Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Satu Hari, Dua Pekerjaan: Kisah Mbah Sahiroh Mencukupi Kebutuhan Hidup

Posted on Oktober 8, 2026 by jejakpersepsi@gmail.com

Penulis: Azalia Nur Azizah Azmi

Sumber foto: Dokumentasi Pribadi

BREBES, SUDUTNALAR- Di usia 64 tahun, Mbah Sahiroh masih menjalani dua pekerjaan dalam sehari. Pagi hingga siang ia bekerja sebagai buruh tani di lahan milik orang lain. Menjelang sore, ia beralih ke depan panggangan untuk berjualan sate Madura hingga malam.

Selama empat tahun, Mbah Sahiroh meneruskan usaha sate yang sebelumnya dijalankan putri dan menantunya. Setelah sang menantu meninggal karena kanker paru-paru, putrinya memilih merantau ke Jakarta untuk mencari penghasilan. Mbah Sahiroh kemudian tetap mempertahankan usaha tersebut.

Menjelang pukul lima sore, bara di bawah panggangan mulai menyala. Arang yang semula gelap perlahan memerah ketika api mulai membakar bagian bawahnya. Tusuk-tusuk sate diletakkan di atas panggangan dan dibolak-balik hingga matang. Asap tipis mengepul bersama aroma kecap dan bumbu kacang di sekitar tempat jualan. Sesekali, Mbah Sahiroh mengipasi bara agar panasnya tetap terjaga.

Satu kodi sate berisi 20 tusuk dan dijual seharga Rp25.000. Dalam sehari, sekitar lima hingga delapan kodi biasanya terjual. Jumlah tersebut berarti sekitar 100 hingga 160 tusuk sate yang disiapkan untuk pembeli setiap harinya. Namun, tidak setiap malam dagangannya habis. Sate yang tersisa akan disimpan di dalam kulkas untuk dijual kembali.

Harga tersebut tetap dipertahankan meskipun harga ayam, kecap, dan kacang mengalami kenaikan. Bagi Mbah Sahiroh, menaikkan harga sate bukan keputusan yang mudah karena ia khawatir pembeli akan berkurang. Ia memilih mempertahankan harga yang sudah dikenal pelanggan, meskipun keuntungan yang diperoleh harus menyesuaikan dengan jumlah sate yang terjual.

“Takut nggak ada yang beli,” ujar Mbah Sahiroh.

Ketika ditanya mengenai sate yang tidak selalu habis terjual, ia menjawab sambil tertawa kecil, “Ya namanya rezeki, kadang habis kadang ngga.”

Di luar aktivitas berjualan, Mbah Sahiroh tetap mengandalkan pekerjaan sebagai buruh tani. Ia bekerja di lahan milik orang lain dengan mengerjakan berbagai pekerjaan pertanian. Dari pekerjaan tersebut, ia memperoleh upah sekitar Rp30.000 sehari. Pekerjaan itu dilakukan sejak pagi hingga siang, sebelum ia kembali menyiapkan dagangan untuk dijual pada sore hari.

Rutinitas tersebut membuat waktu Mbah Sahiroh banyak dihabiskan untuk bekerja. Setelah menyelesaikan pekerjaan di lahan, ia masih harus menyiapkan sate dan perlengkapan berjualan. Menjelang sore, panggangan kembali dinyalakan dan aktivitas berjualan dimulai hingga malam.

Sementara putrinya bekerja di Jakarta, cucunya yang masih sekitar lima tahun tinggal bersama Mbah Sahiroh. Biasanya, sang cucu juga ikut menemani berjualan. Namun, pada malam itu, cucunya tidak ikut karena sedang sakit.

Empat tahun telah berlalu, tempat itu masih menjadi tempat Mbah Sahiroh mencari penghasilan setiap sore. Di tengah perubahan yang terjadi dalam keluarganya, ia memilih untuk tetap melanjutkan usaha yang telah dijalankan selama ini.

“Sayang kalau ditinggalkan, tempatnya juga sudah ada.” Ujarnya.

Sekitar pukul sembilan malam, aktivitas berjualan mulai berakhir. Bara yang sejak sore digunakan untuk membakar sate perlahan mengecil. Peralatan jualan kemudian dirapikan sebelum ia mengakhiri aktivitasnya malam itu.

Bagi Mbah Sahiroh, pekerjaan sebagai buruh tani dan penjual sate menjadi dua sumber penghasilan yang dijalani setiap hari. Keduanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah keadaan keluarga yang berubah. Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempertahankan sebuah usaha. Di tengah naiknya harga bahan dan keadaan keluarga yang berubah, Mbah Sahiroh memilih tetap menjalankan apa yang masih bisa dijalankan.

Bagi sebagian orang, Rp25.000 mungkin hanya harga satu kodi sate. Bagi Mbah Sahiroh, harga itu menjadi bagian dari penghasilan yang ia kumpulkan setiap hari untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme