
PURWOKERTO, SUDUTNALAR — Mengajak remaja bicara soal kesehatan reproduksi, bahaya seks bebas, hingga ancaman narkoba sering kali berujung pada tatapan bosan. Ceramah kaku di atas panggung formal kerap dipandang sebelah mata oleh anak-anak muda zaman now.
Namun, cara tak biasa justru diambil oleh Dwida Setiawan Wahyudi. Mahasiswa Teknik Informatika STMIK Widya Utama Purwokerto yang juga merupakan Duta GenRe (Generasi Berencana) ini memilih jalan unik dengan membalut edukasi kesehatan dan perencanaan masa depan lewat aksi parodi kesenian tradisional khas Banyumas, Begalan.
Gelisah Lihat Lingkungan Remaja
Langkah Dwida menjadi penggerak remaja bukan tanpa alasan. Sosok yang akrab disapa Bang Dwid ini memiliki kepedulian mendalam terhadap dinamika anak muda di sekitarnya. Sebagai pribadi yang extrovert, ia bergaul dengan berbagai kalangan remaja, dari yang berprestasi hingga yang terjerat pergaulan negatif.
Ia menyadari banyak remaja terseret hal negatif bukan karena berniat buruk, melainkan bingung mencari jati diri dan kalah oleh tekanan kawan sebaya (peer pressure).
“Anak-anak yang terseret ke hal negatif itu sebenarnya tidak salah. Mereka hanya salah lingkungan saat sedang mencari jati diri,” kata Dwida.
Kondisi makin mengiris hati ketika ia mendalami fenomena fatherless atau tingginya angka remaja yang kehilangan peran sosok ayah di Indonesia. Banyak anak muda kehilangan arah bimbingan di rumah. Keprihatinan itulah yang memicu tekadnya untuk terjun langsung menjadi role model yang mampu merangkul sebayanya.
Lika-Liku Menjadi Duta GenRe
Keinginan membantu sesama remaja membawa Dwida melangkah ke Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di kampusnya. Berbekal rekomendasi dosen dan pengalamannya sebagai mantan Ketua Umum Organisasi Pencinta Lingkungan saat SMA, ia memberanikan diri mendaftar pada ajang Pemilihan Duta GenRe.
Namun, perjuangan menjadi Duta GenRe tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dwida dihadapkan pada gempuran materi yang sangat padat. Ia harus memahami 8 Subsubstansi GenRe hingga kerumitan materi Triad KRR (seksualitas, HIV/AIDS, dan penyalahgunaan NAPZA).
Malam-malamnya diisi dengan belajar hingga larut. Tantangan terbesarnya bukan sekadar menghafal, melainkan bagaimana menyampaikan materi seberat itu agar bisa diterima dengan mudah oleh anak-anak muda.
Melahirkan “Begalan GenRe”
Sadar bahwa edukasi ceramah satu arah akan cepat dilupakan, Dwida memutar otak. Tercetuslah ide segar untuk memanfaatkan seni tutur tradisional Banyumas, Begalan.
Dalam prosesi adat Banyumas, Begalan biasanya dipentaskan dalam hajatan pernikahan dengan membawa perlengkapan dapur (piranti). Oleh Dwida, kesenian ini disulap menjadi panggung drama parodi interaktif bernama “Begalan GenRe”.
Di atas panggung, Dwida bertindak sebagai Begal (pembawa pesan) yang mencegat lawan mainnya sembari membedah arti filosofis piranti dapur dan mengaitkannya dengan kehidupan remaja:
- Wangkring (Pikulan): Mengajarkan kesiapan fisik, mental, dan ekonomi sebelum memutuskan berkeluarga (PUP).
- Ilir (Kipas Bambu): Menjadi pengingat agar remaja menguasai keterampilan hidup (life skill), pandai mengelola emosi, dan tidak memperkeruh suasana di media sosial.
- Irig (Saringan): Menjadi benteng diri untuk menyaring informasi serta membentengi diri dari risiko Triad KRR (Seks Bebas, HIV/AIDS, dan NAPZA).
- Layah & Muthu (Cobek & Ulekan): Mengajarkan cara mengolah beragam ujian hidup dan mengasah kemampuan memecahkan masalah (problem solving).
- Padi: Simbol bahwa makin tinggi ilmu dan prestasi yang diraih, remaja harus makin rendah hati.
Sempat Minder, Kini Dipuji
Inovasi tersebut tidak langsung berjalan mulus. Dwida mengaku sempat dihinggapi rasa minder dan ragu apakah anak muda zaman sekarang masih mau menonton pertunjukan tradisional.
“Awalnya saya ragu, emang bisa ya kesenian Begalan dijadikan media edukasi Duta GenRe?” ungkap Dwida.
Namun, keraguan itu sirna ketika ia mempraktikkannya secara langsung di depan audiens kampus. Pemaparannya yang dibawakan dengan parodi jenaka, balutan gending tradisional, dan komunikasi dua arah sukses memikat perhatian. Gelak tawa dan tepuk tangan riuh memenuhi ruangan.
Melalui Begalan GenRe, Dwida membuktikan bahwa edukasi masa depan tidak harus kaku. Budaya lokal tidak hanya dilestarikan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga bisa berdiri anggun menjadi sarana edukasi kreatif demi membina generasi muda menyongsong Indonesia Emas 2045.
Penulis: Ardia Herdika Chandra
Editor: Bakhrie Muhammad Noor

Done coment
Coment
so cool