannya hanya menjadi bahan obrolan di pos ronda.
Wanto hendak membuktikan bahwa bahasa Penginyongan bisa menjadi wahana bersastra. Memakai bahasa ibu, tegasnya, tidak berarti menutup diri dari bahasa Indonesia atau bahasa asing. “Oleh karena itu, kita harus bangga dengan bahasa kita sendiri,” katanya.
Kebanggaan itu dirawat Wanto dengan cara sederhana. Di lingkungan RT, RW, dan desa, setiap kali diminta memberi sambutan, ia menyelipkan parikan, bahkan pada acara resmi.
Wanto juga diundang menjadi narasumber literasi, membacakan geguritan, dan tampil di panggung budaya hingga Jakarta. Kepada murid dan mahasiswa, ia mengajak langsung mempraktikkannya.
“Bahasa akan hidup bukan karena terus-menerus diceramahkan atau diprihatinkan, tetapi harus digunakan,” ujarnya.
Pada mulanya, sambutan anak muda tidak selalu hangat. Banyak yang menganggap bahasa biyung kuno atau kurang keren.
Saat berceramah di masjid dan di hadapan guru taman kanak-kanak, Wanto membawa permainan dari parikan: sampiran di satu sisi, isi di sisi lain, lalu peserta menyusunnya sambil berguyon. Suasana menjadi ramai.
Orang yang semula rikuh mengucapkan inyong, rika, atau kiye akhirnya berani, tanpa terasa sedang berbicara dalam bahasa Penginyongan. “Mereka saling tertawa, lalu mulai berani,” ceritanya.
Zaman digital tidak dianggapnya musuh. Di Facebook, Wanto menulis parikan dengan satu larik pengantar berbahasa Indonesia di bawah foto, misalnya penjual apel di gunung.
Tantangan terbesar justru rasa malu pada bahasa sendiri. “Kalau anak-anak muda merasa bahasa Penginyongan itu tidak keren, mereka akan meninggalkannya,” ujarnya.
Anak muda diajaknya membuat video TikTok, film pendek, stand-up comedy, meme, kaus, dan mural. “Kalau bahasanya berhenti sementara zamannya terus berjalan, lama-lama bahasa itu akan ditinggalkan,” tambahnya.
Pengalaman yang paling berkesan bagi Wanto adalah melihat murid, guru, dan pejabat yang semula tidak berani akhirnya berani menulis dan tampil dalam bahasa Penginyongan. Baginya, hal itu sangat membahagiakan.
Julukan “Presiden Geguritan” datang tanpa direncanakan. Setelah Wanto membacakan puisi Banyumasan di pernikahan anak novelis Ahmad Tohari, sebuah koran besar menyebutnya demikian.
Semula dianggapnya guyonan, julukan itu kini diterimanya sebagai amanah, bukan kedudukan. “Ini tanggung jawab saya secara pribadi, walaupun tidak ada yang menuntut,” ungkapnya.
Ia bertahan karena merasa berutang budi. “Saya merasa tidak adil kalau setelah mendapatkan semuanya dari bahasa Penginyongan itu kemudian saya meninggalkannya begitu saja,” ucapnya.
Wanto sadar bahwa bahasa ibu tidak mungkin dijaga seorang diri. Namun, ia percaya satu geguritan atau satu parikan yang dibaca seseorang dapat menggerakkan orang itu untuk menulis, membaca lagi, atau mempelajarinya.
Baginya, pelestarian adalah estafet antargenerasi. Wawancara di ruang penuh buku dan lukisan itu pun bagian darinya. Moto hidupnya adalah “Bismillah mengalir sampai jauh.”
Menjelang akhir percakapan, pesannya untuk generasi muda sederhana: “Aja isin nganggo basane dewek. Aja mindher ngomong karo bahasa Penginyongan.” Artinya, ‘jangan malu memakai bahasa sendiri, jangan minder berbicara dalam bahasa Penginyongan’.
Namun, bangga saja tidak cukup. Anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton kebudayaan, sebab kebudayaan tercipta ketika mereka menjadi pelakunya.
Yang biasa menulis puisi diminta mencoba geguritan, yang biasa menulis cerpen mencoba cerita cindek, dan yang biasa membuat video berbahasa Indonesia menyelinginya dengan bahasa Penginyongan.
Melestarikan bahasa, kata Wanto, bukan kembali ke masa lalu, melainkan membawa bahasa itu berjalan ke masa depan.
“Setiap bahasa mempunyai rumah kebudayaan tersendiri,” katanya. “Penginyongan mempunyai rumah itu. Kita tinggal merawatnya, mengisinya, dan memastikan bahwa lampunya tidak pernah padam.”
Manjat gunung sangu banyu klapa
basa biyung basane inyong rika
Penulis: Bintang Widya Pratama
