SudutNalar.com, 23 September 2026

(Foto: Dokumen Pribadi)
PURWOKERTO, SudutNalar – Tidak lolos menjadi dokter tidak membuat Farida berhenti mengejar cita-citanya. Dosen Fisiologi Hewan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) itu memilih menekuni Biologi setelah tidak lolos seleksi kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM). Pilihan tersebut kemudian membawanya menjadi dosen di Unsoed sejak 1988.
Farida menceritakan perjalanan tersebut saat ditemui di Fakultas Biologi Unsoed, Senin (21/9/2026). Keinginannya menjadi dokter muncul setelah lulus SMA. Saat itu, ia mendaftar ke Fakultas Kedokteran UGM melalui Program Perintis I, tetapi tidak lolos seleksi.
Meski tidak lolos masuk kedokteran, Farida tidak menyerah. Ia memilih Biologi karena menurutnya bidang tersebut masih berkaitan dengan dunia kedokteran.
“Dulu belum ada informasi seluas sekarang,” ujarnya.
Saat SMA, Farida juga tidak mengikuti les tambahan untuk mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. Setelah tidak lolos masuk kedokteran UGM, ia memilih melanjutkan pendidikan di Program Studi Biologi Unsoed melalui jalur Perintis III.
Keputusan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Farida di bidang Biologi. Menurutnya, Biologi memberikan ruang lebih luas untuk mempelajari berbagai jenis makhluk hidup.
“Jika kedokteran fokus mempelajari manusia secara menyeluruh, Biologi mempelajari ranah yang lebih luas, termasuk berbagai jenis hewan,” katanya.
Dalam perjalanan pendidikannya, Farida menyelesaikan S1 Biologi di Unsoed, S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB), dan S3 di Unsoed. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia mengabdikan diri sebagai dosen di Unsoed dan terus menekuni bidang fisiologi hewan hingga saat ini.
Perjalanan Farida tidak terlepas dari peran kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru. Ia menyebut orang tuanya sebagai sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan pendidikannya.
“Orang tua saya bilang tidak punya warisan, hanya bisa memberikan ilmu. Itu yang membuat saya harus terus mencari ilmu,” tuturnya.
Selama menjalani karier sebagai dosen, Farida mengaku tidak pernah menyerah. Ketika aturan bagi dosen berubah dan kenaikan pangkatnya sempat tertunda, ia memilih tetap menjalani proses tersebut.
“Hidupnya mengalir, jadi dinikmati saja,” katanya.
Farida berpesan kepada mahasiswa agar mensyukuri kesempatan untuk berkuliah. Menurutnya, masih banyak orang yang ingin menjadi mahasiswa, tetapi belum memiliki kesempatan.
“Menjadi mahasiswa itu privilege, jadi harus disyukuri. Di luar sana banyak yang ingin duduk di bangku kuliah,” ujarnya.
Menurut Farida, pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan nilai, tetapi juga membentuk sikap dan tanggung jawab.
Oleh: Nesa Aprillia
Editor: Khalisa Anti Meilani
