Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Waktu Berganti, Burger Tetap Menemani: Kisah Bu Suriyah di Balik Puluhan Tahun Berjualan

Posted on Oktober 8, 2026 by athaya qila

Oleh: Valen Rostantina
Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

(Semangat Berjualan Puluhan Tahun Yang Tak Pernah Sirna: Kisah Bu Suriyah, Penjual Burger, Kamis(07/Oktober/2026))

PURWOKERTO – SUDUTNALAR, Malam hari di Jalan Grendeng, sebuah becak burger menjadi tempat Bu Suriyah dan suaminya, Bapak Ahmad Kiswanto mencari penghasilan. Keduanya mulai berjualan burger sejak tahun 1990-an. Puluhan tahun berlalu, anak-anaknya yang dulu masih kecil hingga kini sudah berkeluarga. Tempat usaha mereka pun beberapa kali berpindah. Meski begitu, keduanya masih menjalani pekerjaan yang sama hingga saat ini.

Bagi Bu Suriyah, pekerjaan tersebut bukan sekadar cara untuk mendapatkan penghasilan. Ia merasa lebih nyaman ketika tetap bekerja daripada hanya berada di rumah. Kebiasaan mencari penghasilan juga sudah dijalani sejak anaknya masih kecil.

 β€œSaya males kalo cuma di rumah Mbak, sudah biasa jualan,” katanya.

Ketika masih mengurus anak-anaknya, Suriyah tidak hanya mengandalkan hasil jualan suaminya. Ia juga mencari rumput dan merawat sapi untuk membantu kebutuhan keluarga dan ia juga sempat berdagang mi ayam di depan rumah, tetapi usaha tersebut tidak bertahan lama. Di sisi lain, Kiswanto pernah pergi ke Jakarta untuk mencari nafkah dengan menjual burger.  Setelah ketiganya tumbuh besar, ia memutuskan untuk menetap di Purwokerto dan kembali menjalankan usaha tersebut bersama istrinya. Keputusan untuk kembali berjualan di Purwokerto membuat usaha burger yang sebelumnya dijalani Kiswanto kembali menjadi pekerjaan bersama. Sejak saat itu, keduanya melanjutkan usaha tersebut sambil menyesuaikan dengan keadaan di sekitar tempat mereka berjualan.

Dalam kesehariannya, keduanya berbagi waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pagi hingga siang, Suriyah menjual nasi cokot di seberang jalan yang baru dibuka sekitar dua bulan lalu, tempatnya tidak jauh dari lapak Kiswanto. Memasuki sore hari, giliran Suriyah melanjutkan usaha tersebut hingga malam.

Pembagian waktu tersebut membuat hari keduanya dihabiskan sebagian besar untuk bekerja. Di usia yang tak lagi muda, kesibukan tersebut tetap mereka jalani. Penghasilan yang didapat pun tidak selalu sama setiap harinya, ada kalanya ramai, ada pula sepi. Tetapi hasilnya cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kini, kebutuhan anak-anaknya sudah tidak lagi menjadi tanggungannya seperti dulu. Ketiga anak yang dahulu masih kecil ketika Suriyah mulai berjualan kini telah berkeluarga. Meski begitu, hasil jualan tetap memiliki arti baginya karena bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus menyenangkan cucu-cucunya.

 β€œKalau ada pemasukan, nggak ada pemasukan. Kayak gini kan ya sudah alhamdulillah, dikit-dikit ada terus rezekinya,” ujar Suriyah.

Sebelum memilih lokasi saat ini, keduanya sempat berpindah beberapa kali. Mereka pernah mangkal di sekitar asrama Unsoed, tetapi kemudian tidak diperbolehkan berjualan di sana. Setelah itu, mereka pindah ke sekitar Jalan Fatima. Perpindahan tersebut membuat mereka harus kembali mencari tempat yang bisa digunakan untuk berjualan. Hingga akhirnya, Jalan Grendeng menjadi lokasi yang mereka pilih untuk melanjutkan usaha sampai sekarang.

Pembeli yang datang kebanyakan dari kalangan mahasiswa, harga burger yang ditawarkan mulai dari Rp8.000,00 saja. Saat keadaan ramai, Suriyah pernah keliru membaca nominal uang hingga mengalami kerugian puluhan ribu rupiah. Pembayaran melalui Qris juga pernah tidak masuk, hingga membuatnya bingung. Berbagai kejadian tersebut tidak membuat Suriyah dan Kiswanto ingin berhenti. β€œYa ga apa-apa, ikhlas aja mau gimana lagi, Mbak,” ucap Suriyah sambil tertawa.

Di tengah kesibukannya berjualan, Suriyah dikenal sebagai sosok yang ramah dan ceria saat berjualan. Ia ramah kepada pembeli dan terlihat santai ketika diajak berbincang. Cara bicaranya yang luwes membuat suasana di sekitar tempat jualannya terasa akrab. Bahkan ketika menceritakan pengalaman kurang menyenangkan selama berjualan, ia tidak larut dalam masalah dan justru menanggapinya dengan ringan.

Hingga kini, rutinitas tersebut masih dijalani bersama sang suami. Bagi Suriyah, berjualan bukan hanya tentang apa yang dibawa pulang setiap malam, tetapi juga tentang kebiasaan yang sudah melekat dalam hidupnya. Di tempat itulah, setelah begitu banyak hal berubah dalam hidupnya, Suriyah masih menemukan alasan untuk tetap membuka dagangan dan menjalani hari seperti biasa. Puluhan tahun berlalu, tetapi pekerjaan yang dulu dimulai ketika ketiga anak mereka masih kecil itu belum berhenti. Meski waktu berganti, burger tetap menemani.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme