Moza Abhista Daniswara
sudutnalar.com, 12 September 2026.

PURWOKERTO, Sudut Nalar – Museum Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Purwokerto, Banyumas. Museum ini menyimpan berbagai koleksi dan replika yang berkaitan dengan perjalanan serta perjuangan Jenderal Soedirman. Keberadaannya dapat menjadi pilihan bagi masyarakat, khususnya pelajar, untuk mengenal lebih dekat sosok Panglima Besar yang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Museum Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman berlokasi di Jalan Pattimura Nomor 240A, Dusun II, Pasir Kidul, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Museum ini memiliki wilayah yang masuk ke Karanglewas Lor dan Karanglewas Kidul. “Yang gambar Garuda, sebelah depan ikutnya Karanglewas Lor, Kecamatan Purwokerto Barat. Garuda ke belakang masuknya Karanglewas Kidul, Kecamatan Karanglewas. Cuma kan lebih terkenalnya di sini ikutnya Purwokerto Barat,” ujar Roni Tri Suharno, selaku pengelola sekaligus pemandu wisata.
Pembagian wilayah tersebut juga terlihat dalam urusan administrasi ketika museum mengadakan kegiatan. “Makanya kenapa kalau di sini ada acara atau kegiatan yang rame gitu biasanya tembusan untuk surat izinnya itu antara Purwokerto Barat dan Karanglewas. Karena sama-sama wilayah mereka,” kata Roni.
Museum ini dapat dikunjungi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB dengan harga tiket masuk sebesar Rp2.000 per orang. Pengunjung yang membawa kendaraan juga dikenakan biaya parkir sebesar Rp2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp3.000 untuk kendaraan roda empat. Museum ini juga menyediakan berbagai fasilitas, seperti ruang museum, taman bermain, kolam renang anak, tempat parkir, toilet, kantin, tempat duduk, dan musala.
Museum ini diperkirakan mulai dibangun pada 1993 oleh yayasan. Sekitar November 1994, museum tersebut kemudian diresmikan sekaligus penyerahterimaan kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas. “Kalau dibangunnya tanggal berapa, bulan berapa, tahun berapanya kami enggak tahu, kira-kira ini dibangunnya 1993. Sekitar November 1994 Museum ini diresmikan. Pada acara peresmiannya sekaligus penyerahterimaan kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas,” ujar Roni Tri Suharno.

Memasuki bagian dalam museum, pengunjung dapat melihat berbagai replika yang berkaitan dengan sosok Jenderal Soedirman. Koleksi tersebut di antaranya berupa uang bergambar Jenderal Soedirman, patung, serta miniatur yang menggambarkan kisah dan perjalanan perjuangannya. Berbagai koleksi itu memberikan gambaran kepada pengunjung tentang sosok Panglima Besar Jenderal Soedirman dan perjuangannya dalam sejarah Indonesia.
Roni Tri Suharno, selaku pengelola sekaligus pemandu wisata, mengatakan bahwa seluruh benda yang terdapat di museum tersebut merupakan replika. Benda-benda peninggalan Jenderal Soedirman yang asli telah dikumpulkan di museum pusat yang berada di Yogyakarta dan dikelola oleh Dinas Sejarah Angkatan Darat. “Tidak ada, semuanya replika. Kalau yang lain sudah ditarik semua ke museum yang ada di Yogyakarta, sudah langsung dikelola oleh Dinas Sejarah Angkatan Darat,” ujar Roni.
Meskipun koleksi yang dipamerkan berupa replika, keberadaannya tetap membantu pengunjung melihat gambaran mengenai sosok dan perjalanan perjuangan Jenderal Soedirman. Koleksi tersebut juga melengkapi pengalaman pengunjung saat mengenal sejarah melalui museum.

Dari berbagai koleksi yang dipamerkan, tandu menjadi salah satu benda yang cukup menarik perhatian pengunjung. Tandu tersebut juga menjadi koleksi yang paling ikonik karena berkaitan erat dengan perjalanan perjuangan Jenderal Soedirman.
“Menurut saya yang paling ikonik, unik, dan sebagainya itu tandunya. Ketika orang melihat tandu itu, mindset mereka langsung, ‘Oh ini milik Jenderal Soedirman’,” ujar Roni Tri Suharno.
Kunjungan ke museum ini juga masih didominasi oleh kalangan pendidikan pada hari Senin hingga Jumat, terutama pelajar. Sementara pada akhir pekan, pengunjung yang datang lebih beragam. Roni mengatakan jumlah pengunjung setiap tahunnya cenderung mengalami peningkatan.
Ke depannya, pengelola berharap dapat menambah daya tarik di area luar museum, terutama dengan menambahkan fasilitas yang dapat meningkatkan minat pengunjung untuk datang. “Kami mempunyai harapan dan angan-angan ke depannya, kami ingin menambah daya tarik terutama di luar museumnya,” kata Roni.
Penulis – Moza Abhista Daniswara
Editor – Abimanyu Excel Mulya
