Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

SETORAN SEBELUM PULANG: HIDUP PAK KHABIB DI BALIK GEROBAK SUSU

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Hanunah Mumtaz

Muhammad Yayan Maulana

Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis

BANYUMAS, SUDUT NALAR — Sore itu, suara sepeda motor nyaris tak pernah putus. Mahasiswa berlalu lalang, sebagian berboncengan, sebagian melaju tergesa-gesa. Di tengah arus yang bergerak cepat itu, Khabib duduk sendirian di samping gerobak susunya, menunggu para pembeli yang entah kapan akan datang. Padahal harinya sudah dimulai jauh sebelum itu. Pukul sembilan, kadang setengah sepuluh, saat sebagian orang sedang berada di puncak aktivitasnya. Khabib pun sudah berangkat. Dengan mendorong gerobak berisi puluhan botol susu segar, Khabib keluar dari rumah bosnya di daerah Sumampir , menuju rute jualan yang sudah dibagi di antara empat penjual lainnya. Ia menjajakkan susu nya dengan berkeliling di sebagian kota Purwokerto menggunakan sepedanya.

Nama lengkapnya Khabib Purwoco, orang-orang biasa memanggilnya dengan nama Pak Khabib. Usianya 59 tahun, lebih dari setengah abad. Ia berasal dari Rawalo, Kabupaten Banyumas. Di kota ini, ia menumpang hidup dengan sepeda gerobak yang harus ia kayuh setiap hari. 

Ia telah berjualan selama puluhan tahun dan bahkan ia pun sudah tidak mengingat dari tahun berapa berjualan. Dalam sehari, dagangannya bisa laku sekitar 60 sampai 70 kemasan. “Kalau lagi sepi ya 60-an, kalau rame bisa sampai 80 kemasan.” ujar laki-laki kelahiran 1967 tersebut. Angka tersebut naik turun mengikuti kalender sekolah. Ketika anak sekolah masuk, susu yang ia jual lebih cepat berpindah tangan. Namun, saat libur tiba, ia hanya bisa berkeliling dari gang ke gang.

Harga susu yang ia tawarkan cukup beragam. Untuk kemasan kecil, ia jual Rp2.000 per kemasan dengan target pembeli anak-anak. Untuk kemasan besar, ia jual Rp4.000 per kemasan dengan terget pembeli masyarakat umum dan mahasiswa. Sebelum pandemi, satu kemasan dijual Rp3.000, namun ia naikkan harga nya seiring kenaikan harga barang di pasaran.

Gerobaknya punya dua cara untuk bergerak. Saat jalan menanjak, ia mendorongnya sambil menahan beban, sedangkan di jalan yang rata, ia mengayuh sepedanya. Hari-hari panas tidak bisa ia hindari. Ia harus tetap berkeliling mencari pundi-pundi rupiah yang menjadi pokok penghasilan. Dengan jadwal berangkat yang sama dan pulang antara pukul lima sampai setengah enam sore, bahkan kadang pulang lebih lewat.

Perjalanannya tidak berakhir saat dagangan yang ia jual habis terjual. Tidak jarang juga susu yang ia bawa masih tersisa dan dibawa kembali ke tempat bosnya. Setiap kali setelah  berjualan, ia ke rumah bosnya untuk menyetorkan uang hasil penjualan. Setelah itu, ia pulang. “Seminggu sekali saya menginap di rumah bos.” ujarnya. Selebihnya ia pulang ke rumah menggunakan sepeda motor.

Ketika ditanya tentang masa kecilnya, jawabannya datar sambil menarik nafas. “Saya cuma lulusan MTs, Mau lanjut, nggak ada biaya.” Saat ditanya cita-cita waktu kecil, ia menjawab sambil tertawa ringan “Cita-cita nya sih ingin mengemudi mobil.” Menurutnya, pekerjaan tersebut tidak memerlukan ijazah tinggi. “Kalau melamar kerja jadi sopir kan bisa,” Katanya.

Apakah ia tidak lelah? Pertanyaan tersebut ia jawab dengan jujur. “Ya capek sih, Tapi tetep semangat,” Katanya. “Karena kita butuh uang, butuh dana untuk memenuhi kebutuhan istri.”

Bahkan, ia pernah berpikir untuk berhenti. Namun niat itu selalu terbentur dengan kenyataan yang ia hadapi. “Tapi kan kita udaha, belum dapat pekerjaan yang lain.” Karena hal itu, seluruh kebutuhan rumah tangga bertumpu pada pundaknya, tanpa jeda dan libur yang pasti.

Menjelang akhir wawancara yang berlangsung sekitar setengah jam, saya bertanya padanya. Apa pesannya untuk anak muda, khususnya mahasiswa. Ia tidak berceramah. Ia justru balik bertanya, dengan nada yang lebih mirip rasa penasaran daripada nasihat. “Setelah kuliah selesai nanti, mau melamar kerja apa?”

Saya terdiam sebentar. Di depan saya berdiri seorang lelaki 59 tahun yang tidak sempat sekolah tinggi, dan dari semua hal yang bisa ia pesankan, ia memilih menanyakan masa depan seseorang yang baru ia kenal setengah jam lalu. Sesudah itu ia kembali meraih gerobaknya. Susu-susunya masih harus berkeliling, dan setoran sore ini masih menunggu.

Sesudah itu ia kembali meraih gerobaknya. Susu-susunya masih harus berkeliling, dan setoran sore ini masih menunggu.

Editor : Handaru Arya Adhyasta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme