
Foto: Linda Agustriana (22/9/2026)
PURWOKERTO, SudutNalar – Menjadi seorang guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang kesabaran, ketulusan, dan pengabdian. Hal tersebut dirasakan oleh Musliah, seorang guru SD di Banyumas yang tetap bertahan mendidik anak-anak meskipun menghadapi berbagai tantangan selama menjalankan profesinya.
Musliah mengatakan bahwa keinginannya menjadi guru berawal dari panggilan jiwa. Ia merasa tersentuh ketika melihat semangat anak-anak dalam belajar. “Alasan saya memilih menjadi guru SD karena panggilan jiwa. Panggilan jiwa itu tumbuh ketika saya melihat anak-anak, hingga muncul keinginan untuk belajar bersama mereka,” ujar Musliah.
Perjalanan Musliah menjadi guru ASN P3K tidak singkat. Ia mengawali pengabdiannya sebagai guru honorer di Kabupaten Cilacap sebelum pindah ke Kabupaten Banyumas pada 2011. Selama menjalani profesinya, ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mendampingi anak berkebutuhan khusus (ABK), menghadapi beragam karakter siswa, hingga persoalan honor saat masih menjadi guru honorer.
Perjalanan panjang tersebut sempat membuat Musliah merasa ingin menyerah. Namun, kecintaannya terhadap dunia pendidikan membuatnya memilih untuk tetap bertahan. “Saya pernah merasa ingin menyerah karena sudah menjadi abdi negara sejak 2004. Namun, profesi ini tetap saya jalani dengan panggilan jiwa dan sesuai dengan niat awal saya untuk belajar bersama anak-anak,” tuturnya.
Bagi Musliah, perjuangan tersebut terbayar ketika melihat perkembangan siswanya. Ia merasa bangga ketika siswa yang awalnya mengalami kesulitan belajar akhirnya mampu memahami pelajaran. “Ketika di awal pembelajaran anak-anak belum bisa, lalu di akhir pembelajaran mereka akhirnya bisa, itu merupakan sebuah kebanggaan bagi seorang guru,” ujarnya.
Kebahagiaan Musliah semakin terasa ketika melihat siswa yang telah lulus kembali dengan membawa kesuksesan dan memberikan semangat kepada adik-adik kelasnya. Menurutnya, keberhasilan siswa menjadi salah satu kebanggaan terbesar setelah proses panjang mendampingi mereka.
Tidak hanya mengajarkan materi, Musliah juga berusaha menanamkan nilai kehidupan kepada siswa, seperti etika, sopan santun, dan karakter yang sesuai dengan pengamalan Pancasila. Hal tersebut menjadi nilai penting dalam pengabdiannya karena pendidikan menurutnya bukan hanya membuat siswa pintar, tetapi juga membentuk karakter yang baik.
Bagi Musliah, guru adalah pelita yang membantu menerangi jalan anak-anak menuju masa depan. Ia berharap ilmu dan nilai yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Guru ibarat sebuah lampu atau pelita yang rela menghabiskan waktunya demi anak-anak, agar mereka dapat menjadi bintang di masa depan,” pungkas Musliah.
Penulis : Linda Agustriana
Editor : Sahna Naely Yazida
