Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Perjuangan di Balik Warung Bu Rasitem, Pusat Kehidupan Warga Gang Sempit

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Hanunah Mumtaz

Oleh: Zakia Indah Pratiwi

Sumber: Zakia Indah Pratiwi

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Sore itu, matahari mulai condong ke barat. Bu Rasitem duduk di belakang meja kasir warungnya.  Rak-rak kayu di belakangnya penuh dengan barang-barang kecil: sabun mandi, minyak goreng, hingga permen yang dibungkus plastik bening.  Di sudut ruangan, lemari kayu berisi rokok berbagai merek tertata rapi. Kayu dinding warung yang semula kuat menjadi mulai keropos dan mengelupas di beberapa bagian.

Bu Rasitem, wanita berusia 55 tahun itu, menatap jalan di depan warungnya. Ia menunggu pelanggan yang mungkin lewat. Warung sederhana itu tidak lebih dari 3×4 meter. Lokasinya di sudut Gang Sempit, Desa Cipete, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Dindingnya dari kayu yang catnya mulai pudar. Lantainya masih berupa tanah. Namun, bagi warga sekitar, warung ini adalah pusat kehidupan. Dari sinilah mereka membeli kebutuhan sehari-hari, dari beras satu liter hingga minyak goreng eceran.

“Saya buka warung ini sudah 10 tahun, Mba,” kata Bu Rasitem ketika ditemui sore itu, sekitar pukul 16.00 WIB. Suaranya lembut, tetapi tegas. Tangannya yang mulai keriput bergerak cepat menghitung uang kembalian.

Pelanggan pertama sore itu adalah seorang ibu muda yang membawa anak kecil.  “Bu, minta minyak goreng setengah liter,” ucapnya sambil menyerahkan botol plastik bekas. Bu Rasitem mengangguk, lalu mengambil corong dari rak. Dengan gerakan terlatih, ia menuangkan minyak dari drum besar ke dalam botol.“Rp15.000,00, Bu,” katanya sambil tersenyum. 

Tidak lama kemudian, seorang bapak tua masuk dengan langkah tertatih. Ia membeli rokok satu batang dan kopi sachet.“Ini untuk nanti malam, Bu. Biar tidak mengantuk jaga rumah,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Bu Rasitem melayani semua pelanggan dengan sabar. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang merasa tidak dilayani.  Baginya, warung ini bukan sekadar tempat jualan, tetapi juga tempat berbagi cerita.

“Dulu warung seperti ini ada lima di gang ini,” tuturnya sambil menatap ke luar jendela.  “Sekarang tinggal dua. Yang lain sudah tutup, kalah dengan minimarket.”

Memang, sekitar satu kilometer dari warungnya, ada sebuah minimarket berlampu terang yang buka hingga malam.  Namun, bagi warga Gang Sempit, warung Bu Rasitem tetap menjadi pilihan.  Alasannya sederhana, mereka bisa membeli eceran, bisa berutang dulu, dan bisa mengobrol.

“Kadang ada yang tidak punya uang, saya kasih dulu. Nanti kalau ada, baru bayar,” jelasnya.  “Saya tahu, mereka juga susah. Jadi, saya bantu sebisa saya.”

Salah satu pelanggan tetapnya, Pak RT, mengaku sangat terbantu dengan adanya warung ini.  “Kalau malam-malam butuh sesuatu, ya ke sini. Minimarket jauh, sudah tutup pukul 22.00,” ucapnya.

Bu Rasitem membuka warungnya setiap hari dari pukul 06.00 hingga 22.00 WIB.  Tidak ada hari libur. Tidak ada cuti.  “Kalau saya tutup, warga repot,” katanya.

Setiap pagi, ia berangkat ke pasar tradisional untuk membeli barang dagangan. Tas kain besar ia bawa, penuh dengan beras, gula, dan kebutuhan lainnya. “Saya pilih yang murah, agar bisa menjual murah juga,” tuturnya.

Dari penghasilan warungnya, Bu Rasitem bisa membantu keperluan rumah tangga keluarganya. “Alhamdulillah, cukup. Tidak kaya, tetapi cukup,” ucapnya sambil tersenyum. 

Di sudut warung, terdapat buku catatan kecil berisi daftar utang pelanggan.  Ada nama-nama yang sudah tertulis berbulan-bulan, tetapi tidak pernah dihapus. “Saya tidak pernah meminta kembali. Kalau mereka ada, ya bayar. Kalau tidak, ya sudah,” jelasnya.

Malam itu, ketika lampu jalan mulai menyala, Bu Rasitem menutup warungnya. Ia menarik terpal biru yang menutupi pintu kayu.  Di dalam, masih ada beberapa barang yang belum terjual. Tetapi itu tidak masalah. Sebelum masuk ke rumah, ia berdiri sejenak di depan warung.  Ia menatap jalan gang yang mulai sepi. Terdengar suara jangkrik yang mulai bersahutan. Di tangannya, ada kunci warung yang sudah lusuh.

“Besok saya buka lagi,” katanya pelan. “Selama warga masih membutuhkan, saya akan tetap di sini.”

Di dinding warung, terdapat tulisan kapur yang sudah memudar: “Warung Bu Rasitem Melayani dengan Hati.” Malam itu, tulisan itu seolah berbisik. Mengingatkan bahwa di tengah gempuran minimarket modern, masih ada warung kecil yang bertahan bukan karena untung, tetapi karena peduli.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme