Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Umi Wasingah Menitipkan Harapan lewat Pendidikan Anak-Anaknya

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by jejakpersepsi@gmail.com
Dok. Adelia Rahma Wati

BANJARNEGARA, SUDUTNALAR – Di tempat jualannya, Umi Wasingah menata berbagai jajan untuk pembeli yang datang. Anak-anak sekolah yang melintas dan anak-anak yang hendak mengaji menjadi bagian dari pembeli yang ditemuinya sehari-hari. Pada usia 61 tahun, Umi masih menjalani rutinitas berjualan yang sudah lama akrab dengan kehidupannya.

“Sudah biasa jualan sih, ada sepi ada rame,” ujar Umi.

Bagi Umi, berjualan bukanlah pekerjaan yang baru dimulai ketika anak-anaknya dewasa. Sejak membangun keluarga bersama Arif Miswadi pada 1984, ia telah menjalani berbagai pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia pernah berjualan pecel dan kupat, membuat keripik pisang, hingga berjualan di kantin sekolah bersama suaminya. Pekerjaan-pekerjaan itu terus berjalan seiring dengan bertambahnya usia anak-anaknya dan kebutuhan mereka untuk bersekolah.

Namun, ada satu bagian dari pendidikan yang justru terhenti dalam kehidupan Umi. Ia hanya menyelesaikan pendidikan hingga MTsN 2 Banjarnegara. Padahal, ketika masih bersekolah, Umi memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi guru agama. Ia menyukai bahasa Arab dan hadis, bahkan merasa dekat dengan pelajaran bahasa Arab karena kerap menggunakannya ketika berbicara dengan gurunya. Keinginan untuk melanjutkan sekolah tetap ada, tetapi keadaan membuat pendidikan itu berhenti sampai tingkat madrasah tsanawiyah.

Setelah tidak lagi bersekolah, Umi sempat menghabiskan waktunya dengan membantu sang bibi memetik melati. Keinginan yang tidak tercapai itu masih ia ingat hingga sekarang. Ia pernah membayangkan dirinya menjadi seorang guru, tetapi pada akhirnya menjalani kehidupan sebagai seorang ibu yang mendampingi anak-anaknya tumbuh dan bersekolah. Dari rumah, Umi mulai mengambil peran yang dulu ingin ia jalani di ruang kelas.

Ketika anak-anaknya masih kecil, Umi mengajarkan mereka membaca Al-Qur’an, hafalan surah-surah pendek, belajar huruf hijaiyah, hingga pengetahuan dasar seperti membaca dan mengenal huruf abjad. Setiap sore, setelah mandi dan salat Asar, Umi mendampingi mereka belajar. Ketika mengajak anak-anaknya salat, ia biasa mengatakan, “Mama salat, anak-anak juga harus ikut salat.” Pendidikan yang diberikan Umi di rumah berjalan bersamaan dengan sekolah yang mereka tempuh.

Tahun-tahun berlalu dan anak-anak Umi mulai menentukan jalannya masing-masing. Dian memilih melanjutkan pendidikan ke Unnes dan mengambil Teknik Sipil. Aji menyelesaikan pendidikan di SMK sebelum memilih bekerja. Faizal melanjutkan pendidikan Teknik Informatika di Unsiq sambil bekerja dan memenuhi sebagian besar kebutuhan kuliahnya sendiri. Sementara itu, Laeli menempuh Ilmu Hukum di Unnes melalui KIP-K yang kini telah menyelesaikan perkuliahannya, tinggal menunggu wisuda.

Dari empat anak tersebut, tiga di antaranya berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Pencapaian itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Umi sebagai ibu. Ia sendiri tidak pernah kembali ke bangku sekolah setelah menyelesaikan MTs, tetapi anak-anaknya justru melangkah lebih jauh dalam pendidikan. Keempatnya memang memilih jalan yang berbeda, tetapi pendidikan tetap menjadi bagian dari perjalanan keluarga tersebut.

Salah satu momen yang kembali membuka ingatan Umi tentang pendidikan terjadi ketika Laeli mengajaknya berkeliling fakultas hukum yang berada di Unnes. Kampus yang menjadi tempat Laeli menyelesaikan pendidikan Ilmu Hukum itu ternyata membawa Umi pada kenangan tentang dirinya sendiri. Di sana, ia teringat pada keinginannya ketika masih menjadi pelajar, yaitu melanjutkan sekolah dan menjadi guru agama. Kenangan itu membuat Umi menangis.

Kini, keinginan itu memang tidak lagi mungkin diwujudkan seperti yang dahulu ia bayangkan. Umi tidak berdiri di depan kelas sebagai guru agama dan tidak melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Ia justru masih berada di tempat jualannya, menjalani pekerjaan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya selama bertahun-tahun.

Akan tetapi, ketika tiga dari empat anaknya telah menempuh perguruan tinggi, ada bagian dari harapan Umi yang menemukan jalannya sendiri. Ia mungkin tidak pernah sampai menjadi guru seperti yang diimpikannya sejak muda. Namun, jauh sebelum anak-anaknya mengenal ruang kuliah, Umi telah menjadi tempat pertama mereka belajar. Mimpi yang dahulu terhenti di bangku MTs itu tidak benar-benar hilang. Ia tumbuh melalui anak-anak yang pernah ia ajari untuk terus belajar.

Oleh: Adelia Rahma Wati

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme