
Dramaga, SudutNalar β Harga makanan di sekitar kampus IPB University mengalami perbedaan signifikan antara pembelian langsung di warung dengan pemesanan melalui aplikasi pesan-antar daring. Salah satunya terlihat pada menu mi yang memiliki selisih harga Rp5.000 per porsi.
Di warung fisik, satu porsi mi dijual seharga Rp11.000. Sementara itu, menu mi yang ditawarkan melalui aplikasi pesan-antar daring dipatok seharga Rp16.000 per porsi-belum termasuk ongkos kirim dan biaya jasa aplikasi.
Pemilik warung makan Mie Dower Raos, Dani Ramdani (31), memilih melayani pembeli secara langsung di kiosnya. Dani yang telah menjalankan usahanya selama dua tahun di kawasan Dramaga harus mengeluarkan biaya sewa kios sebesar Rp1,3 juta setiap bulan. Menurut Dani, tarif sewa tersebut bersifat tetap dan tidak mengalami kenaikan secara berkala.
βKalau online ya ribet, kalau ini kan instan langsung. Hasil penjualan dari warung fisik bisa langsung diputar lagi buat belanja bahan makanan per hari ini,β ujar Dani saat ditemui di kiosnya.
Dani mengatakan jumlah pembeli di warungnya dipengaruhi oleh aktivitas mahasiswa di kampus. “Saat musim libur semester kampus atau tanggal tua mahasiswa, penurunan pembeli yang datang bisa mencapai 50 persen,” tutur Dani.
Kondisi berbeda diambil oleh Ica (24), pemilik Mie Jebew Teh Ica di kawasan Babakan Tengah. Ia memilih berjualan secara daring dari dapur rumah sewa tanpa membuka kios komersial. Namun, berjualan melalui aplikasi tetap menimbulkan biaya operasional baru yang membuatnya harus menaikkan harga jual dari Rp11.000 menjadi Rp16.000 di aplikasi.
“Pihak aplikasi mengambil potongan komisi sebesar 20 persen untuk setiap pesanan yang masuk. Kenaikan harga Rp5.000 per porsi itu murni untuk menutup potongan aplikasi tersebut dan membeli kemasan kotak makan yang tahan tumpah,” kata Ica.
Berdasarkan perhitungan harga jual Rp16.000, potongan komisi 20 persen tersebut setara dengan Rp3.200 per pesanan. Dengan demikian, sisa selisih sebesar Rp1.800 dialokasikan untuk kebutuhan operasional lainnya, seperti pengemasan.
Perbedaan harga tersebut turut dirasakan mahasiswa sebagai salah satu konsumen utama di kawasan sekitar kampus. Dimas Saputra (21), mahasiswa Departemen Agribisnis IPB, mengatakan dirinya mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan sebelum memilih membeli makanan secara langsung atau melalui aplikasi.
“Kalau sedang senggang, saya pasti jalan kaki makan langsung ke warung karena harganya cuma Rp11.000. Tapi kalau tugas kuliah sedang menumpuk atau hujan deras di Dramaga, saya terpaksa memesan lewat aplikasi meskipun harus membayar selisih Rp5.000 lebih mahal per porsinya,” ungkap Dimas.
Penulis Berita : Gevira Dewi
Editor Berita : Hayudya Komalashinta
