Reporter: Hayudya Komalashinta | Editor: Gevira Dewi
sudutnalar.com, 11 September 2026

(Foto: Hayudya Komalashinta)
BANYUMAS, Sudut Nalar – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan globalisasi, kesenian wayang tetap bertahan sebagai salah satu warisan budaya bernilai luhur di Banyumas. Melalui berbagai koleksi di Museum Wayang Banyumas, masyarakat diajak mengenal lebih dekat nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Pengelola sekaligus pemandu Museum Wayang Banyumas, Trijono Indra Winaryo atau yang akrab disapa Pak Indra, mengatakan bahwa wayang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran kehidupan. Menurutnya, karakter dan alur cerita dalam pewayangan memuat nilai moral yang masih relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Wayang itu sebenarnya media pembelajaran hidup. Dari karakter dan lakonnya, masyarakat bisa belajar tentang kebaikan dan keburukan dalam kehidupan,” ujarnya
Indra menjelaskan bahwa kisah-kisah yang diangkat dalam pewayangan, seperti Mahabharata dan Ramayana, merefleksikan berbagai karakter manusia. Tokoh Pandawa menjadi simbol kebaikan, sedangkan Kurawa menyimbolkan angkara murka dan sifat buruk. Lewat lakon-lakon tersebut, masyarakat dapat memetik pelajaran tentang pentingnya nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.
Selain kaya akan nilai moral, wayang Banyumas juga memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan gaya pewayangan daerah lain. Keunikan tersebut terlihat dari penokohan, penamaan figur, hingga latar budaya pertunjukkan. Kekhasan inilah yang menjadi bagian dari identitas budaya lokal dan terus dijaga hingga kini.
Salah satu keunikan yang paling menonjol adalah sosok Bawor. Tokoh yang di daerah lain dikenal sebagai Bagong ini memiliki peran penting dan kedekatan emosional tersendiri bagi masyarakat Banyumas.

(foto: Hayudya Komalashinta)
“Bawor memiliki kepolosan dan kejujuran. Karakter itulah yang menjadi simbol masyarakat Banyumas yang dikenal terbuka dan berani menyampaikan kebenaran,” tutur Indra.
Sifat lugas, jujur, dan apa adanya pada diri Bawor bukan dimaksudkan untuk menyinggung perasaan orang lain, melainkan mencerminkan keberanian moral. Watak tersebut dikenal sebagai sikap cablaka, salah satu jati diri utama masyarakat Banyumas.
Keberadaan Museum Wayang Banyumas berperan penting dalam merawat ingatan budaya tersebut. Museum ini menyimpan berbagai wayang bernilai sejarah, termasuk wayang kulit buatan tahun 1925. Terdapat pula koleksi Wayang Krucil dan Wayang Klitik yang kerap membawakan epos rakyat seperti Damarwulan dan Minak Jinggo.

Kendati demikian, pelestarian wayang di era modern bukan tanpa tantangan. Indra mengungkapkan bahwa masih banyak generasi muda yang belum mengenal narasi maupun filosofi pewayangan. Oleh karena itu, pengelola terus berupaya menghadirkan narasi yang lebih segar dan mudah dipahami oleh generasi kiwari.
“Datangnya generasi muda ke museum menjadi langkah awal untuk mengenalkan budaya wayang. Harapannya, mereka tidak sekadar melihat koleksi secara fisik, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” tuturnya.
Indra menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan semata-mata menjadi beban pengelola museum atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Budaya adalah milik bersama yang harus kita tumbuhkan, bangun, dan pertahankan. Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaganya?” pungkas Indra.
Pada akhirnya, Museum Wayang Banyumas tidak hanya menjadi ruang penyimpanan koleksi bersejarah, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenal jati diri, nilai kehidupan, dan kearifan lokal yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
