
Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut Rumah Lengger Banyumas. (Foto: Aziz Syaifulloh)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Di salah satu ruangan Rumah Lengger, dua deret calung bambu bersandar di dekat pintu berdaun krei hijau. Di dindingnya terpasang lukisan penari lengger, sementara etalase kaca di sudut ruangan berisi perlengkapan menari dan piagam berbingkai. Di tengah ruangan, Sirwan duduk bersila di atas karpet hitam. Ia pengurus harian Rumah Lengger Banyumas sekaligus cucu Mbah Dariah, penari lengger lanang yang diakui pemerintah sebagai maestro seni tradisi. Dengan ponsel yang menyala untuk merekam, wawancara pun dimulai, dari sejarah lengger, alat musiknya, hingga keadaannya saat ini. Rumah Lengger Banyumas berlokasi di Jalan Kawedanan Lama, Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas. Tempat ini digagas Rianto dan baru terwujud pada 21 November 2020.
Ciri khas lengger Banyumas ada pada penari lanang, yaitu laki-laki yang tampil sebagai perempuan. Ketika ditanya apakah penari lanang masih ada, Sirwan menjawab singkat. “Masih ada,” katanya. Ia lalu menyebut penari lengger lanang yang pada 2011 diakui pemerintah sebagai maestro seni tradisi, yaitu Mbah Dariah. “Itu bukan sekadar julukan, secara pemerintah ada pengakuan, ada dasarnya,” kata Sirwan.
Dasar itu terpajang di ruangan yang sama. Di atas etalase kaca, ada piagam Maestro Seni Tradisi tahun 2011 atas nama Dariah. Di dinding, potret hitam-putih seorang penari sepuh bersanggul dipasang di samping papan bertuliskan “Madah untuk Dariah”, yang mencatat bahwa ia berpulang pada Februari 2018. Di papan yang sama, tertulis bahwa Rumah Lengger berniat menjadi pusat dokumentasi lengger, mulai dari mengumpulkan arsip, membuat dokumentasi, sampai mendirikan perpustakaan.

Papan “Madah untuk Dariah” dan potret Mbah Dariah yang terpajang di Rumah Lengger. (Foto: Aziz Syaifulloh)
Sirwan bercerita bahwa Mbah Dariah lahir sebagai laki-laki. “Laki-laki dengan nama lahirnya Sadam, setelah nama panggungnya itu menjadi Dariah,” katanya. Sirwan juga bercerita bahwa neneknya adalah pelaku seni yang total dalam pengabdian. Menurutnya, di usia senja, Mbah Dariah masih bersemangat mengajari anak-anak muda yang ingin belajar menari lengger. Anak kecil pun ikut diajari. Yang terpenting, kata Sirwan, adalah semangat untuk belajar kesenian lengger.
Ia mengingat kebiasaan sang nenek sehari-hari. Mbah Dariah suka sekali menembang dalam bahasa Jawa, entah saat duduk, menyendiri, atau menjelang tidur. Menurut Sirwan, tembang-tembang itu sering dibawakan sambil mengingat masa kejayaannya dulu. Sebagai keluarga, ia mengaku ikut bangga dan berterima kasih atas apresiasi dari para pecinta seni yang peduli. Tentang sejarah lengger, Sirwan mengatakan, “Berbicara sejarah lengger, perjalanannya sangat panjang.” Menurutnya, lengger diyakini sudah ada sejak zaman prasejarah dan terus berubah dari waktu ke waktu. “Semacam metamorfosa, perkembangan dari masa ke masa,” ujarnya. Ia menyebut lengger juga pernah tertekan ketika kesenian rakyat dikaitkan dengan komunis, sehingga makin jarang ditemui di masyarakat.
Lengger Banyumas diiringi calung, alat musik dari bambu. “Kalau di Banyumas, namanya satu set calung,” kata Sirwan. Penampilan penari lanang dengan sanggul, kebaya, dan kain itu, menurutnya, berkaitan dengan mitos kesuburan. “Walaupun pelakunya laki-laki, tetap visualnya adalah perempuan. Karena perempuan adalah simbol kesuburan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, petani menggantungkan hidup pada tanah, sedangkan perempuan dilambangkan seperti tanah. “Tanah itu tempat menanam benih dan menghasilkan tanaman. Begitu pun perempuan, tempat menanam benih dan melahirkan keturunan,” tuturnya. Soal busana, Sirwan menyebut sanggul dan kebaya punya makna sendiri. “Maknanya adalah keindahan, keagungan,” katanya.
Dulu lengger dekat dengan kehidupan petani. “Kalau dulu sangat erat dengan aktivitas petani. Misal mau mengolah lahan, lenggeran. Kalau mau panen juga lenggeran,” kata Sirwan. Lengger juga sering tampil di acara hajatan. Pertunjukannya terdiri dari empat babak. Dimulai dari gambyongan yang menandai pertunjukan siap masuk ke sesi berikutnya, lalu lenggeran. “Kalau tahap lenggeran itu sudah ada interaksi dengan penonton. Biasanya penonton request minta lagu,” ujarnya. Babak ini berjalan sampai tengah malam. Setelah itu masuk badutan yang diisi dengan “lucu-lucuan atau komedi” supaya penonton tidak bosan. Menjelang dini hari, pertunjukan ditutup dengan tari baladewa.
Kini keadaannya berbeda. “Kalau lengger di masyarakat sekarang sudah sangat jarang,” kata Sirwan. Menurutnya, acara sakral dan hajatan yang menanggap lengger juga makin sedikit. “Paling sekarang ada di sela-sela acara. Sekarang lebih seringnya seremonial. Ada acara dibuka dengan lengger,” ujarnya. Durasi pertunjukannya pun menyusut. “Kalau zaman dahulu, lengger itu bisa semalam suntuk, dari malam sampai dini hari. Kalau sekarang, durasinya paling sampai jam 12,” tuturnya.
Selain Mbah Dariah, Sirwan menyebut beberapa penari lanang lain yang masih aktif menari, di antaranya Rianto, Ognil, dan Dodo. Baginya, lengger tidak bisa dipisahkan dari Banyumas. “Kalau berbicara Banyumas, itu identik dengan lengger,” katanya. Lengger memang belum hilang. Tetapi dulu orang menunggu lengger sampai dini hari. Kini lengger yang menunggu dipanggil.
Reporter : Aziz Syaifulloh
