sudutnalar.com, 29 September 2026

PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 WIB . Di sebuah kamar kos, layar laptop masih menyala terang. Di sampingnya, secangkir kopi susu yang mulai dingin dan alunan musik menjadi teman setia berpacu dengan detik-detik deadline tugas kuliah.
Pemandangan ini bukan hal asing bagi mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Fenomena Sistem Kebut Semalam (SKS) seolah sudah menyatu dengan dinamika kehidupan kampus, sebuah “ritual” wajib ketika tugas menumpuk dan waktu semakin terdesak.
Bagi Hanum, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Unsoed angkatan 2025, SKS bukanlah bentuk kemalasan, melainkan pilihan realistis di tengah padatnya agenda organisasi.
”Alasan saya biasanya karena ada agenda lain yang harus diselesaikan dulu, seperti kepanitiaan dan volunteer. Saat pulang fisik sudah lelah, jadi pilih istirahat dulu,” tutur Hanum.
Ritual “maraton” mengerjakan tugas, Hanum biasanya dimulai selepas Magrib di kamar kos. Ditemani kopi dan musik, ia mematok batas paling lambat pukul 02.00 WIB untuk memejamkan mata. Meski terdesak waktu, Hanum enggan mengorbankan kualitas. “Mengerjakan secara SKS bukan berarti asal-asalan. Saya tetap memastikan nilainya tidak turun dan sesuai instruksi dosen,” tegasnya.
Namun, tidak semua cerita SKS berakhir mulus. Bagi Bunga (bukan nama sebenarnya), mahasiswa jurusan Kimia Unsoed angkatan 2025, kejar-kejaran dengan tenggat waktu justru berujung pada “siksaan” fisik dan emosional. Panik, cemas, hingga gangguan pencernaan menjadi harga mahal yang harus ia bayar setiap kali menerapkan SKS.
”Secara mental rasanya cemas sampai mulas dan tidak bisa tidur. Keesokan harinya, efek yang paling terasa itu pusing berat dan asam lambung naik,” tutur Bunga blak-blakan.
Dilema antara pacuan adrenalin dan kesehatan mental inilah yang dihindari oleh salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Unsoed angkatan 2025 yang akrab disapa Calista, ia memilih “jalan damai” dengan menjauhi budaya begadang. Bagi Calista, mengerjakan tugas secara mendadak hanya akan merusak fokus.
”Jika menggunakan sistem belajar SKS saat mengerjakan tugas akan sangat kewalahan dan hasil kurang memuaskan. Saya lebih suka mengerjakan saat sore menjelang Magrib, lalu malamnya bisa istirahat,” kata Calista.
Sebagai penutup, Calista membagikan jurus sederhana agar tidak terjebak dalam lingkaran setan SKS dan kecemasan malam hari.
”Agar tugas tidak menumpuk dalam satu hari, sebaiknya dicicil satu demi satu. Urutkan saja dari tugas yang paling berat sampai yang paling ringan,” pungkasnya.
Penulis : Athaya Aqilah
Editor : Calista Aneen Cahyani
