sudutnalar.com, 29 September 2026

BLITAR, SUDUTNALAR — Coba bayangin sekolah yang dulunya dindingnya kusam, terus sekarang berubah total jadi putih bersih dengan mural gunung, pohon-pohon hijau, sama balon udara warna-warni di terasnya. Itu yang kejadian di SLB Budi Mulia, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Bangunan memanjang satu lantai, dan tanah masih kelihatan berdebu tanda kalau proses pembangunan baru aja kelar.
Sekilas dari luar sih kayak sekolah biasa aja. Atap genteng cokelat, list biru muda di pinggir dinding, papan nama gede tulisannya “SLB BUDI MULIA” di depan, plus bendera merah putih yang berkibar di halaman. Nggak ada yang mewah, tapi justru itu yang bikin pas buat sekolah desa yang baru aja bangkit dari kondisi lamanya.
Sekolah ini isinya anak-anak berkebutuhan khusus, dan sebelum direnovasi katanya kondisinya jauh dari layak. Atap bocor, dinding retak, ruang kelasnya sempit banget buat nampung siswa dengan kebutuhan belajar yang beda-beda. Renovasi besar-besaran ini bisa kejadian gara-gara Ronald Foundation yang mau biayain, dan itu tercatat di prasasti marmer yang dipasang di pintu masuk sejak Juni 2024. Isinya sederhana aja: nama sekolah, lokasi kecamatan sama kabupaten, logo yayasan, dan bulan peresmiannya. Nggak ada seremoni heboh yang kelihatan di situ, cuma penanda kalau proyeknya udah kelar.
Masuk ke salah satu ruang kelasnya, dinding hijau muda nyala banget dipadu jendela gede yang bikin cahaya matahari masuk tanpa perlu lampu tambahan di siang hari. Meja kayu kecil berjejer rapi, lemari loker nempel di sudut buat naruh barang siswa. Di rak sudut lain ada boneka sama mainan edukatif yang taruh bareng tas ransel anak-anak campuran ruang belajar dan ruang main yang emang khas buat sekolah anak berkebutuhan khusus. Sederhana, tapi beda jauh sama kondisi sebelumnya yang katanya emang nggak layak pakai.
Soal cahaya alami ini ternyata bukan cuma buat gaya-gayaan doang. Buat sebagian anak yang punya kebutuhan sensorik tertentu, cahaya yang kurang atau malah nyilaukan dari lampu neon bisa ganggu kenyamanan mereka belajar. Jendela lebar yang ngasih cahaya matahari langsung jadi opsi yang lebih ramah, sekalian ngirit biaya listrik harian sekolah yang emang selama ini serba pas-pasan.
Pendidikan inklusif tuh emang bukan perkara gampang, apalagi di daerah kayak Garum yang akses ke sekolah luar biasanya masih terbatas dan sering banget gantung ke bantuan pihak luar. Banyak SLB di daerah non-perkotaan jalan dengan anggaran pas-pasan, gurunya merangkap banyak peran, dan bangunannya jarang direnovasi besar dalam waktu lama. Kalau nggak ada dukungan kayak gini, banyak sekolah sejenis terpaksa jalan apa adanya bertahun-tahun, nunggu giliran yang belum tentu datang.
Ada semacam pesan tersirat dari renovasi SLB Budi Mulia ini: sekolah buat anak berkebutuhan khusus tuh harusnya nggak jadi prioritas paling belakang soal infrastruktur pendidikan. Selama ini sekolah reguler kan sering lebih dulu dapet perhatian pemerintah atau donatur, sementara SLB harus puas dengan sisa anggaran atau nunggu bantuan yang datangnya nggak pasti.
Sekarang dengan fasad baru dan ruang kelas yang udah lebih layak, guru-guru di SLB Budi Mulia jadi punya modal tambahan buat jalanin proses belajar-mengajar. Ruang yang lebih terang dan lega ini emang bukan solusi ajaib buat semua masalah pendidikan inklusif, tapi setidaknya ini langkah nyata yang bisa langsung dirasain siswa tiap hari mereka dateng ke sekolah. Apakah SLB lain di sekitar situ bakal ikutan dapet renovasi serupa? Itu cerita lain yang belum tentu kejawab dalam waktu dekat.
Penulis : Mohammad Faizal Ramadhani
Penyunting : Bakhrie Muhammad Noor
