Oleh: Nazzila Juny Month
Editor: Alfia Firqotun Najiyah
Senin, 21 September 2026 │ 19.20 WIB

Pemimpin Pondok Pesantren Al-Azhary Ajibarang, Ustaz Waffa Ruhul Bakah, (Sumber: Instagram @waffa_ruhul_bakah)
AJIBARANG — Menempa generasi unggul di era modern menuntut keseimbangan antara ilmu agama dan keterampilan zaman. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Ustaz Waffa Ruhul Bakah, pemimpin Pondok Pesantren Al-Azhary, Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Di balik kesahajaannya, tersimpan perjalanan hidup inspiratif yang membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk berprestasi.
Lahir di Lampung dan dibesarkan dalam kesederhanaan di Bangka, Ustaz Waffa kecil mengawali perjalanannya sejak usia 11 tahun di bawah bimbingan langsung Mbah Yusuf di Pondok Al-Azhary. Hanya dalam kurun waktu empat tahun, ia berhasil merampungkan hafalan Al-Qur’an. Berkat ketekunan menghafal Al-Qur’an dan penguasaan bahasa Arab, ia berhasil meraih beasiswa santri berprestasi untuk menimba ilmu di Damaskus, Suriah.
Masa studinya yang seharusnya empat tahun harus terpotong menjadi dua tahun akibat konflik geopolitik, sehingga memaksa kepulangannya ke tanah air. Sekembalinya ia, mendapati kekosongan kepemimpinan di Pondok Al-Azhary karena pengasuh utama pondok sedang ke Jakarta. Beliau yang saat itu belum lulus SMA, diamanahi untuk meneruskan estafet perjuangan Mbah Yusuf karena dianggap mampu.
“Di sini pesantrennya pesantren tahfidz, mungkin dilihat saya yang mewariskan keilmuan dari Mbah untuk Qurannya, maka saya diminta untuk meneruskan,” Ujar beliau. Sembari merampungkan pendidikan formalnya hingga akhirnya meraih gelar magister di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (Saizu) Purwokerto.
Bagi Ustaz Waffa, kesuksesan didorong oleh kedisiplinan, doa, serta dukungan mentor dan keluarga. Nilai keteladanan ini pula yang ia tularkan kepada para santri. Di era modern, Ustaz Waffa membawa pembaruan di Pondok Al-Azhary. Meski berakar sebagai pesantren tahfidz, lembaganya kini menaungi jenjang MI, MTs, hingga MA. Ia tidak mewajibkan santri menyelesaikan 30 juz secara mutlak, melainkan memberikan kebebasan bagi santri untuk fokus mendalami bidang lain seperti sains, teknologi, bahasa, maupun keterampilan umum agar kelak memiliki ijazah formal yang kompetitif.
“Jangan sampai mereka hafal Al-Qur’an, tetapi kesulitan menjalani kehidupan,” ujar Ustaz Waffa menegaskan pentingnya keseimbangan antara ijazah formal dan bekal keagamaan.
Melalui kepemimpinannya, Ustaz Waffa konsisten menanamkan mental pemberi (giving mentality) kepada para santrinya. Ia berpesan agar kelak para lulusan mampu mengisi berbagai profesi strategis, mulai dari tenaga medis, birokrat, hingga wirausahawan, dengan tetap menjadikan nilai-nilai luhur Al-Qur’an sebagai landasan moral. Pesantren Al Azhary membuktikan bahwa penguatan karakter dasar yang istiqomah mampu melahirkan generasi Islam yang tidak sekadar pintar, tetapi juga solutif bagi kemajuan bangsa.
