sudutnalar.com, 09 Oktober 2026
Oleh: Zahira Admira Mafaz

BREBES, SUDUTNALAR-Di pagi hari ketika sebagian orang belum memulai aktivitasnya, Sawin, pria berusia 75 tahun telah bangun untuk mengawali hari. Rumah yang ditempati Sawin bersama istrinya berada masuk di dalam sebuah gang. Pepohonan yang tumbuh di sekitar rumah membuat udara pagi terasa sejuk. Dalam suasana rumah yang sunyi, ia memberi makan ayam-ayam peliharaannya, lalu membersihkan diri sebelum mengumandangkan azan dan menunaikan salat Subuh di masjid. Setelah menyelesaikan rutinitas paginya, Sawin bersiap mengayuh becaknya menuju pasar.
Selama kurang lebih 30 tahun, Sawin telah menjalani rutinitas tersebut. Usia yang terus bertambah tidak membuatnya berhenti bekerja. Sesampainya di pasar, suasana yang semula tenang perlahan berubah menjadi ramai. Aktivitas yang dilakukan masyarakat yaitu kegiatan jual beli berlangsung seiring berjalannya waktu. Sawin biasanya memarkirkan becaknya sambil menunggu penumpang. Ia tidak selalu berkeliling untuk mencari pelanggan karena sebagian besar penumpang justru datang mencarinya.
Hingga kini, Sawin memiliki sekitar tiga hingga lima pelanggan tetap yang biasanya menggunakan jasanya. Ia biasanya mengantar mereka atau membawa barang belanjaan dari pasar ke tempat yang dituju. Jarak yang ditempuh umumnya sekitar dua hingga tiga kilometer.
“Biasanya sih mengantar barang belanjaan,” ujar Sawin.
Ketika penumpang belum datang atau sedang sepi, Sawin biasanya menyambi menjadi tukang parkir di pasar. Pekerjaan tersebut dilakukannya sambil menunggu orang-orang yang memerlukan jasanya sebagai tukang becak.
Selama bekerja menjadi tukang becak di pasar, Sawin merasa dekat dengan orang-orang di sana. Karena usianya yang sudah lanjut, tidak sedikit pedagang maupun pembeli menganggapnya sebagai sosok yang dihormati atau dituakan. Kedekatan tersebut terbentuk karena hampir setiap hari Sawin berada dan berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan yang sama. Selama kurang lebih 30 tahun menjadi tukang becak, Sawin juga mengaku tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari pelanggannya. Keberadaannya di pasar selama bertahun-tahun inilah yang membuat banyak orang mengenal Sawin sebagai sosok yang telah lama menjadi bagian dari lingkungan pasar.
Meski begitu, pekerjaan ini tidak selalu berjalan mudah. Terkadang ban becaknya bocor, kemacetan di jalan, serta kondisi jalan yang tidak rata. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri, terlebih usianya yang sudah lanjut. Sawin juga pernah mengalami kejadian ketika becak yang menjadi sumber penghasilannya dicuri saat sedang beristirahat. Peristiwa tersebut membuat perasaannya saat itu sedih dan bingung harus berbuat apa. Namun, agar dapat bekerja kembali, Sawin akhirnya membeli becak baru dengan bantuan anak-anaknya.
Selain mengalami persoalan dalam pekerjaan, Sawin pun terkadang menghadapi masalah dalam kehidupan keluarganya. Permasalahan tersebut membuatnya merasa sedih dan kesulitan berkonsentrasi ketika sedang bekerja. Ketika merasa lelah, biasanya Sawin memilih untuk beristirahat di warung untuk sekadar menikmati gorengan atau tidur siang, baik di pasar, masjid, maupun pulang ke rumah.
Seiring berjalannya waktu, pasar yang awalnya sepi perlahan menjadi ramai. Udara yang awalnya sejuk mulai terasa panas karena aktivitas pasar semakin ramai dan matahari yang mulai terik.
Penghasilan dari pekerjaannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama istrinya. Sesekali, ia juga memberikan uang jajan kepada cucu-cucunya. Di usianya yang sekarang sudah 75 tahun, Sawin tetap memilih untuk bekerja selagi tubuhnya masih kuat. Tiga puluh tahun mengayuh becak telah menjadi bagian dari kesehariannya.
“Selama masih kuat, akan terus bekerja untuk istri dan cucu,” kata Sawin.
