SELASA, 15 SEP 2026

BREBES, sudutnalar.com. Tradisi selapanan masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai bentuk syukuran atas kelahiran bayi. Tradisi ini biasanya dilaksanakan ketika bayi berusia 35 hari atau satu selapan. Selapanan menjadi salah satu tradisi keluarga yang masih dipertahankan secara turun-temurun.
Dalam pelaksanaannya, keluarga mengadakan acara syukuran yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Salah satu rangkaian utama dalam tradisi tersebut adalah pencukuran rambut bayi.
Prosesi tersebut biasanya disertai doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar bayi selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan kehidupan yang baik.
Salah satu orang tua bayi yang mengadakan selapanan mengatakan bahwa tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran anak sekaligus untuk mempertahankan tradisi keluarga.
“Kami mengadakan selapanan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran anak. Tradisi ini juga sudah dilakukan sejak dulu oleh keluarga, jadi kami ingin tetap melestarikannya,” ujar habibi selaku orang tua bayi.
Sebelum acara dimulai, keluarga mempersiapkan berbagai keperluan, seperti tempat, makanan, serta perlengkapan untuk prosesi pencukuran rambut. Keluarga dan kerabat yang hadir kemudian mengikuti rangkaian acara dan doa bersama.
Selain sebagai bentuk syukuran, selapanan juga menjadi momen bagi keluarga untuk berkumpul dan mempererat hubungan dengan kerabat. Tradisi ini sekaligus memiliki nilai sosial karena dapat memperkuat hubungan antarkeluarga dan masyarakat sekitar.
Tradisi selapanan juga menjadi salah satu cara masyarakat mengenalkan budaya Jawa kepada generasi berikutnya.Meskipun pelaksanaannya dapat berbeda di setiap keluarga, inti tradisi tetap berupa ungkapan syukur dan doa bagi bayi.
Dengan masih dilaksanakannya tradisi selapanan, masyarakat turut menjaga keberadaan budaya Jawa agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Tradisi tersebut diharapkan dapat terus dikenalkan dan diwariskan kepada generasi muda melalui lingkungan keluarga dan masyarakat.
OLEH-SAHNA NAELY YAZIDA
EDITOR-LINDA AGUSTRIANA
