Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

RASA YANG TAK TERGANTIKAN: KISAH SIWEN MELESTARIKAN JAJANAN TRADISIONAL

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Penulis: Aniqotul Lutfiyah | Editor: Amalinda

Siwen (62), Pedagang Jajanan Tradisional, Kamis (8/10/2026). (Foto: Dokumen Aniq)

PURWOKERTO, SudutNalar — Pagi belum sepenuhnya terang ketika aroma gula, santan, dan jajanan yang baru selesai dimasak mulai memenuhi udara. Di sudut jalan, bubur, cenil, klepon, dan ongol-ongol ditata sederhana, menunggu pembeli.

Di tengah menjamurnya jajanan modern dengan kemasan menarik, jajanan itu tampak bersahaja. Harganya pun terjangkau, semangkuk bubur dijual Rp2.000, cenil dan lainnya sekitar Rp1.000.

Di balik kesederhanaan itu ada Siwen (62), perempuan yang telah 51 tahun setia membuat dan menjual jajanan tradisional. Baginya, jajanan bukan sekadar dagangan, melainkan bagian dari keseharian yang tak tergantikan.

Hari Siwen tak pernah benar-benar berakhir saat orang lain beristirahat. Selepas asar, ia sudah berada di dapur menyiapkan jajanan untuk esok pagi. Pekerjaan itu berlanjut hingga magrib. Usai salat, ia kembali duduk di lantai dapur untuk menyelesaikan bungkusan-bungkusan gulanya.

Beberapa jam kemudian, saat sebagian orang masih terlelap, Siwen sudah terbangun. Sekitar pukul 02.00 WIB, ia mulai membuat klepon. Semua selesai sebelum subuh. Begitu matahari terbit, jajanan siap dibawa ke tempat jualan.

Rutinitas itu dijalaninya hampir setiap hari. Di balik jajanan sederhana, ada waktu yang panjang dan tenaga yang dicurahkan dari malam hingga pagi.

Dalam sehari, Siwen memproduksi sekitar 5 kilogram bubur, 3 kilogram cenil, 3 kilogram klepon, dan 2,5 kilogram ongol-ongol. Semua dibuatnya sendiri.

Bagi Siwen, berjualan bukan sekadar mengisi waktu. Dagangan tersebut menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya. “Saya berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak berjualan, saya tidak bisa makan,” ujarnya.

Penghasilan dari jajanan tradisional menjadi penopang rumah tangga yang dihuni tiga orang. Namun, keuntungannya tak besar. “Memang tidak banyak untungnya. Yang penting hasilnya cukup untuk membeli bahan lagi dan memenuhi kebutuhan makan,” kata Siwen.

Ia tak pernah menghitung untung besar. Yang terpenting, dagangan bisa terjual, bahan baku bisa dibeli kembali, dan kebutuhan makan keluarga terpenuhi. Prinsip itu ia pegang teguh selama lebih dari lima dekade.

Di tengah perubahan selera masyarakat, Siwen menghadapi tantangan. Jajanan modern kian mudah ditemukan dengan beragam bentuk dan kemasan yang menarik, terutama bagi generasi muda.

Namun, jajanan tradisionalnya tetap punya pelanggan sendiri. Rasa khas dan cara pembuatannya menjadi daya tarik yang dipertahankan. “Saya tetap melanjutkan karena ini sudah menjadi ciri khas. Saya memasaknya masih menggunakan tungku,” tuturnya.

Aneka Jajanan Tradisional yang dijajakan Siwen, Kamis (8/10/2026). (Foto: Dokumen Aniq)

Bagi Siwen, tungku bukan sekadar alat masak, melainkan  simbol cara pengolahan tradisional yang menghasilkan rasa autentik. Aroma kayu bakar yang membumbung saat memasak menjadi bagian dari kenangan yang ingin ia jaga.

Kekhasan itu bukan hanya soal rasa, tetapi juga kualitas. Siwen tak menggunakan bahan pengawet. Akibatnya, jajanan yang tak habis terjual tak bisa disimpan lama. Ia pun membawanya pulang dan membagikannya kepada tetangga.

Keputusan itu bagian dari cara Siwen menjaga kepercayaan pembeli. Ia memilih mempertahankan cara lama, meski berarti menghadapi risiko dagangan tak laku seluruhnya.

Ia berharap generasi muda tetap mengenal jajanan tradisional. “Anak-anak muda harus tahu dan mengenalnya. Sekarang banyak yang tidak tahu, padahal jajanan ini dibuat tanpa pengawet,” harapnya.

Menurut Siwen, jajanan tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga warisan budaya yang perlu dilestarikan. Jika tidak dijaga, makanan khas ini bisa punah ditelan zaman.

Ketika ditanya soal masa depan usahanya, jawabannya singkat: “Harus terus dipertahankan.”

Siwen tak memedulikan usia yang terus bertambah. Ia sadar, suatu hari nanti mungkin tak mampu lagi berjualan. Namun, selama masih ada tenaga, ia akan terus membuat dan menjual jajanan tradisional.

Menjelang siang, jajanan mulai berpindah ke tangan pembeli. Ada yang membeli bubur, ada yang memilih cenil. Bagi pembeli, ini mungkin sekadar makanan murah pengganjal perut. Namun bagi Siwen, setiap bungkus yang terjual berarti bahan bisa dibeli kembali, kebutuhan terpenuhi, dan satu rasa tradisional kembali dikenal.

Di tengah riuh jajanan modern, Siwen memilih tetap di jalannya: memasak dengan tungku, menjual dengan harga terjangkau, tanpa pengawet, dan mempertahankan rasa yang telah menemaninya puluhan tahun.

Bagi Siwen, menjaga jajanan tradisional bukan hanya tentang berjualan hari ini, tetapi memastikan rasa sederhana itu masih punya tempat untuk ditemukan esok hari.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme