
Sumber:Dokumen Pribadi Sri Budi Utami
BANJARNEGARA, SudutNalar, 19 September 2026—Bagi Sri Budi Utami belajar tidak pernah berhenti di bangku sekolah. Sejak kecil, kegemarannya membaca dan tekad kuat untuk terus menempuh pendidikan telah menjadi napas dalam perjalanan hidupnya. Membawanya bertransformasi dari seorang bidan desa di tanah rantau hingga menjadi penggerak mutu kesehatan nasional.
Sri memulai pendidikannya melalui Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Setelah menyelesaikan pendidikan kebidanan, ia mengawali pengabdian sebagai bidan desa. Ia kemudian mengikuti suaminya ke Kalimantan dan bekerja sebagai bidan di Puskesmas Pangkalan Lada selama sekitar 18–19 tahun.
Kepindahan ke Kalimantan menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan Sri. Ia berangkat dalam kondisi hamil enam bulan dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Setelah melahirkan, ia tetap mengikuti diklat prajabatan sebagai bagian dari proses menjadi pegawai negeri sipil.
“Di situlah awal mula perjuangan hidup,” ujar Sri menceritakan masa awal pengabdiannya di Kalimantan.
Namun, keterbatasan geografis dan rutinitas tidak membuat semangat belajarnya padam. Keinginan besar untuk memperluas kapasitas diri membawanya meraih beasiswa dari Kementerian Kesehatan untuk melanjutkan pendidikan S-1 di Universitas Indonesia. Tak berhenti di situ, beberapa tahun berselang, ia kembali menantang dirinya untuk menempuh jenjang magister di Universitas Gadjah Mada.
Untuk memenuhi persyaratan masuk tes UGM, Sri harus mengikuti tes TOEFL dan Tes Potensi Akademik. Ia mempersiapkan diri dalam waktu singkat dan sempat menerima keraguan dari orang lain. Namun, usaha tersebut membuahkan hasil. Ia berhasil memenuhi persyaratan dan menyelesaikan pendidikan magisternya dengan prestasi akademik yang baik.
“Saya selalu punya keyakinan bahwa ketika kita berikhtiar secara maksimal, tidak ada yang tidak mungkin,” katanya.
Ilmu dan pengalaman yang dimiliki Sri kemudian membawanya menjalani berbagai peran di bidang kesehatan. Ia pernah dinobatkan sebagai Bidan Teladan tingkat kabupaten sekaligus masuk dalam jajaran nominasi tingkat provinsi. Puncaknya, ia turut terlibat dalam persiapan akreditasi Puskesmas Pangkalan Lada hingga puskesmas tersebut meraih predikat akreditasi paripurna terbaik nasional pada 2016.

Sumber:Dokumen Pribadi Sri Budi Utami
Setelah itu, Sri dipercaya menjadi surveyor akreditasi dan mengikuti pelatihan di Jakarta. Pengalaman tersebut kemudian mendukung perannya ketika dipercaya menjadi kepala puskesmas.
Meski memiliki berbagai pencapaian, Sri memaknai profesi kesehatan bukan sekadar pekerjaan atau jalan untuk memperoleh jabatan. Baginya, ilmu yang dimiliki harus digunakan untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
“Profesi kesehatan itu bisa menjadi ladang ibadah. Saya bekerja untuk menolong orang dengan ilmu saya,” tuturnya.
Melalui perjalanan hidupnya, Sri ingin menyampaikan kepada generasi muda agar tidak mudah membatasi diri. Menurutnya, kegagalan tidak selalu berarti akhir dari perjuangan, melainkan bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang diarahkan menuju jalan yang berbeda.
“Jangan pernah bilang tidak mungkin, karena dunia ini penuh kemungkinan jika Tuhan berkehendak,” pesannya.
Penulis: Fajriati Fatwa Islamiyati | Editor: Hanunah Rizqi Mumtaz
