Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Pengabdian Tanpa Suara: Kisah Pak Arif Menjaga Wajah Kota Purwokerto

Posted on Oktober 8, 2026 by jejakpersepsi@gmail.com

Oleh: Indra Syahdan Ngatik

Sumber Foto: Indra Syahdan Ngatik

BANYUMAS, SUDUTNALAR—Langit Purwokerto sore itu perlahan meredup, memantulkan warna jingga keemasan di balik rimbunnya pohon-pohon beringin. Di tengah lapangnya Alun-Alun Purwokerto, denyut kehidupan sore berdetak begitu riuh. Gelak tawa anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun berpadu dengan kepulan asap tipis dari gerobak pedagang kaki lima. Di sudut lain, warga duduk bersantai menikmati angin senja, melepas penat setelah seharian bergelut dengan berbagai rutinitas.

Namun, di balik hiruk-pikuk manusia yang tengah merayakan waktu istirahat mereka, ada satu ritme konstan yang terus bergesek dengan lembut: srekk… srekk… srekk…

Suara itu berasal dari sapu lidi yang digenggam erat oleh tangan-tangan yang kulitnya telah menggelap tersengat matahari. Ia adalah Arif (42), seorang petugas kebersihan ruang publik yang sore itu tengah berjibaku menepis debu dan sampah di jantung kota Purwokerto.

Bagi Arif, pelataran luas Alun-Alun Purwokerto bukan sekadar tempat wisata, melainkan medan pengabdian harian yang ia jalani sejak tahun 2021. Perjalanan kariernya di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas telah membawanya melanglang buana ke berbagai titik wilayah.

“Dulu awalnya saya bertugas di sini, di Alun-Alun Purwokerto. Setahun kemudian, saya dipindah ke Jalan Ahmad Yani, hingga akhirnya kini ditarik kembali ke sini,” ujar Arif sambil menyeka peluh di dahinya yang bercampur debu jalanan.

Sebagai petugas kebersihan di salah satu titik paling ramai di Banyumas, Arif tidak bekerja seorang diri. Untuk area seluas itu, beban kerja dibagi secara terstruktur: dua orang bertugas pada giliran pagi mulai pukul 05.00 hingga 11.30 WIB, sementara Arif memegang kendali penuh seorang diri pada giliran sore mulai pukul 15.30 hingga 22.00 WIB.

Saat jam-jam sore beranjak malam, tantangan terbesarnya bukan sekadar cuaca yang kadang berubah gerimis, melainkan sisa-sisa jejak yang ditinggalkan para pengunjung. Menurut Arif, jenis sampah yang paling sulit dibersihkan dan menguras tenaga adalah sampah sisa makanan serta plastik kecil yang berserakan di antara sela-sela lantai.

Kendati demikian, Arif melihat secercah harapan yang mulai tumbuh di tengah masyarakat tahun ini. Kesadaran warga Purwokerto terhadap kebersihan dinilai perlahan-lahan semakin membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, hari-hari biasa tentu berbeda ketika kota ini kedatangan gelombang massa yang besar.

“Pada hari-hari biasa, situasi masih cukup terkendali. Namun, apabila ada acara besar, volume sampah langsung meningkat drastis, sehingga kami harus mengerahkan tenaga ekstra,” kenang Arif dengan nada tenang. Ia mencontohkan momen saat acara nonton bersama pertandingan final FIFA ASEAN Cup beberapa waktu lalu, ketika kerumunan massa meninggalkan tumpukan sampah yang jauh lebih berat untuk diselesaikan.

Ketika ditanya perasaannya melihat ratusan orang datang ke Alun-Alun Purwokerto untuk berlibur dan bersantai sementara ia justru harus membungkuk memunguti sampah mereka Arif menjawab dengan senyuman hangat. Bagi seorang kepala keluarga ini, pekerjaan adalah bentuk tanggung jawab mulia yang harus diemban dengan profesionalisme tinggi.

“Bagi saya, pekerjaan ini dijalani dengan ikhlas. Niat utamanya adalah mencari rezeki yang halal untuk keluarga tercinta di rumah,” tutur Arif penuh kelembutan.

Rasa cinta kepada keluarga, ditambah komitmen profesional sebagai abdi kebersihan lingkungan, menjadi bahan bakar utama yang membuat langkah kakinya tidak pernah lelah menyusuri tiap jengkal ubin Alun-Alun Purwokerto hingga malam menjelang.

Menjelang magrib, lampu-lampu taman mulai menyala terang, memantulkan bias cahaya pada keramik bersih yang baru saja ia sapu. Sebelum kembali mengayunkan sapunya ke arah selatan lapangan, Arif menitipkan sebuah pesan bijak namun sarat makna bagi siapa saja yang menikmati keindahan kota mendoan ini.

“Mohon kesadaran dari bapak, ibu, dan rekan-rekan sekalian untuk senantiasa membuang sampah pada tempatnya. Di Alun-Alun Purwokerto ini, fasilitas tempat sampah sudah disediakan cukup banyak, sehingga sangat mudah untuk dijangkau,” ucapnya ramah.

Ketika kita melangkah pulang meninggalkan alun-alun yang bersih dan nyaman di malam hari, sering kali kita lupa bahwa keindahan itu bukanlah ciptaan alam semata. Ia dirawat dan dijaga oleh ketulusan tangan-tangan sepertinya sebuah pengingat sunyi bahwa martabat sebuah kota tercermin dari seberapa besar kita menghargai keringat orang yang merawatnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme