Tsunami 2006 memaksa Binah meninggalkan lapaknya di Kroya. Dari nol di Pasar Wanadadi, ia menyekolahkan tiga anaknya dari segelas dawet.
BANJARNEGARA, SUDUTNALAR – Api menjilat dasar panci hitam di dapur itu. Di atasnya, sebuah tangan terus mengaduk adonan cendol yang berwarna hijau, pelan tetapi tak putus, sementara uap naik menyentuh langit-langit kayu yang kusam oleh asap. Di sudut dapur, sebuah lumpang batu bertahan di tempatnya. Benda itu tak pernah diganti sejak puluhan tahun lalu.

Suami Binah mengaduk adonan cendol hijau di atas tungku berapi di dapur rumah mereka di Banjarnegara. Adonan diberi warna alami dari daun pandan. (Sumber: Anisa Naila Shafa)
Tangan yang mengaduk itu milik sang suami. Pemilik dapurnya, Binah (52), sudah bergerak sejak subuh: shalat, menggoreng camilan untuk suami dan anak-anak, memasak sarapan, menakar bahan cendol, lalu memarut dan memeras kelapa agar santan sudah siap sebelum ia tiba di pasar.
Daun pandan untuk pewarna ia tumbuk di Lumpang (tumbukan batu). Binah pernah mencoba menggunakan blender, tetapi hasilnya tak sebagus menggunakan Lumpang. Warna dan aroma pandan, katanya, baru keluar sempurna jika ditumbuk dengan Lumpang batunya.

Langit-langit dapur dengan rangka kayu dan bambu serta atap seng, kusam oleh asap tungku. Di ruangan inilah Dawet disiapkan setiap hari. (Sumber: Anisa Naila Shafa)
Resep itu tidak diwariskan oleh siapa pun. Dulu, Binah dan suaminya berjualan salak di pasar-pasar Purwokerto, berangkat dari Banjarnegara naik bus sebelum fajar. Lama-lama mereka merasa lelah bolak-balik, lalu tertarik berjualan Dawet Ayu khas kampung sendiri. Mereka meracik resepnya sendiri. Percobaan pertama dibagikan kepada orang-orang yang bekerja di sawah samping rumah. “Katanya enak,” kenang Binah. Dari situlah mereka yakin.
Lapak pertama mereka berdiri di Pasar Kroya, Cilacap, di depan Swalayan Jadi Baru. Suaminya berangkat pukul empat pagi naik mikro, pulang setelah dagangan habis. Setelah lama berjualan, ia merasa lelah pulang pergi dengan jarak yang cukup jauh, akhirnya keluarga itu pindah mengontrak di Kroya bersama dua anak mereka. Binah menjaga lapak di Pasar Kroya, suaminya berjualan di Terminal Adipala. Pelanggan tetap mulai berdatangan. Pemilik Jadi Baru bahkan kerap memborong Dawetnya untuk acara.
Lalu datang hari itu, pada tahun 2006. Binah sedang melayani pembeli seperti biasa, lalu tiba-tiba ia melihat orang-orang berlarian dari arah pantai menuju utara. Mereka menangis dan berteriak, “Tsunami! Tsunami!”
“Jelas saya ikut panik dan ikut lari,” katanya. Ia pulang ke kontrakan, lalu bersama suami memutuskan kembali ke Banjarnegara tanpa membawa apa-apa. Yang terpikir hanya satu: menyelamatkan keluarga.
Seminggu kemudian mereka menengok Kroya. Kabar tsunami susulan yang lebih besar berembus. “Kami masih awam dan percaya isu waktu itu,” ujarnya. Mereka memutuskan pulang untuk selamanya. Yang paling ia sesali bukan dagangan, melainkan pelanggan tetap yang telah ia bangun.
Di Pasar Wanadadi, Binah memulai dari awal. Ia sempat menjual sayur paket, seperti sayur sop dan sayur asem, tetapi tak balik modal. Ia kembali ke dawet dengan hati ragu karena penjual Dawet lain sudah adapada saat itu. Namun ternyata, banyak pembeli yang merasa cocok. Kabar akan rasa nikmat Dawet Ayu itu tersebar dari mulut ke mulut, membuat penggemarnya bertambah.

Binah menuang dawet ke dalam gelas di lapaknya di Pasar Wanadadi. Pikulan hijau dan deretan gelas bening menemaninya berjualan sejak sekitar dua dekade lalu. (Sumber: Anisa Naila Shafa)
Beberapa kali ia nyaris menyerah. Namun ia dan suami hanya lulusan sekolah dasar, tentu akan sulit mencari pekerjaan. “Kalau bukan dari dawet, keluarga mau hidup dari apa?” katanya. Pada masa itu sekolah negeri belum gratis. Ada saja omongan dari orang lain, bahkan saudara, apakah ia sanggup menyekolahkan anak-anaknya. Omongan itu ia jawab dengan bekerja dan berdoa.
Hari ini anak sulungnya menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan di Cikarang dan memiliki usaha dengan omset jutaan perhari. Anak keduanya bekerja dan kuliah dengan uang sendiri. Si bungsu kuliah di Universitas Jenderal Soedirman. Binah sempat melarang, ragu apakah Dawet sanggup membiayai kuliah. Anaknya meyakinkan bahwa ia akan mengajukan beasiswa, dan beasiswa itu didapat.
Dari dawet pula Binah bisa membeli sepeda motor, laptop untuk sekolah anak, dan membangun rumah yang nyaman, meski perlahan.
Pagi itu, setelah shalat dhuha, suaminya mengantarnya ke Pasar Wanadadi, lalu berkeliling menjajakan dawet di Banjarmangu. Di lapaknya, di antara pikulan hijau dan deretan gelas bening, Binah mengisi gelas demi gelas. Ia mengaku akan paling merindukan pasar jika suatu hari tak lagi berjualan. “Pasar sudah seperti rumah kedua saya,” katanya.
Orang kerap menyebut Dawet cuma minuman murah. Binah menjawab tenang. “Tidak semua orang bisa bertahan hidup hanya dengan segelas minuman.”
Bagi yang sedang terpuruk, ia punya pesan: “Rezeki itu sudah tertakar dan tidak akan tertukar.” Di tangannya, segelas Dawet membuktikan itu.
Penulis: Anisa Naila Shafa (J1D025049)
