Penulis : Calista Vania Maharani Putri

Sumber Foto : Internet
KEBUMEN, SUDUTNALAR—Aroma ayam yang dimasak dengan bumbu santan mulai memenuhi rumah-rumah warga Kuwarisan, Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen. Warga sekitar menyiapkan ayam ingkung, nasi tumpeng, sayuran, telur, dan lauk lainnya. Setelah semuanya siap, hidangan tersebut tidak langsung disantap. Mereka justru membawanya keluar rumah untuk dikumpulkan dan dibawa menuju Masjid Banyumudal. Jumat itu, suasana Kuwarisan terasa berbeda. Warga datang membawa tumpeng dengan berbagai cara. Ada yang menggendong, menandu, hingga membawanya menggunakan kendaraan. Jalan menuju Masjid Banyumudal perlahan dipenuhi warga yang membawa ingkung dari rumah masing-masing. Pemandangan tersebut merupakan bagian dari Ingkung Suran atau Ingkungan, tradisi yang sudah dilakukan masyarakat Kuwarisan secara turun-temurun. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Muharam, biasanya pada Jumat Kliwon. Masjid Banyumudal menjadi pusat kegiatan sekaligus tempat warga berkumpul untuk mengikuti rangkaian doa bersama.
Pada pelaksanaan tahun 2025, sekitar 7.000 ingkung ayam kampung dibawa warga dalam kirab. Rangkaian kirab dimulai dari Kelurahan Panjer dan berakhir di Masjid Banyumudal. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini bukan hanya diikuti oleh warga yang tinggal di Kuwarisan saja maupun luar daerah. Ingkung sendiri merupakan ayam yang dimasak secara utuh dengan bumbu dan santan. Hidangan tersebut biasanya disajikan bersama nasi dan berbagai lauk. Namun, bagi masyarakat Kuwarisan, ingkung bukan hanya makanan yang nantinya dimakan bersama. Di balik satu tumpeng, ada keluarga yang berkumpul dan saling bertemu. Bahkan, warga yang sudah tinggal jauh dari kampung halaman tetap berusaha mengikuti tradisi tersebut. Salah satunya Soleh, warga keturunan Kuwarisan yang tinggal di Semarang. Ia sengaja pulang setiap tahun untuk mengikuti kirab.
“Saya dari Semarang sengaja pulang kampung demi mengikuti tradisi ini. Bisa bertemu keluarga besar, berkumpul di momen yang penuh makna seperti ini sungguh membahagiakan.”
Kehadiran warga dari luar daerah membuat tradisi ini terasa lebih dari sekadar acara tahunan. Orang-orang yang sehari-hari terpisah jarak kembali bertemu di tempat yang sama. Anak, orang tua, hingga keluarga yang sudah lama tidak bertemu dapat berkumpul dalam satu suasana. Sesampainya di Masjid Banyumudal, warga mengikuti tahlil dan doa bersama. Kegiatan tersebut juga berkaitan dengan haul Syaikh Ibrahim Asmoroqondi, tokoh ulama yang memiliki kaitan dengan sejarah Kuwarisan. Setelah rangkaian doa selesai, tumpeng dan ingkung kemudian disantap bersama.
Tradisi ini juga menjadi bagian dari cara masyarakat mengenalkan budaya kepada generasi yang lebih muda. Anak-anak dapat melihat langsung bagaimana orang tua mereka menyiapkan ingkung, membawa tumpeng, mengikuti kirab, lalu berkumpul bersama masyarakat. Di tengah kehidupan yang semakin berubah, tradisi seperti ini menjadi salah satu cara warga mempertahankan hubungan dengan keluarga dan daerah asal. Pemerintah Kabupaten Kebumen juga mencatat Ingkungan Kuwarisan Banyumudal sebagai salah satu objek adat istiadat dalam pemajuan kebudayaan daerah.
Ketika rangkaian acara selesai, keramaian di sekitar Masjid Banyumudal perlahan mulai berkurang. Tumpeng yang sebelumnya dibawa dengan penuh persiapan kini disantap bersama. Warga kemudian kembali ke rumah masing-masing, sementara jalan yang sebelumnya ramai oleh kirab kembali seperti biasa. Namun, tradisi itu tidak benar-benar selesai pada hari tersebut. Sebab, selama masih ada warga yang mau memasak ingkung, membawa tumpeng, pulang untuk bertemu keluarga, dan berkumpul bersama, cerita Ingkungan Kuwarisan akan terus berjalan. Di Kuwarisan, ribuan ingkung bukan hanya tentang makanan. Di baliknya ada keluarga yang kembali berkumpul, sejarah yang terus diingat, dan sebuah tradisi yang memilih untuk tetap hidup.
