Cilacap, 11 Oktober 2026

Sumber: (dokumentasi pribadi)
CILACAP, SUDUTNALAR — Pagi bagi Mak Tiah berjalan sederhana. Di rumahnya, tidak ada pekerjaan yang harus dikejar atau penghasilan tetap yang bisa ditunggu setiap hari. Di usianya yang telah lebih dari 80 tahun, Sutiah, atau yang akrab disapa Mak Tiah, hanya menjalani hari dengan apa yang dimiliki.
“Sekarang mah dijalani saja. Ada yang bantu, ya disyukuri. Yang penting masih bisa makan,” kata Mak Tiah.
Ia tinggal bersama adiknya, Juju. Keduanya menjalani kehidupan dalam keterbatasan. Bantuan sosial menjadi salah satu tumpuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sesekali Mak Tiah juga pergi ke kebun milik anaknya. Namun, kebun itu bukan tempatnya bekerja dan bukan pula sumber penghasilan tetap.
Di sana hanya terdapat beberapa pohon kelapa, kayu, dan terkadang pohon pisang. Jika ada hasil yang dapat dibawa pulang, hasil tersebut menjadi tambahan untuk kebutuhan di rumah.
Kehidupan Mak Tiah hari ini tidak terlepas dari perjalanan panjang yang telah dilaluinya.
Dahulu, ia hidup bersama suaminya, Darno. Sang suami bekerja di sebuah bengkel milik adik iparnya. Pekerjaannya beragam, mulai dari menambal ban dan memperbaiki sepeda hingga mengerjakan pekerjaan yang berkaitan dengan besi.
Dari pernikahannya, Mak Tiah memiliki tiga anak. Dua anak pertamanya perempuan, sedangkan anak terakhir adalah laki-laki bernama Sudiana. Jarak usia Sudiana dengan kedua kakaknya cukup jauh. Kehadirannya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Mak Tiah karena ia merupakan anak laki-laki satu-satunya.
Namun, kebahagiaan itu kemudian berubah menjadi kekhawatiran.
Sudiana mengalami persoalan dalam pergaulan dan memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman keras. Kebiasaan tersebut terus berlanjut bahkan setelah ia menikah. Kondisinya kemudian semakin memburuk hingga mengalami gangguan kesehatan serius dan akhirnya meninggal dunia.
Bagi Mak Tiah, kehilangan itu bukan perkara kecil.
“Emak sedih, soalnya dia anak laki-laki satu-satunya. Dari tiga anak, sekarang tinggal dua,” ujar Mak Tiah.
Tiga anak yang dahulu mengisi kehidupan rumahnya kini hanya tersisa dua. Anak laki-laki yang menjadi satu-satunya itu pergi lebih dahulu, meninggalkan kenangan yang tidak mudah dilupakan.
Belum lama setelah kehilangan Sudiana, Mak Tiah kembali menghadapi kehilangan. Suaminya, Darno, meninggal dunia. Orang yang selama bertahun-tahun menemaninya menjalani kehidupan tidak lagi berada di rumah.
“Setelah bapaknya anak-anak nggak ada, ya rumah jadi sepi. Tapi mau bagaimana lagi, hidup harus dijalani,” kata Mak Tiah.
Kalimat itu menggambarkan bagaimana kesunyian datang bersamaan dengan kehilangan. Namun, Mak Tiah tidak punya banyak pilihan selain terus menjalani hari.
Dalam keadaan tersebut, Juju kemudian tinggal bersama Mak Tiah. Juju sendiri telah ditinggalkan oleh suaminya dan hanya memiliki seorang anak yang menyandang disabilitas (autisme). Keduanya kemudian menjalani kehidupan bersama dalam keadaan yang sederhana.
Mak Tiah tidak memiliki penghasilan tetap. Bantuan sosial melalui BLT menjadi salah satu yang diandalkan. Anak perempuannya yang masih mampu juga sesekali memberikan uang untuk membantu kebutuhan sang ibu.
Bagi Mak Tiah, bantuan sekecil apa pun tetap berarti.
“Buat emak, punya beras saja sudah alhamdulillah. Nggak perlu macam-macam,” ujarnya.
Seliter beras mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Mak Tiah, beras berarti ada makanan yang dapat dimasak dan ada kebutuhan yang masih bisa dipenuhi untuk hari itu.
Keterbatasan juga tidak membuat Mak Tiah berhenti berbagi.
Ketika ada kegiatan di musala, seperti acara maulid nabi, ia berusaha membawa sesuatu. Tidak harus makanan mahal. Singkong rebus atau hasil bumi yang tersedia di rumah pun bisa menjadi pemberiannya.
“Kalau ada punya singkong atau apa, ya dibawa. Sedikit juga nggak apa-apa, yang penting bisa ikut berbagi,” kata Mak Tiah.
Ia mungkin tidak memiliki banyak untuk diberikan. Namun, ia tetap menyisihkan apa yang ada.
Hari-hari Mak Tiah kini berjalan tanpa banyak tuntutan. Ada bantuan yang datang, ada pula hari-hari yang harus dilewati dengan apa yang tersedia di rumah. Sesekali ia pergi ke kebun, membawa pulang hasil yang bisa dimanfaatkan. Selebihnya, ia menjalani rutinitas sederhana bersama adiknya.
Kisah Mak Tiah bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan. Ada kehilangan yang datang berturut-turut di dalamnya: seorang anak laki-laki satu-satunya dan seorang suami yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya.
Namun, kehidupan tidak berhenti ketika seseorang kehilangan.
Pagi tetap datang. Rumah tetap harus dijalani. Beras tetap harus tersedia. Dan jika ada sedikit makanan yang bisa dibagikan, Mak Tiah tetap ingin membaginya.
Mungkin bagi sebagian orang, seliter beras hanyalah sesuatu yang biasa. Bagi Mak Tiah, seliter beras berarti satu hari lagi yang bisa dijalani dengan rasa syukur.
Di rumah sederhana itu, ia tidak sedang mengejar kehidupan yang mewah. Ia hanya menjalani apa yang masih dimiliki, dan dari sedikit yang dimilikinya, ia masih berusaha memberikan sesuatu kepada orang lain.
Sebab, terkadang, bertahan bukan tentang memiliki banyak. Bertahan adalah tentang tetap bersyukur atas apa yang masih ada.
Penulis: Rizqina Ayu Kasturi
