
CILACAP, SUDUTNALAR – Kebakaran yang melanda Pasar Kroya, Kabupaten Cilacap, pada 23 Desember 2021 membuat aktivitas perdagangan masyarakat berubah. Setelah kebakaran, para pedagang harus berpindah ke sejumlah lokasi untuk tetap menjalankan usahanya, salah satunya di kawasan Terminal Kroya.
Perpindahan tersebut tidak hanya mengubah tempat pedagang berjualan, tetapi juga memberikan dampak terhadap kondisi ekonomi mereka. Pedagang harus menyesuaikan kembali aktivitas perdagangan, mulai dari mendapatkan barang dagangan hingga menghadapi perubahan jumlah pembeli dan pendapatan.
Salah seorang pedagang sayuran yang kini berjualan di kawasan Terminal Kroya, Amin, mengatakan bahwa relokasi membuat aktivitas berdagang menjadi berbeda dibandingkan ketika masih berjualan di Pasar Kroya.
“Setelah pindah ke sini memang ada beberapa perubahan. Salah satunya untuk mendapatkan barang dagangan. Kalau sayuran, kan harus datang setiap hari. Sekarang jaraknya terasa lebih jauh, jadi waktu dan biaya untuk mengambil barang juga bertambah,” kata Amin.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup berpengaruh terhadap biaya operasional. Sayuran yang menjadi barang dagangan utama harus tetap tersedia setiap hari, sehingga pedagang tidak dapat mengurangi frekuensi pengambilan barang meskipun biaya transportasi meningkat.
“Sayuran tidak bisa disimpan terlalu lama. Jadi setiap hari harus mengambil barang. Kalau biaya angkutnya bertambah, otomatis keuntungan yang didapat juga berkurang,” ujarnya.
Selain biaya operasional, Amin mengatakan jumlah pembeli setelah relokasi juga tidak seramai ketika dirinya masih berjualan di Pasar Kroya. Kondisi tersebut membuat pendapatan yang diperoleh setiap hari ikut mengalami perubahan.
“Kalau pembeli sekarang tidak seramai dulu. Kadang barang dagangan masih tersisa, padahal besok harus mengambil barang lagi. Jadi saya harus pintar-pintar mengatur barang supaya tidak banyak yang terbuang,” katanya.
Menurut Amin, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi pedagang selama berjualan di lokasi relokasi. Pedagang harus tetap mengeluarkan modal untuk membeli barang, sementara jumlah penjualan tidak selalu stabil.
Meskipun demikian, Amin tetap bertahan berjualan karena usaha tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Ya tetap dijalani karena ini pekerjaan kami. Mau tidak mau harus bertahan sampai pasar yang baru selesai,” tuturnya.
Setelah hampir lima tahun sejak kebakaran, pembangunan kembali Pasar Kroya kini mulai mendekati penyelesaian. Pembangunan pasar tersebut dilaporkan telah mencapai sekitar 72 persen pada September 2026 dan ditargetkan rampung pada akhir November 2026.
Kondisi tersebut menjadi harapan baru bagi pedagang yang selama ini menjalankan usaha di lokasi relokasi. Amin berharap setelah Pasar Kroya selesai direnovasi, para pedagang dapat kembali berjualan di tempat yang lebih layak dan aktivitas perdagangan kembali ramai.
“Harapannya nanti kalau pasar sudah selesai, kami bisa kembali berjualan di sana. Semoga pembelinya lebih ramai, biaya operasional bisa lebih ringan, dan pendapatan juga bisa meningkat lagi,” kata Amin.
Bagi pedagang, kembalinya aktivitas perdagangan ke Pasar Kroya bukan hanya tentang mendapatkan tempat berjualan yang baru. Hal tersebut juga menjadi harapan untuk memulihkan kondisi ekonomi pedagang yang selama ini terdampak oleh kebakaran dan relokasi.
Penulis: Zulfa Izaz Mudasir
Editor: Rasya Putra Agusti
