Penulis: Silvi Ayu Wulandari| sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

(Foto: Dok. Silvi Ayu Wulandari)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Setiap hari pukul tujuh pagi, arus lalu lintas Kota Purwokerto mulai dipadati oleh hiruk-pikuk mobilitas warga, Slamet Rohmadi (70) sudah mengayuh sepeda tua miliknya menembus jalanan kota. Warga Desa Karangklesem, RT 01 RW 08, Kecamatan Purwokerto Selatan ini rutin menempuh jarak sejauh 8 kilometer dari rumahnya menuju kawasan Purwokerto Timur untuk bekerja. Dengan total jarak perjalanan pulang-pergi mencapai 16 kilometer setiap hari, pria berusia 70 tahun tersebut selalu menjalani perannya sebagai penjaga dan pekerja harian di sebuah indekos.
Perjalanan lintas wilayah dari Purwokerto Selatan menuju Purwokerto Timur tersebut rutin ia jalani dengan menghabiskan waktu sekitar 45 menit kayuhan sepeda untuk satu kali perjalanan. Di usianya yang telah lanjut, Slamet memilih untuk terus aktif bekerja ketimbang hanya berdiam diri di rumah. Bagi Slamet, menjaga tubuh tetap bergerak adalah cara menjaga kesehatan dan kebugaran di usia tua.
​”Dari rumah saya di Karangklesem sampai ke tempat kerja di Purwokerto Timur itu menempuh jarak sekitar 8 kilometer. Setiap hari berangkat jam 7 pagi, pulang sore, mengayuh sepeda kira-kira 45 menit,” tutur pria kelahiran 1956 tersebut saat diwawancarai di tempat kerjanya.
​Sepeda ontel tua yang menemaninya setiap hari bukanlah barang baru. Alat transportasi tepercaya itu telah menjadi saksi bisu perjuangannya sejak anak sulungnya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kini, anak sulungnya tersebut telah tumbuh dewasa dan berusia 45 tahun, namun sepeda tua itu tetap kokoh mengantarnya mengais rezeki sehari-hari. Kendaraan sederhana ini menyimpan banyak kenangan dan terus menjadi andalannya untuk menembus jalanan Purwokerto.
​Sebelum dipercaya mengurus dan merawat rumah indekos, Slamet memiliki rekam jejak yang cukup panjang di dunia pertukangan dan konstruksi bangunan. Sejak tahun 1982, Pak Slamet telah bekerja ikut bersama seorang kontraktor. Hubungan kerja yang didasari rasa saling percaya dan kejujuran tersebut bertahan hingga puluhan tahun. Ketika sang majikan mendirikan bangunan indekos pada tahun 2012, ia dipercaya penuh untuk merawat serta menjaga operasional tempat tersebut hingga saat ini.
​Bahkan ketika sang pemilik indekos meninggal dunia pada masa pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu, amanah tersebut tidak goyah. Pihak keluarga mendiang pemilik indekos tetap memercayakan pengelolaan harian tempat tinggal tersebut kepada Pak Slamet. Bagi belasan penghuni yang tinggal di sana, ia berdedikasi penuh merawat, membersihkan, dan menjaga lingkungan tempat tinggal mereka setiap hari.
Kehidupan pribadi kakek dari 11 cucu ini juga diwarnai dengan kemandirian yang tinggi. Sejak sang istri meninggal dunia empat tahun lalu, Pak Slamet memilih untuk tidak bergantung secara finansial kepada keempat anaknya yang seluruhnya telah berkeluarga dan mandiri. Bahkan pada hari Minggu saat jadwal libur bekerja, ia tetap melakukan aktivitas fisik dengan mengolah kebun kecil di dekat pemukimannya.
Menurutnya, pilihan untuk tetap bekerja di usia 70 tahun didasari oleh keinginan untuk menjaga kebugaran tubuh serta menghindari kejenuhan di rumah. Ia menyadari batas kemampuan fisiknya yang tidak lagi memungkinkan untuk melakukan pekerjaan konstruksi berat seperti masa mudanya.
​”Daripada nganggur di rumah, selagi masih bisa kerja dan sehat, kenapa tidak? Kalau kerja bangunan yang berat-berat memang saya sudah tidak mampu lagi. Tapi kalau mengayuh sepeda dan merawat kos, saya senang jalani setiap hari,” pungkas Slamet Rohmadi.
