Purwokerto — Aksi Kamisan digelar di depan Patung Kuda Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Kamis (10/9/2026). Aksi tersebut mengangkat tema “Aksi Kamisan: Tanjung Priok, 12 September 1984: Luka yang Tak Kunjung Sembuh.” Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mengingat kembali persoalan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Dalam aksi tersebut, Presiden BEM Unsoed 2026, Azza Febra Pramudika, menyampaikan orasi di hadapan peserta. Ia menggunakan payung hitam yang menjadi salah satu simbol Aksi Kamisan. Peserta aksi juga membawa poster dan tulisan sebagai bentuk penyampaian aspirasi mengenai isu HAM.
Tema yang diangkat berkaitan dengan Peristiwa Tanjung Priok pada 12 September 1984 di Jakarta Utara. Peristiwa tersebut terjadi setelah adanya ketegangan antara masyarakat dan aparat hingga berujung pada bentrokan yang menyebabkan korban meninggal dan luka-luka. Komnas HAM mencatat Peristiwa Tanjung Priok 1984 sebagai salah satu peristiwa pelanggaran HAM berat.
Melalui Aksi Kamisan ini, peserta kembali mengingat peristiwa tersebut dan menyampaikan aspirasi mengenai pentingnya keadilan bagi para korban. Penyampaian orasi, penggunaan payung hitam, serta poster yang dibawa peserta menjadi bagian dari aksi untuk menjaga ingatan terhadap peristiwa yang terjadi lebih dari empat dekade lalu.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa isu pelanggaran HAM masih menjadi perhatian mahasiswa dan masyarakat. Aksi Kamisan juga menjadi salah satu bentuk penyampaian pendapat di ruang publik dengan membawa pesan agar peristiwa masa lalu tetap diingat dan tidak dilupakan.
Penulis: Muhammad Faqih Yahya
