Oleh: Zakia Indah Pratiwi

Sumber: Zakia Indah Pratiwi
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Sore itu, matahari mulai condong ke barat. Bu Rasitem duduk di belakang meja kasir warungnya. Rak-rak kayu di belakangnya penuh dengan barang-barang kecil: sabun mandi, minyak goreng, hingga permen yang dibungkus plastik bening. Di sudut ruangan, lemari kayu berisi rokok berbagai merek tertata rapi. Kayu dinding warung yang semula kuat menjadi mulai keropos dan mengelupas di beberapa bagian.
Bu Rasitem, wanita berusia 55 tahun itu, menatap jalan di depan warungnya. Ia menunggu pelanggan yang mungkin lewat. Warung sederhana itu tidak lebih dari 3×4 meter. Lokasinya di sudut Gang Sempit, Desa Cipete, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Dindingnya dari kayu yang catnya mulai pudar. Lantainya masih berupa tanah. Namun, bagi warga sekitar, warung ini adalah pusat kehidupan. Dari sinilah mereka membeli kebutuhan sehari-hari, dari beras satu liter hingga minyak goreng eceran.
“Saya buka warung ini sudah 10 tahun, Mba,” kata Bu Rasitem ketika ditemui sore itu, sekitar pukul 16.00 WIB. Suaranya lembut, tetapi tegas. Tangannya yang mulai keriput bergerak cepat menghitung uang kembalian.
Pelanggan pertama sore itu adalah seorang ibu muda yang membawa anak kecil. “Bu, minta minyak goreng setengah liter,” ucapnya sambil menyerahkan botol plastik bekas. Bu Rasitem mengangguk, lalu mengambil corong dari rak. Dengan gerakan terlatih, ia menuangkan minyak dari drum besar ke dalam botol.“Rp15.000,00, Bu,” katanya sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian, seorang bapak tua masuk dengan langkah tertatih. Ia membeli rokok satu batang dan kopi sachet.“Ini untuk nanti malam, Bu. Biar tidak mengantuk jaga rumah,” ucapnya sambil tertawa kecil.
Bu Rasitem melayani semua pelanggan dengan sabar. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang merasa tidak dilayani. Baginya, warung ini bukan sekadar tempat jualan, tetapi juga tempat berbagi cerita.
“Dulu warung seperti ini ada lima di gang ini,” tuturnya sambil menatap ke luar jendela. “Sekarang tinggal dua. Yang lain sudah tutup, kalah dengan minimarket.”
Memang, sekitar satu kilometer dari warungnya, ada sebuah minimarket berlampu terang yang buka hingga malam. Namun, bagi warga Gang Sempit, warung Bu Rasitem tetap menjadi pilihan. Alasannya sederhana, mereka bisa membeli eceran, bisa berutang dulu, dan bisa mengobrol.
“Kadang ada yang tidak punya uang, saya kasih dulu. Nanti kalau ada, baru bayar,” jelasnya. “Saya tahu, mereka juga susah. Jadi, saya bantu sebisa saya.”
Salah satu pelanggan tetapnya, Pak RT, mengaku sangat terbantu dengan adanya warung ini. “Kalau malam-malam butuh sesuatu, ya ke sini. Minimarket jauh, sudah tutup pukul 22.00,” ucapnya.
Bu Rasitem membuka warungnya setiap hari dari pukul 06.00 hingga 22.00 WIB. Tidak ada hari libur. Tidak ada cuti. “Kalau saya tutup, warga repot,” katanya.
Setiap pagi, ia berangkat ke pasar tradisional untuk membeli barang dagangan. Tas kain besar ia bawa, penuh dengan beras, gula, dan kebutuhan lainnya. “Saya pilih yang murah, agar bisa menjual murah juga,” tuturnya.
Dari penghasilan warungnya, Bu Rasitem bisa membantu keperluan rumah tangga keluarganya. “Alhamdulillah, cukup. Tidak kaya, tetapi cukup,” ucapnya sambil tersenyum.
Di sudut warung, terdapat buku catatan kecil berisi daftar utang pelanggan. Ada nama-nama yang sudah tertulis berbulan-bulan, tetapi tidak pernah dihapus. “Saya tidak pernah meminta kembali. Kalau mereka ada, ya bayar. Kalau tidak, ya sudah,” jelasnya.
Malam itu, ketika lampu jalan mulai menyala, Bu Rasitem menutup warungnya. Ia menarik terpal biru yang menutupi pintu kayu. Di dalam, masih ada beberapa barang yang belum terjual. Tetapi itu tidak masalah. Sebelum masuk ke rumah, ia berdiri sejenak di depan warung. Ia menatap jalan gang yang mulai sepi. Terdengar suara jangkrik yang mulai bersahutan. Di tangannya, ada kunci warung yang sudah lusuh.
“Besok saya buka lagi,” katanya pelan. “Selama warga masih membutuhkan, saya akan tetap di sini.”
Di dinding warung, terdapat tulisan kapur yang sudah memudar: “Warung Bu Rasitem Melayani dengan Hati.” Malam itu, tulisan itu seolah berbisik. Mengingatkan bahwa di tengah gempuran minimarket modern, masih ada warung kecil yang bertahan bukan karena untung, tetapi karena peduli.
