SudutNalar, 19 September 2026

Ririn Kurnia Trisnawati, dosen Program Studi S1 Sastra Inggris Universitas Jenderal Soedirman
Sumber Foto: Ririn Kurnia Trisnawati
PURWOKERTO, SudutNalar—Perjalanan meraih pendidikan tinggi sejatinya bukan sekadar proses mengejar gelar, melainkan ruang pembuktian atas ketangguhan diri. Nilai inilah yang dipegang teguh oleh Ririn Kurnia Trisnawati, seorang akademisi yang kini mengabdi sebagai dosen Program Studi S1 Sastra Inggris di Universitas Jenderal Soedirman.
Pencapaian akademisnya semakin lengkap setelah menyempurnakan studi di tingkat tertinggi. Ririn resmi meraih gelar Doktor dalam bidang Pengutamaan Sastra Kontemporer dari Program Studi S3 Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, melalui sidang promosi doktor yang digelar pada Selasa, 3 Februari 2026 lalu.
Lahir dan dibesarkan dalam kesederhanaan di Sragen, perjalanan Ririn menuju dunia perguruan tinggi menjadi saksi kesungguhan niatnya. Saat menempuh studi awal di Yogyakarta, keterbatasan fasilitas tak lantas memadamkan langkahnya, ia terbiasa berjalan kaki hingga memanfaatkan bantuan rekan demi menghadiri bimbingan. Bagi Ririn, setiap tantangan tersebut justru menjadi proses pembentukkan diri untuk menyelesaikan studi dengan baik.
Dinamika perjalanan akademiknya berlanjut ketika melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Ia harus membagi fokus antara dedikasi sebagai pengajar dan tuntutan studi. Perjuangan tersebut menemui ujian berharga saat menempuh studi di Brunei Darusslam, di mana dinamika bimbingan dan situasi di luar kendalinya menjadi proses pembelajaran yang mendalam.
Titik tersebut menjadi momen paling menekan dalam perjalanannya. Meski sempat merasa berada di fase terendah, dorongan keluarga serta kesadaran untuk tidak berhenti membuat Ririn bangkit dan melanjutkan studi S3 di Universitas Padjadjaran, memanfaatkan pengalaman dan publikasi riset sebelumnya untuk terus melangkah hingga berhasil meraih gelar doktor.
Bagi Ririn, setiap tantangan merupakan bagian alami dari proses pembentukan karakter dan ketahanan mental. Pengalaman tersebut justru mengubah cara pandangnya terhadap pencapaian.
“Semakin banyak proses yang dilalui, semakin sadar bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Hal itu membuat keinginan untuk tetap rendah hati dan belajar menjadi lebih besar,” ungkap Ririn.
Kini, motivasi utamanya hadir dari ruang kelas. Melihat kemajuan serta keberhasilan anak didik menjadi energi positif yang terus memacunya untuk memberikan dedikasi terbaik.
Ia pun berpesan agar generasi muda memanfaatkan kemudahan fasilitas dan akses informasi saat ini secara bijak, tanpa kehilangan daya juang. Menurutnya, berada di lingkungan yang saling mendukung dan terus berbuat baik kepada sesama adalah kunci agar tetap berakar di tengah dinamika zaman.
Perjalanan Ririn memberikan pelajaran berharga, bahwa keberhasilan bukan diukur dari ketiadaan kegagalan, melainkan dari keberanian untuk bangkit, menikmati setiap proses yang tidak mudah, serta menjaga kesederhanaan di setiap langkah.
Penulis: Ardita Nadine Aulya
Editor: Indra Syahdan Ngatik
