Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, Sosial, & Budaya | Rabu 07 Oktober 2026 | 14.54 WIB

(Foto : Dok./Erdi Aqil Fauzan)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Setiap hari sekitar pukul 13.30, Lestari mulai berkeliling menjajakan gemblong ocar-acir. Perempuan berusia 61 tahun itu membawa tampah berisi dagangan di atas kepala dan sebuah keranjang gendong. Ia menyusuri kawasan Grendeng dan Karangwangkal hingga menjelang Magrib.
Gemblong ocar-acir merupakan jajanan tradisional yang memiliki beragam jenis dan bahan dasar. Makanan ini masih dijajakan secara keliling dan menjadi bagian dari kuliner tradisional yang dikenal oleh sebagian masyarakat. Keberadaannya masih dapat ditemui melalui pedagang yang menjajakannya secara langsung dari satu lingkungan ke lingkungan lain.
Lestari telah berjualan gemblong ocar-acir sejak sekitar 2010. Selama bertahun-tahun, ia mempertahankan cara berjualan dengan mendatangi langsung calon pembeli. Tampah digunakan untuk membawa dagangan di atas kepala, sedangkan keranjang gendong turut dibawa selama perjalanan.
Rute berjualan Lestari mencakup kawasan Grendeng dan Karangwangkal. Ia tidak menetap di satu tempat untuk menunggu pembeli, melainkan berjalan menyusuri lingkungan tersebut. Dari siang hingga menjelang Magrib, aktivitasnya berlangsung dengan cara yang sama.
Pembeli yang ditemui Lestari sebagian besar merupakan warga yang telah menjadi pelanggan tetap. Mereka sudah mengenal gemblong ocar-acir dan masih membeli ketika Lestari datang berkeliling. Sementara itu, mahasiswa dan anak-anak masih jarang membeli dagangan tersebut.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua kelompok masyarakat memiliki kedekatan yang sama dengan jajanan tradisional. Warga yang telah mengenalnya sejak lama masih menjadikan makanan tersebut sebagai salah satu pilihan. Sebaliknya, mahasiswa dan anak-anak yang tidak terbiasa mengonsumsinya cenderung lebih jarang membeli.
Kondisi tersebut berlangsung ketika pilihan makanan di masyarakat semakin beragam. Berbagai jenis jajanan modern lebih mudah ditemukan di lingkungan sekitar, termasuk kawasan yang banyak dihuni mahasiswa. Perubahan pilihan tersebut membuat makanan tradisional harus tetap dikenal agar tidak hanya menjadi makanan yang dikonsumsi oleh generasi sebelumnya.
Bagi Lestari, pelanggan tetap menjadi bagian dari kegiatan berjualannya. Mereka merupakan pembeli yang sudah mengenal dagangan yang dibawanya sehingga tidak perlu diperkenalkan dari awal. Kehadiran pelanggan tersebut membuat aktivitas jual beli tetap berlangsung ketika Lestari melewati lingkungan tempat mereka tinggal.
Selama sekitar 16 tahun, cara berjualan Lestari juga tidak berubah. Setiap siang ia kembali membawa dagangan dengan tampah dan keranjang gendong, kemudian menyusuri rute yang sama hingga sore. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari kesehariannya sebagai penjual gemblong ocar-acir.
Namun, keberadaan pelanggan lama saja belum cukup untuk memastikan makanan tradisional dikenal oleh generasi berikutnya. Ketika mahasiswa dan anak-anak semakin jarang membeli, kesempatan mereka untuk mengenal jajanan tersebut juga menjadi lebih terbatas. Kondisi inilah yang membuat keberadaan pembeli baru menjadi penting bagi keberlanjutan makanan tradisional.

(Foto : Dok./Erdi Aqil Fauzan)
Harapan Lestari pun tertuju kepada kelompok tersebut. Ia ingin mahasiswa dan anak-anak tidak hanya mengenal makanan modern, tetapi juga masih memiliki ketertarikan terhadap jajanan yang sudah lama menjadi bagian dari masyarakat.
“Harapannya mahasiswa dan anak-anak masih mau melestarikan dan membeli makanan-makanan tradisional,” ujar Lestari.
Harapan itu menjadi bagian penting dari perjalanan Lestari berjualan sejak sekitar 2010. Ia telah menjalankan perannya sebagai penjual dengan terus membawa gemblong ocar-acir kepada masyarakat. Sementara itu, keputusan untuk mengenal dan membeli makanan tersebut berada di tangan masyarakat sebagai konsumen.
Menjelang Magrib, Lestari mengakhiri aktivitas berjualannya setelah menyusuri Grendeng dan Karangwangkal sejak siang. Tampah dan keranjang gendong yang menemaninya sepanjang perjalanan menjadi bagian dari rutinitas yang akan kembali dijalaninya pada hari berikutnya.
Di tengah banyaknya pilihan makanan, gemblong ocar-acir masih memiliki ruang untuk bertahan selama masih ada yang menjual dan mengenalnya. Lestari telah menjaganya melalui langkah yang sama selama bertahun-tahun. Kini, harapan itu berlanjut kepada generasi yang mungkin belum akrab dengan jajanan tersebut: mengenal, membeli, dan menjadikannya bagian dari pilihan mereka.
