Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Terkena Petir di Tengah Laut: Lika-Liku Hidup Pak Basuki Menjemput Keikhlasan

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Hanunah Mumtaz

Oleh:Blandina wabiser

Sumber Foto: Blandina wabiser

CILACAP, SUDUTNALAR – Hembusan angin laut dini hari terasa menusuk hingga ke tulang di sekitar pesisir pantai. Di antara deretan perahu kayu yang berayun pelan diterpa ombak kecil, tampak seorang nelayan berusia lanjut berdiri sambil memegang pengayun perahunya. Raut wajahnya yang menunjukkan perjalanan panjang kehidupan memancarkan keteguhan dan ketabahan seorang lelaki yang telah puluhan tahun mengarungi laut dan menjalani pahit manis kehidupannya

Ia adalah Pak Basuki (72), seorang nelayan senior yang telah menggantungkan napas hidupnya di laut sejak puluhan tahun silam. Namun, nama Basuki sebenarnya bukanlah nama lahirnya. Sebelum takdir membawanya selamat dari musibah dahsyat tersambar petir di tengah laut, ia terlahir dengan nama Herianto.

“Nama saya dulu Herianto. Setelah kena petir di tengah laut, diganti jadi Basuki. Satu perahu ada empat orang, saya yang kena duluan. Tapi alhamdulillah, Allah masih memberi umur panjang dan kesehatan sampai sekarang,” kenang Pak Basuki sambil menatap lepas ke arah ufuk laut.

Perjalanan hidup Pak Basuki bukanlah garis lurus yang mudah. Terlahir dari seorang ayah yang berjuang membela negara dengan bambu runcing dan berpangkat, hidupnya justru penuh ujian sejak kecil. Setelah ibunya meninggal dunia sewaktu ia masih balita, kehidupan keluarganya tak lagi sama. Ia terlantarkan hingga harus mengembara dan bertahan hidup sendiri.

“Saya dulu sekolah masih pakai sabak dan grip, belum ada buku. Orang tua saya berpangkat, tapi saya tidak mau bergantung pada hal-hal duniawi. Saya pernah kelaparan sampai terpaksa mencuri ketela karena tidak punya apa-apa,” tuturnya kenang masa lalu.

Sebelum memutuskan menjadi nelayan, Pak Basuki sempat berjualan es dawet cawu. Namun, hasil jualan es tersebut tak cukup untuk membiayai masa depan anak-anaknya. Demi masa depan buah hatinya, ia memutuskan untuk menerjang ketakutannya terhadap laut  bahkan melupakan rasa mabuk laut yang sempat menyiksanya di awal-awal melaut. Semua rupiah logam yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit berhasil mengantarkan anak-anaknya menyelesaikan pendidikan.

Bagi Pak Basuki, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang belajar tentang kehidupan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta. Setiap hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpi, ia sudah berlayar sekitar pukul 02.30 WIB dini hari untuk menunaikan salat Subuh di atas perahunya yang bergoncang.

Puluhan tahun mengarungi lautan membuatnya hafal setiap seluk-beluk perubahan alam. Saat cuaca buruk dan kabut tebal menyelimuti pandangan bak burung yang terkurung kain hitam, ia tak mengandalkan navigasi modern, melainkan membaca tanda-tanda alam.

“Kalau malam gelap dan tidak kelihatan apa-apa, saya pakai alun (gelombang besar) sebagai kompas untuk pulang. Alun besar pasti larinya ke barat. Orang sekarang banyak yang tidak tahu air, jadi sering kebelasan. Sering saya tolong di tengah laut,” jelasnya penuh percaya diri.

Ketangguhan Pak Basuki telah diuji oleh berbagai musibah mengerikan: mulai dari diterjang badai, tenggelam di laut lepas, dihantam tsunami, hingga serangan jantung di tengah pelayaran. Namun, seluruh pengalaman pahit itu tak pernah menyurutkan langkahnya.

“Kalau kerja di darat kadang ada, kadang tidak ada. Kalau di laut, asal kita ‘gandulan’ (bergantung) sama Allah, insya Allah berangkat selamat, pulang selamat. Yang penting husnuzan dan bekerja lurus seperti garisan, jangan seperti bambu yang semakin tinggi semakin melengkung,” pesannya.

Di balik kulit tebal dan fisiknya yang tetap bugar di usia 72 tahun, Pak Basuki menyimpan hati yang sangat dermawan. Hasil tangkapan ikan yang ia peroleh tak melulu ia nilai dengan angka rupiah. Sebagian dari rezekinya selalu ia bagikan kepada tetangga sekitar. Prinsip berbagi itu bahkan ia terapkan pada pohon buah-buahan di pekarangan rumahnya yang dibagikan secara gratis kepada siapa saja yang membutuhkan.

Mengingat masa kecilnya yang pernah kelaparan, setiap hari raya ia selalu menyiapkan amplop berisi uang tunai untuk dibagikan kepada anak-anak kecil di lingkungan tempat tinggalnya.

“Janganlah kalau melihat ikan yang dilihat cuma uang. Berbagilah. Dulu saya waktu kecil sering minta-minta sama orang, jadi saya selalu ingat itu. Biar habis satu juta setiap lebaran tidak masalah, nanti rezeki bisa dicari lagi. Yang penting diberi kesehatan,” ucapnya tulus.

Kini, di usianya yang telah berkepala tujuh, Pak Basuki tetap memilih berlayar. Bahtera kayu dan gemuruh ombak telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jiwanya sebuah bukti keteguhan seorang ayah dan ketulusan abadi seorang hamba yang terus berjuang tanpa pernah mengenal kata lelah.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme