Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Tak Ingin Hilang, Purwanti Jaga Tari Topeng Endel Tetap Hidup

Posted on Oktober 9, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Penulis : Cintya Auliyanti

(Dok. Cintya Auliyanti)

TEGAL, SudutNalar – Berbagai alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Tari Topeng Endel tampak berada di sanggar budaya yang dikelola Purwanti. Perlengkapan kesenian tersebut menjadi bagian dari ruang tempat Purwanti merawat warisan budaya keluarganya. Dari tempat itu pula, cerita tentang Tari Topeng Endel yang telah melewati empat generasi terus hidup.

Di Desa Slarang Lor, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, Tari Topeng Endel bukan sekadar gerakan tari yang diwariskan dari masa lalu. Bagi Purwanti, tari tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab untuk menjaga peninggalan nenek moyang agar tidak berhenti pada satu generasi.

Purwanti merupakan generasi keempat dalam keluarganya yang meneruskan kesenian Tari Topeng Endel. Sebelum sampai kepadanya, kesenian itu telah melewati tiga generasi perempuan dalam keluarganya. Generasi pertama adalah Bu Darim, kemudian diteruskan oleh Mbak Warmi, lalu Sawitri, ibu Purwanti.

“Pertama namanya Bu Darim, terus keduanya Mbak Warmi, terus tiganya ini ibu saya, Sawitri,” ujar Purwanti ketika menceritakan garis pewarisan kesenian tersebut.

Kini, Purwanti tidak hanya menjadi penerus keempat. Ia juga berharap kesenian itu kelak diteruskan oleh anak perempuannya. Baginya, keberlanjutan Topeng Endel tidak berhenti pada dirinya.

Tari Topeng Endel sendiri telah dikenal dalam keluarganya sejak masa nenek moyang. Purwanti menyebut kesenian tersebut berasal dari keluarganya dan telah diwariskan secara turun-temurun. Ia mengenal Topeng Endel dari lingkungan budayanya sendiri.

“Dari budaya nenek saya sendiri, dari Slarang Lor yang diturunkan ke saya,” ujar Purwanti.

Menurut pengetahuan yang diterimanya dari generasi sebelumnya, Tari Topeng Endel pada masa lalu memiliki fungsi yang berbeda. Pada zaman Mbak Warmi, tari tersebut pernah digunakan sebagai hiburan dalam pesta sunatan. Sementara itu, Purwanti juga mendapat cerita bahwa kesenian tersebut berkaitan dengan penyambutan kerajaan.

Bagi Purwanti, mempelajari Topeng Endel bukan semata-mata karena kewajiban sebagai penerus keluarga. Ada keinginan dari dalam dirinya sendiri untuk tetap mempelajari kesenian tersebut.

Keinginan tersebut kemudian diwujudkan dengan tetap menjaga dan meneruskan Tari Topeng Endel melalui sanggar budaya yang dikelolanya. Sanggar tersebut menjadi ruang bagi Purwanti untuk mempertahankan kesenian yang telah diwariskan kepadanya sekaligus menjaga agar tradisi tersebut tetap memiliki keberlanjutan.

“Enggak mau kesenian orang-orang terdahulu saya itu hilang, harus ada penerusnya terus,” tuturnya.

Kekhawatiran akan hilangnya kesenian menjadi alasan yang terus mendorong Purwanti untuk bertahan. Ia ingin kesenian Jawa yang menjadi bagian dari keluarganya tetap berlanjut dan tidak sekadar menjadi cerita dari masa lalu.

Salah satu hal yang membuat Topeng Endel memiliki ciri tersendiri adalah penggunaan topeng dengan karakter dan warna tertentu. Purwanti menjelaskan bahwa terdapat beberapa jenis karakter topeng, di antaranya Patih, Krisna, Angklana, dan Layapan. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda.

Topeng Krisna, misalnya, identik dengan warna merah. Sementara itu, terdapat pula karakter Layapan yang menggunakan warna merah muda. Menurut Purwanti, warna dan karakter topeng tersebut dapat menggambarkan watak tokoh yang diperankan.

Perbedaan karakter juga terlihat dari gerak tari. Purwanti menggambarkan karakter Krisna dengan gerakan yang berbeda dengan tokoh Panji. Jika Krisna memiliki gerakan yang lebih kuat, Panji digambarkan lebih kalem, menyerupai karakter Arjuna.

Di antara berbagai karakter tersebut, Topeng Endel memiliki kekhasannya sendiri. Purwanti menjelaskan bahwa Endel merupakan tari topeng yang khusus diperankan oleh perempuan. Topeng dan gerakannya menjadi bagian dari identitas kesenian yang terus ia pelajari dan pertahankan.

Empat generasi telah menjadi bagian dari perjalanan Topeng Endel dalam keluarga Sri Purwanti. Dari Bu Darim, Mbak Warmi, Sawitri, hingga dirinya, sebuah kesenian terus berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya.

Sebab bagi Purwanti, menjadi penerus bukan hanya soal meneruskan sebuah tarian. Ada warisan budaya, ingatan keluarga, dan rasa memiliki yang ikut dititipkan di dalamnya. Selama masih ada generasi yang bersedia belajar dan meneruskannya, Topeng Endel tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk hidup di masa depan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme