Oleh: Valen Rostantina
Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

PURWOKERTO β SUDUTNALAR, Malam hari di Jalan Grendeng, sebuah becak burger menjadi tempat Bu Suriyah dan suaminya, Bapak Ahmad Kiswanto mencari penghasilan. Keduanya mulai berjualan burger sejak tahun 1990-an. Puluhan tahun berlalu, anak-anaknya yang dulu masih kecil hingga kini sudah berkeluarga. Tempat usaha mereka pun beberapa kali berpindah. Meski begitu, keduanya masih menjalani pekerjaan yang sama hingga saat ini.
Bagi Bu Suriyah, pekerjaan tersebut bukan sekadar cara untuk mendapatkan penghasilan. Ia merasa lebih nyaman ketika tetap bekerja daripada hanya berada di rumah. Kebiasaan mencari penghasilan juga sudah dijalani sejak anaknya masih kecil.
βSaya males kalo cuma di rumah Mbak, sudah biasa jualan,β katanya.
Ketika masih mengurus anak-anaknya, Suriyah tidak hanya mengandalkan hasil jualan suaminya. Ia juga mencari rumput dan merawat sapi untuk membantu kebutuhan keluarga dan ia juga sempat berdagang mi ayam di depan rumah, tetapi usaha tersebut tidak bertahan lama. Di sisi lain, Kiswanto pernah pergi ke Jakarta untuk mencari nafkah dengan menjual burger. Setelah ketiganya tumbuh besar, ia memutuskan untuk menetap di Purwokerto dan kembali menjalankan usaha tersebut bersama istrinya. Keputusan untuk kembali berjualan di Purwokerto membuat usaha burger yang sebelumnya dijalani Kiswanto kembali menjadi pekerjaan bersama. Sejak saat itu, keduanya melanjutkan usaha tersebut sambil menyesuaikan dengan keadaan di sekitar tempat mereka berjualan.
Dalam kesehariannya, keduanya berbagi waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pagi hingga siang, Suriyah menjual nasi cokot di seberang jalan yang baru dibuka sekitar dua bulan lalu, tempatnya tidak jauh dari lapak Kiswanto. Memasuki sore hari, giliran Suriyah melanjutkan usaha tersebut hingga malam.
Pembagian waktu tersebut membuat hari keduanya dihabiskan sebagian besar untuk bekerja. Di usia yang tak lagi muda, kesibukan tersebut tetap mereka jalani. Penghasilan yang didapat pun tidak selalu sama setiap harinya, ada kalanya ramai, ada pula sepi. Tetapi hasilnya cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kini, kebutuhan anak-anaknya sudah tidak lagi menjadi tanggungannya seperti dulu. Ketiga anak yang dahulu masih kecil ketika Suriyah mulai berjualan kini telah berkeluarga. Meski begitu, hasil jualan tetap memiliki arti baginya karena bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus menyenangkan cucu-cucunya.
βKalau ada pemasukan, nggak ada pemasukan. Kayak gini kan ya sudah alhamdulillah, dikit-dikit ada terus rezekinya,β ujar Suriyah.
Sebelum memilih lokasi saat ini, keduanya sempat berpindah beberapa kali. Mereka pernah mangkal di sekitar asrama Unsoed, tetapi kemudian tidak diperbolehkan berjualan di sana. Setelah itu, mereka pindah ke sekitar Jalan Fatima. Perpindahan tersebut membuat mereka harus kembali mencari tempat yang bisa digunakan untuk berjualan. Hingga akhirnya, Jalan Grendeng menjadi lokasi yang mereka pilih untuk melanjutkan usaha sampai sekarang.
Pembeli yang datang kebanyakan dari kalangan mahasiswa, harga burger yang ditawarkan mulai dari Rp8.000,00 saja. Saat keadaan ramai, Suriyah pernah keliru membaca nominal uang hingga mengalami kerugian puluhan ribu rupiah. Pembayaran melalui Qris juga pernah tidak masuk, hingga membuatnya bingung. Berbagai kejadian tersebut tidak membuat Suriyah dan Kiswanto ingin berhenti. βYa ga apa-apa, ikhlas aja mau gimana lagi, Mbak,β ucap Suriyah sambil tertawa.
Di tengah kesibukannya berjualan, Suriyah dikenal sebagai sosok yang ramah dan ceria saat berjualan. Ia ramah kepada pembeli dan terlihat santai ketika diajak berbincang. Cara bicaranya yang luwes membuat suasana di sekitar tempat jualannya terasa akrab. Bahkan ketika menceritakan pengalaman kurang menyenangkan selama berjualan, ia tidak larut dalam masalah dan justru menanggapinya dengan ringan.
Hingga kini, rutinitas tersebut masih dijalani bersama sang suami. Bagi Suriyah, berjualan bukan hanya tentang apa yang dibawa pulang setiap malam, tetapi juga tentang kebiasaan yang sudah melekat dalam hidupnya. Di tempat itulah, setelah begitu banyak hal berubah dalam hidupnya, Suriyah masih menemukan alasan untuk tetap membuka dagangan dan menjalani hari seperti biasa. Puluhan tahun berlalu, tetapi pekerjaan yang dulu dimulai ketika ketiga anak mereka masih kecil itu belum berhenti. Meski waktu berganti, burger tetap menemani.
