sudutnalar.com, 8 Oktober 2026
Oleh : Najwa Amalia

Ibu Mursini saat berjualan sayur keliling. (Dok. Najwa Amalia)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Cahaya matahari masih menyinari jalanan Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto Utara, ketika suasana mulai beranjak menuju sore. Suara kendaraan terdengar bersahutan di sepanjang jalan, berpadu dengan aktivitas warga dan deretan toko yang masih ramai. Di tengah lalu-lalang tersebut, seorang penjual sayur mengayuh sepeda dengan dagangan yang memenuhi bagian depan dan belakangnya.
Sepeda berwarna merah muda itu bergerak perlahan menyusuri sisi jalan. Mursini (65) adalah seorang pedagang sayur keliling yang membawa dagangannya dengan sepeda. Ia membawa dagangan sambil menawarkan sayuran kepada warga yang ditemuinya. Beberapa sayuran masih tersisa di atas sepeda. Mursini terus berkeliling mencari pembeli hingga waktu berjualan selesai.
Rutinitas Mursini dimulai setelah subuh. Ia pergi ke pasar untuk membeli sayuran yang akan dijual hari itu. Setelah selesai berbelanja, ia membawa sayuran tersebut menggunakan sepeda dari Arcawinangun menuju kawasan Bancarkembar. Satu per satu warga yang ditemuinya menjadi calon pembeli yang ia tawari dagangan. Kegiatan berjualan berlangsung hingga sekitar pukul 15.00 atau sampai waktu berjualannya selesai.
Berjualan sayur menjadi pekerjaan yang paling mampu dilakukan Mursini. Pekerjaan tersebut sudah dijalaninya sejak dulu dan terus menjadi sumber penghasilan hingga saat ini. βYang paling bisa dan jalannya gini, yang lain enggak bisa dan sudah dari dulu,β ujarnya.
Penghasilan dari berjualan digunakan Mursini untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Suaminya yang sudah lanjut usia tidak lagi mampu bekerja sehingga Mursini tetap mencari penghasilan melalui dagangan sayurnya. Di usianya yang telah mencapai 65 tahun, ia masih menjalani pekerjaan tersebut sebagai bagian dari kesehariannya.
Hasil penjualan yang diperoleh Mursini tidak selalu sama setiap hari. Ada kalanya seluruh sayuran habis terjual, tetapi pada hari lain masih terdapat dagangan yang tersisa hingga waktu berjualan selesai. Meski demikian, ia mengatakan belum pernah mengalami keadaan ketika tidak ada satu pun dagangannya yang terjual. βYa, kadang masih, kadang habis,β ujarnya.
Harga sayuran di pasar menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi Mursini. Harga yang berubah-ubah membuatnya harus berhati-hati menentukan harga jual kepada pembeli. Sayuran yang hari ini dijual dengan harga tertentu bisa mengalami kenaikan harga pada hari berikutnya, sehingga ia harus menyesuaikan kembali harga jualnya. βKadang hari ini dijual murah, besok ternyata harganya naik,β ujar Mursini.
Selama berjualan, Mursini menempuh perjalanan dengan membawa sayuran di bagian depan dan belakang sepeda. Terik matahari terkadang menyertai perjalanannya ketika ia menyusuri jalanan untuk mencari pembeli. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pekerjaannya sehari-hari, yang mengharuskannya tetap berkeliling sambil menawarkan dagangan kepada warga.
Perjalanan dengan sepeda itu menjadi bagian dari usaha Mursini untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tenaga yang dikeluarkan bukan hanya untuk membawa dirinya berpindah tempat, tetapi juga untuk mengangkut sayuran yang menjadi barang dagangannya. Setiap perjalanan yang ditempuh menjadi usaha untuk mendapatkan pembeli dan membawa pulang hasil dari dagangan yang telah dibawa sejak pagi.
Orang-orang mungkin hanya melihat seorang penjual sayur yang melintas di tengah jalan dengan sepeda sederhana. Di balik pemandangan itu terdapat puluhan tahun kehidupan yang dijalani melalui pekerjaan yang sama. Sayuran yang dibawa bukan hanya dagangan, tetapi bagian dari usaha Mursini untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sepeda itu akan kembali melewati jalan yang sama pada hari berikutnya. Mursini kembali membawa sayuran, menawarkan dagangan, dan mengayuh hingga waktu berjualan selesai.
Kayuhan yang tampak sederhana itu menjadi saksi perjalanan panjang seorang penjual sayur yang terus berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya dari hari ke hari.
