Oleh: Indra Syahdan Ngatik

BANYUMAS, SUDUTNALAR—Langit Purwokerto sore itu perlahan meredup, memantulkan warna jingga keemasan di balik rimbunnya pohon-pohon beringin. Di tengah lapangnya Alun-Alun Purwokerto, denyut kehidupan sore berdetak begitu riuh. Gelak tawa anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun berpadu dengan kepulan asap tipis dari gerobak pedagang kaki lima. Di sudut lain, warga duduk bersantai menikmati angin senja, melepas penat setelah seharian bergelut dengan berbagai rutinitas.
Namun, di balik hiruk-pikuk manusia yang tengah merayakan waktu istirahat mereka, ada satu ritme konstan yang terus bergesek dengan lembut: srekk… srekk… srekk…
Suara itu berasal dari sapu lidi yang digenggam erat oleh tangan-tangan yang kulitnya telah menggelap tersengat matahari. Ia adalah Arif (42), seorang petugas kebersihan ruang publik yang sore itu tengah berjibaku menepis debu dan sampah di jantung kota Purwokerto.
Bagi Arif, pelataran luas Alun-Alun Purwokerto bukan sekadar tempat wisata, melainkan medan pengabdian harian yang ia jalani sejak tahun 2021. Perjalanan kariernya di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas telah membawanya melanglang buana ke berbagai titik wilayah.
“Dulu awalnya saya bertugas di sini, di Alun-Alun Purwokerto. Setahun kemudian, saya dipindah ke Jalan Ahmad Yani, hingga akhirnya kini ditarik kembali ke sini,” ujar Arif sambil menyeka peluh di dahinya yang bercampur debu jalanan.
Sebagai petugas kebersihan di salah satu titik paling ramai di Banyumas, Arif tidak bekerja seorang diri. Untuk area seluas itu, beban kerja dibagi secara terstruktur: dua orang bertugas pada giliran pagi mulai pukul 05.00 hingga 11.30 WIB, sementara Arif memegang kendali penuh seorang diri pada giliran sore mulai pukul 15.30 hingga 22.00 WIB.
Saat jam-jam sore beranjak malam, tantangan terbesarnya bukan sekadar cuaca yang kadang berubah gerimis, melainkan sisa-sisa jejak yang ditinggalkan para pengunjung. Menurut Arif, jenis sampah yang paling sulit dibersihkan dan menguras tenaga adalah sampah sisa makanan serta plastik kecil yang berserakan di antara sela-sela lantai.
Kendati demikian, Arif melihat secercah harapan yang mulai tumbuh di tengah masyarakat tahun ini. Kesadaran warga Purwokerto terhadap kebersihan dinilai perlahan-lahan semakin membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, hari-hari biasa tentu berbeda ketika kota ini kedatangan gelombang massa yang besar.
“Pada hari-hari biasa, situasi masih cukup terkendali. Namun, apabila ada acara besar, volume sampah langsung meningkat drastis, sehingga kami harus mengerahkan tenaga ekstra,” kenang Arif dengan nada tenang. Ia mencontohkan momen saat acara nonton bersama pertandingan final FIFA ASEAN Cup beberapa waktu lalu, ketika kerumunan massa meninggalkan tumpukan sampah yang jauh lebih berat untuk diselesaikan.
Ketika ditanya perasaannya melihat ratusan orang datang ke Alun-Alun Purwokerto untuk berlibur dan bersantai sementara ia justru harus membungkuk memunguti sampah mereka Arif menjawab dengan senyuman hangat. Bagi seorang kepala keluarga ini, pekerjaan adalah bentuk tanggung jawab mulia yang harus diemban dengan profesionalisme tinggi.
“Bagi saya, pekerjaan ini dijalani dengan ikhlas. Niat utamanya adalah mencari rezeki yang halal untuk keluarga tercinta di rumah,” tutur Arif penuh kelembutan.
Rasa cinta kepada keluarga, ditambah komitmen profesional sebagai abdi kebersihan lingkungan, menjadi bahan bakar utama yang membuat langkah kakinya tidak pernah lelah menyusuri tiap jengkal ubin Alun-Alun Purwokerto hingga malam menjelang.
Menjelang magrib, lampu-lampu taman mulai menyala terang, memantulkan bias cahaya pada keramik bersih yang baru saja ia sapu. Sebelum kembali mengayunkan sapunya ke arah selatan lapangan, Arif menitipkan sebuah pesan bijak namun sarat makna bagi siapa saja yang menikmati keindahan kota mendoan ini.
“Mohon kesadaran dari bapak, ibu, dan rekan-rekan sekalian untuk senantiasa membuang sampah pada tempatnya. Di Alun-Alun Purwokerto ini, fasilitas tempat sampah sudah disediakan cukup banyak, sehingga sangat mudah untuk dijangkau,” ucapnya ramah.
Ketika kita melangkah pulang meninggalkan alun-alun yang bersih dan nyaman di malam hari, sering kali kita lupa bahwa keindahan itu bukanlah ciptaan alam semata. Ia dirawat dan dijaga oleh ketulusan tangan-tangan sepertinya sebuah pengingat sunyi bahwa martabat sebuah kota tercermin dari seberapa besar kita menghargai keringat orang yang merawatnya.
