Oleh: Happy Zahra Khairunnisa

(Sumber Foto: Happy Zahra Khairunnisa)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Lampu lalu lintas di persimpangan Jalan Jenderal Soedirman, Purwokerto, berganti merah. Kendaraan mulai melambat. Di antara deretan kendaraan tersebut, Nasam (51) berjalan dengan bantuan kruk besi sambil menawarkan koran kepada para pengendara.
“Koran, Mas? Informasi hari ini,” tawarnya dengan senyum ramah.
Sejak pukul 08.30 WIB, pria asal Patikraja itu telah berada di tepi jalan untuk berjualan. Selama lebih dari sepuluh tahun, Nasam menjalani pekerjaannya sebagai penjual koran jalanan. Ia harus beraktivitas di tengah panas matahari, terpaan angin kendaraan, dan padatnya lalu lintas dengan satu kaki yang tersisa.
Di tengah perkembangan teknologi dan semakin mudahnya masyarakat memperoleh informasi secara digital, penjualan koran cetak bukan lagi pekerjaan yang mudah. Nasam mengatakan bahwa dirinya biasanya menjual sekitar 25 eksemplar koran setiap hari dengan pendapatan yang tidak menentu.
Meskipun demikian, Nasam tetap bertahan. Salah satu alasan terbesarnya adalah pendidikan anak.
“Anak saya sekarang kuliah di Program Studi Statistika UNSOED. Dialah sumber kekuatan saya sampai detik ini,” ujar Nasam dengan bangga.
Menurut Nasam, keterbatasan fisik dan pekerjaannya sebagai penjual koran tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Ia ingin anak-anaknya memiliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik.
“Meskipun bapaknya hanya berjualan koran di jalanan dengan satu kaki, yang terpenting anak saya memiliki masa depan yang jauh lebih baik,” tambahnya.
Kondisi tersebut tidak lepas dari kecelakaan yang dialaminya pada 2009. Kecelakaan itu menyebabkan kaki kirinya harus diamputasi. Saat itu, anak-anak Nasam masih kecil. Ia sempat mengalami masa sulit hingga mengalami depresi dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah selama dua tahun.
Rasa takut terhadap masa depan keluarga membuat Nasam sempat kehilangan arah. Namun, pada 2011, ia memutuskan untuk kembali bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Dulu saya sempat terpuruk dan kehilangan arah cukup lama karena anak-anak masih kecil. Namun, jika saya hanya meratapi nasib, anak-anak mau makan apa? Saat ada kesempatan berjualan koran, saya ambil tanpa ragu,” kenangnya.
Sejak kembali bekerja, Nasam berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya melalui penghasilannya sendiri. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin bergantung pada orang lain selama masih memiliki kemampuan untuk bekerja.
“Saya masih memiliki tenaga untuk bekerja. Selagi mampu, saya pantang mengemis atau meminta-minta kepada orang lain. Saya ingin anak-anak bangga memiliki ayah yang memberi makan dari hasil keringat sendiri,” tegas Nasam.
Berjualan koran dengan menggunakan satu kaki bukan pekerjaan ringan. Nasam harus menjaga keseimbangan dengan bantuan kruk sambil berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan lain untuk menawarkan koran. Aktivitas tersebut dilakukan selama berjam-jam di tengah lalu lintas Jalan Jenderal Soedirman.
Bagi Nasam, keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti mencari nafkah. Ia justru berharap pengalamannya dapat menjadi pengingat bagi orang lain untuk lebih menghargai kemampuan yang dimiliki.
“Coba lihat di sekeliling kalian. Banyak orang dengan keterbatasan fisik yang tetap gigih mencari nafkah demi keluarga. Jika mereka yang berfisik utuh masih sering mengeluh, lantas di mana rasa syukurnya?” tutur Nasam.
Lampu lalu lintas kembali berubah hijau. Kendaraan mulai bergerak meninggalkan persimpangan. Nasam kemudian menepi sejenak ke trotoar untuk beristirahat sebelum kembali menawarkan koran kepada pengendara berikutnya.
Di tengah perubahan zaman yang membuat masyarakat semakin bergantung pada informasi digital, Nasam tetap menjalani pekerjaannya dengan satu tujuan: memenuhi kebutuhan keluarga dan mendukung pendidikan anaknya. Baginya, keterbatasan fisik tidak menghalangi keinginannya untuk bekerja dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga.
