Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

PURWOKERTO, SudutNalar — Aroma rempah mulai tercium saat asap tipis membubung dari wajan yang panas. Saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi, di sudut dapur yang masih sunyi, keheningan malam bagi Muniroh telah usai. Dengan tangan yang pegal, ia mulai menumbuk cabai merah di atas cobek batu untuk menyiapkan masakan katering hari itu.
Di saat sebagian besar orang masih lelap dalam tidur, Muniroh sudah berpacu dengan waktu. Dapur kecil di rumahnya bukan hanya tempat memasak, tetapi juga menjadi tumpuan utama untuk menyambung hidup keluarganya.
Perjalanan Muniroh mengurus usaha ini menyimpan kenangan pahit. Sebelum mengelola kantin, ia harus rela bekerja jauh dan berpisah dari anak-anak demi mencari nafkah. Ibunya kerap meminta Muniroh berhenti merantau dan pulang untuk melanjutkan usaha kantin keluarga. Namun, ajakan itu baru bisa ia wujudkan setelah sang Ibu meninggal dunia.
Memulai kembali usaha tanpa kehadiran sang Ibu terasa amat berat. Sepinya pembeli di awal jualan, modal yang terbatas, hingga rasa kantuk luar biasa akibat harus terbangun pukul dua pagi menjadi ujian harian di tengah desakan ekonomi.
Dinamika dan tekanan pekerjaan di dapur pun tak jarang menguras emosi serta tenaga Muniroh. Bagian yang paling banyak menyita energi ialah proses mengulek sambal secara manual menggunakan cobek batu. Muniroh menolak memakai blender karena ingin menjaga cita rasa autentik masakan yang disukai para pelanggannya.
​Pada suatu hari, ketika sisa tenaganya sudah hampir habis, tiba-tiba datang pesanan tambahan puluhan porsi tahu isi secara mendadak di luar rencana awal. Rasa lelah yang menumpuk dipadu dengan rasa panik karena stok bahan di dalam kulkas mulai menipis membuat fokusnya pecah. Racikan adonan tahu isi yang ia buat malah terlalu encer dan gagal total yang mengakibatkan tidak bisa digoreng.
​Di momen kritis itu, keinginan untuk menyerah dan menangis sempat terlintas kuat di pikirannya. Namun, Muniroh memilih untuk membuang rasa putus asa itu jauh-jauh. Ia menghela napas panjang, meracik ulang adonan dari awal, dan menyelesaikan seluruh pesanan tepat waktu.
“Lelah itu wajar, menangis juga boleh, tapi sebentar saja. Jangan kelamaan. Mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan masalah,” ujar Muniroh.
Sejak pandemi hingga sekarang, roda perekonomian terasa berputar semakin lambat. Bagi Muniroh, tidak ada istilah hari libur dalam kamus hidupnya. Berhenti memasak satu hari saja berarti ia harus siap menghadapi kesulitan untuk membeli beras, biaya listrik, hingga memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya.
Rasa pegal yang menjalar di jemari dan punggungnya seketika terasa terbayar tuntas saat wadah-wadah masakan kembali dalam keadaan bersih tanpa sisa. Rasa capek itu makin tidak berbekas ketika disambut senyum puas dari para pelanggan yang melunasi pesanan mereka.
Sebagai seorang ibu yang berdiri tegak menjadi tulang punggung keluarga, Muniroh berhasil membuktikan bahwa harapan tidak akan pernah padam selama seseorang ingin terus berusaha dan pantang menyerah. Mengesampingkan rasa lelah demi masa depan anak-anaknya menjadi alasan utama Muniroh untuk tetap semangat dan bekerja keras setiap kali subuh menyapa.
“Jalanin saja, belajar sabar, mandiri, dan berkarya sambil terus berdoa pada Gusti Allah. Minta diberi kesehatan dan jalan yang mudah. Yang penting jaga hati, tetap semangat, dan percaya pasti ada jalan bahagia,” ujar Muniroh menutup perbincangan dengan senyum hangat di wajahnya.
Saat matahari mulai terbit perlahan, nampan-nampan berisi makanan hangat telah tertata rapi di atas meja, siap untuk diantarkan kepada para pemesan. Dari balik kepulan uap dapur sederhana itu, tersaji sebuah mahakarya nyata tentang cinta, pengorbanan, dan keteguhan hati seorang ibu yang tak pernah padam demi keluarga.
Penulis : Firliana Saraswati Prasetyoningrum
Editor : Prajnya Aulia Patria Legawa
