Penulis: Zulfa Nur Auliya
Editor: Zidan Diyaaul Haq

PURBALINGGA, SudutNalar β Kepedulian terhadap isu kekerasan seksual, perundungan, dan minimnya wadah pengembangan diri bagi generasi muda mendorong Rizqi Annafi, mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman, mendirikan Komunitas Rangkul Kasih Indonesia pada 25 Desember 2025 di Purbalingga.
Komunitas tersebut berfokus pada pemberdayaan pemuda, perempuan, dan anak melalui berbagai kegiatan, seperti sosialisasi edukatif, perpustakaan keliling, dan pelatihan keterampilan.
Rizqi mendirikan komunitas tersebut bersama tiga rekannya, yakni Ayesha Danish Salsabila, Okta Surya Adi, dan Amelia Putri Ramadani. Mereka tergerak untuk membangun komunitas karena masih sedikit organisasi pemuda setempat yang bergerak di bidang tersebut.
Dalam perjalanannya, membangun komunitas bukan tanpa tantangan. Rizqi mengaku menghadapi kendala, terutama dalam membagi waktu dan menjaga konsistensi tim.
βPernah merasa lelah, tetapi dukungan orang-orang di sekitar selalu membangkitkan saya kembali. Saya ingat sudah melangkah sejauh ini, jadi tantangan apa pun harus dihadapi,β ungkap Rizqi.

Hingga kini, Rangkul Kasih Indonesia telah menyelenggarakan berbagai program, di antaranya edukasi tentang kekerasan seksual, pelatihan parenting, dan sosialisasi antiperundungan di SMP/MTs, panti asuhan, serta masyarakat umum. Komunitas tersebut juga menghadirkan perpustakaan keliling setiap Minggu pagi melalui kolaborasi dengan Limbah Pustaka.
Bagi Rizqi dan rekan-rekannya, interaksi dengan anak-anak dan masyarakat menjadi salah satu sumber semangat dalam menjalankan kegiatan komunitas.
βRangkul Kasih Indonesia ini tempat belajar, bertumbuh, dan berkarya untuk siapa saja. Saya cuma ingin masyarakat punya ruang yang aman untuk bisa saling merangkul dan peduli tanpa harus menghakimi,β ungkapnya.
Melalui edukasi yang konsisten dan pemanfaatan media sosial, Rizqi berharap pesan kepedulian yang dibawa Rangkul Kasih Indonesia dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Menurut Rizqi, menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bukan hanya menjadi tugas komunitas, melainkan tanggung jawab bersama. Ia berharap masyarakat tergerak untuk mulai peduli dan membuka diri sehingga setiap individu, khususnya anak-anak dan generasi muda, memiliki ruang untuk tumbuh tanpa rasa takut.
