sudutnalar.com, 20 September 2026

PURWOKERTO, SudutNalar— Lebih dari dua dekade, Triyono mengajarkan Al-Qur’an di Masjid Baiturrahman. Kegiatan tersebut dimulai sekitar tahun 2000 dan masih berlangsung hingga sekarang. Baginya, mengajar Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan keagamaan, melainkan bagian dari dakwah yang ingin terus ia jalankan.
Saat pertama kali mengajar, Masjid Baiturrahman belum direnovasi seperti sekarang. Kegiatan mengaji kala itu berlangsung ramai, dengan jumlah santri yang pernah mencapai sekitar 100 orang hingga memenuhi masjid. Kini, jumlah tersebut menyusut menjadi sekitar 30 santri.
Keinginannya untuk mengajar dimulai dari satu tujuan sederhana, yaitu melanggengkan generasi Islam.
“Saya itu ingin melanggengkan generasi Islam,” ujar Triyono.
Bagi Triyono, mengajar bukan tentang seberapa cepat santri naik ke tingkat selanjutnya. Yang utama adalah kemampuan membaca Al-Qur’an dengan benar. Setelah itu, barulah santri diarahkan untuk menghafal — dan hafalan yang sudah diperoleh harus terus diulang agar tidak hilang.
Metode mengajarnya pun disesuaikan dengan kondisi santri. Anak-anak dikelompokkan berdasarkan usia agar lebih mudah beradaptasi, sementara mereka yang baru mengenal huruf Al-Qur’an mendapat bimbingan langsung. Kemampuan membaca yang benar tetap menjadi syarat utama sebelum seorang anak mulai menghafal.
Bertahun-tahun mengajar tidak membuat Triyono bosan, apalagi mengharap imbalan. Pemerintah sebenarnya menyediakan tunjangan sebesar Rp100 ribu per bulan, tetapi ia bahkan belum mengambilnya sepanjang tahun ini.
“Kalau tujuan saya mengajar itu dunia, jelas saya sudah berhenti. Tapi tujuan dan motivasi saya itu adalah akhirat,” kata Triyono.
Baginya, ilmu yang diberikan kepada anak-anak tidak boleh berhenti di ruang belajar, melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ketika ilmu itu diamalkan, pahala bagi yang mengajarkannya akan terus mengalir tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya.
Kiprah Triyono di Masjid Baiturrahman tidak berhenti pada mengajar Al-Qur’an. Ia juga mengelola kegiatan lain, salah satunya pengajian rutin setiap malam Ahad. Salah satu upayanya untuk memakmurkan masjid sekaligus mengajak masyarakat lebih aktif dalam kegiatan keagamaan.
Lebih dari dua puluh tahun berlalu, mengajar kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup Triyono. Selama masih diberi kesempatan dan kemampuan, ia bertekad terus menjalankan dakwah melalui kegiatan mengajar Al-Qur’an.
Reporter: Hanifah Adwa Nur Sifa | Editor: Isfarotul Khasanah
