Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Tetap Aktif di Usia Senja, Kisah Pak Casmito Menggerakkan Paguyuban Wreda Laras

Posted on September 23, 2026 by dava hanif

Selasa, 22 September 2026

Casmito, pimpinan Paguyuban Wreda Laras (sumber foto:Sabti ainnur)

Bantarbolang – sudutnalar.com, Di tengah perkembangan zaman modern dan sepinya minat terhadap pelestarian seni tradisional, alunan gamelan dan lantunan tembang macapat yang bersumber dari ayat suci Al-Qur’an masih bergema di Bantarbolang. Di balik kelestarian kesenian tersebut, ada seorang pria lanjut usia yang tak kenal pamrih merawat warisan budaya. Meski telah lanjut usia, Casmito tetap aktif menjalankan peran sebagai pimpinan Paguyuban Wreda Laras di Bantarbolang, Pemalang. 

Paguyuban Wreda Laras  berawal dari perkumpulan pensiunan Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) yang bergotong-royong membeli seperangkat gamelan laras pelog dan slendro. Tokoh pendahulunya, seperti H. Rohan, kemudian mendirikan paguyuban macapatan Mardi Budoyo Kalamullah pada 19 Desember 2004 yang mengolah inti sari surat Al-Fatihah serta surat pendek juz ‘Amma ke dalam tembang Dhandanggula. Sepeninggalan para tokoh perintis, amanah kepemimpinan kini berada di pundak Casmito bersama rekan-rekannya. “Pendiri yang utama itu H. Rohan, saya hanya penerus. Saya yang menjaga dan memeliharanya, kalau tidak saya jaga nanti bubar,” ungkap Casmito menceritakan tanggung jawab yang diembannya.

Foto beberapa anggota Paguyuban Wreda Laras (sumber foto: Sabti ainnur)

Bagi Casmito, kecintaan dan ketenangan jiwa menjadi alasan utama ia tetap teguh mengurus paguyuban yang menaungi karawitan, macapat, hingga tari ini. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan gending gamelan dan tembang Jawa, sehingga aktivitas berkesenian ini bukan lagi menjadi beban,  melainkan hiburan yang bernilai ibadah. Baginya, Paguyuban Wreda Laras bukan sekadar tempat untuk menyalurkan hobi, melainkan wadah silaturahmi sekaligus sarana berdakwah dan melestarikan budaya adiluhung yang bersumber dari ajaran agama.

(sumber foto: Sabti ainur)

Bagi Casmito, menjalankan paguyuban tidak selalu mudah. Rasa lelah sering kali hadir bukan karena usia, melainkan karena tantangan menggerakkan partisipasi anggota, ketiadaan dana pembina dari pihak luar, hingga kendala teknis seperti pelatih yang jatuh sakit  dan tempat latihan  yang selalu berpindah-pindah. Namun, ketulusan hati dan tekad untuk tidak membiarkan seni warisan leluhur punah membuatnya terus melangkah. Ia bahkan rela merogoh dompet pribadi demi kelancaran kegiatan anggota tanpa pernah membebani dengan iuran. “Saya tidak punya rasa untuk mengeluh, saya malah senang. Saya tidak masalah keluar uang, yang penting paguyuban ini jangan sampai bubar. 

Dampak keberadaan Paguyuban Wreda Laras pun dirasakan oleh masyarakat dan lingkungan sekitar. Selain rutin latihan setiap dua minggu sekali dan mengisi hiburan di  hajatan warga, paguyuban ini secara konsisten melatih karawitan dan macapat bagi siswa SD hingga SMP di Bantarbolang. Anak-anak binaan mereka bahkan kerap menorehkan prestasi tingkat kabupaten. Ruang karawitan ini berhasil menjadi jembatan lintas generasi, tempat di mana kearifan para sesepuh diteruskan kepada anak muda.    

Menurut Casmito, usia bukan alasan untuk berhenti melakukan kegiatan dan menjaga hubungan dengan orang lain. Dari kehidupan para anggota Wreda Laras yang rata-rata telah pensiun menjadi pelajaran bagi generasi muda tentang keikhlasan, ketelatenan, dan tanggung jawab sosial. Belajar seni tradisi tidak boleh setengah-setengah atau semata-mata berorientasi pada materi, melainkan butuh komitmen dan kedisiplinan tinggi.

Semangat Casmito menjelaskan bahwa keterbatasan fisik dan usia senja bukanlah halangan untuk terus berkontribusi bagi kebudayaan bangsa. Ia berharap generasi muda tidak ragu untuk mendekat, belajar, dan mengambil alih sebelum kesenian tradisi ini benar-benar kehilangan  penerusnya.

“Saya siap menghimpun, apalagi untuk generasi muda. Tapi mencari anaknya yang susah. Jangan sampai berhenti, teruskan. Jikalau ada bibit muda yang pintar, saya malah senang untuk mendukung,” pungkas Casmito penuh harap.

Penulis: Sabti Ainnur Rahmah

Editor: Salamah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme