Purwokerto – Minggu, 13 September 2026, Seminar Kepenulisan 2026 digelar dengan tema “Citta Karya: Menulis dengan Rasa, Meraih Cita yang Bermakna”. Acara dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya, lalu sambutan dari ketua pelaksana, ketua HIMADIKSI, dan ketua program studi.
Luluk HF, penulis novel Mariposa, membawakan materi “Literasi di Era Digitalisasi”. Ia mulai menulis di catatan Facebook dan blog pada 2010, lalu menerbitkan novel pertamanya pada 2014. Kini tiga novelnya, yaitu EL, Mariposa, dan 12 Cerita Glen Anggara, sudah difilmkan.
Menurut Luluk, menulis di platform digital lebih mudah, menguntungkan, dan bisa berujung pada terbitnya buku sampai difilmkan. Tapi sebelum menulis, ia berpesan untuk menjadi pembaca dulu. Mulai saja dari bacaan tipis, dan baca setengah sampai satu halaman setiap hari.

Untuk menulis cerita, ada empat tahap: membuat premis, menyusun outline, menentukan judul, lalu menulis. Setelah itu, karya bisa diunggah ke platform seperti Wattpad atau KaryaKarsa, dan dipromosikan lewat Instagram, TikTok, atau grup WhatsApp.
Luluk menyarankan membuat “tangga pencapaian”, mulai dari menulis satu bab dan punya tiga pembaca. “Mulai dulu, tulis dulu, dan buat tangga pencapaian kalian,” katanya.
Setelah tanya jawab, peserta langsung praktik di sesi pelatihan, lalu ada giveaway dan penampilan akustik sebagai penutup seminar.
Najwa, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2024, mengaku senang mengikuti seminar ini. “Seminarnya sangat menyenangkan dan bermanfaat sekali, karena kita belajar menulis,” katanya.
