
Foto :Â Sahna Naely Yazida ( 19/9/2026 )
BREBES, SudutNalar-Muhammad Nurofik, S.E. Menjabat sebagai Kepala Pasar Jatisawit Bumiayu, sejak awal tahun 2024 sampai dengan sekarang, setelah sebelumnya meniti karier dari bawah sebagai staf operasional dan koordinator lapangan, dengan latar belakang pendidikan di bidang manajemen bisnis. Baginya, posisi ini bukan sekadar jabatan struktural, melainkan panggilan untuk membenahi wajah pasar tradisional yang selama ini identik dengan kesan kumuh. Keresahan itu muncul sejak ia menyaksikan sendiri kondisi pasar yang padat dan kotor usai diguyur hujan, bertahun-tahun sebelum ia menjabat.
Sejak awal bertugas, Muhammad Nurofik, S.E berkomitmen menghadirkan suasana kekeluargaan sekaligus pelayanan prima bagi seluruh pedangang dan pembeli di pasar Jatisawit Bumiayu, ia juga menjelaskan tentang pelayanan, melayani berarti mau turun langsung ke lapangan dan mendengarkan keluhan para pedagang, ini sebuah filosofi yang ia pegang hingga kini.
Prinsip itu tidak sekadar slogan. ia turun langsung ke lapangan dan melihat kondisi atau keadaan pasar, menampung aspirasi pedagang dan paguyuban jika ada permasalahan yang timbul untuk disampaikan ke Dinas Perdagangan Kabupaten Brebes. Kedekatan dengan pedagang juga ia rawat melalui kegiatan kebersamaan seperti pengajian dan perayaan Maulid Nabi, hal yang menurutnya membedakan gaya kepemimpinannya.
Saat pasar dilanda persoalan sampah yang menumpuk berlebihan, ia turun langsung menggerakkan staf, paguyuban, dan pedagang untuk kerja bakti bersama. Tantangan lain, yakni relokasi dan penataan pedagang kaki lima, ia selesaikan dengan prinsip menata secara tertib tanpa mematikan mata pencaharian mereka.
Dua nilai menjadi pegangannya dalam bekerja, yaitu mendorong pendapatan UMKM dan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Nilai tersebut diterjemahkan dalam kerja hariannya, mulai dari mengecek jumlah pedagang yang buka dan tutup, hingga memantau harga barang untuk dilaporkan kepada dinas terkait. Dari situ lahir sejumlah terobosan konkret, di antaranya pengelolaan sampah organik dan anorganik melalui budi daya maggot, dan penyediaan ruang Laktasi bagi pedagang maupun pembeli dalam kondisi menyusui sehingga memberikan rasa nyaman untuk mereka, serta program K3 (ketertiban, kebersihan, keamanan) yang berjalan beriringan dengan optimalisasi retribusi harian sebagai sumber PAD.

Foto :Â Sahna Naely Yazida ( 19/9/2026 )
Ke depan, ia menargetkan revitalisasi fisik dan kebersihan pasar, peningkatan keamanan, kenyamanan pengunjung, hingga digitalisasi transaksi nontunai.
la juga menyampaikan keinginannya memimpin transisi agar pasar tradisional bisa naik kelas menjadi pasar modern, namun tetap mempertahankan ciri khas pasar tradisional.
Kepada masyarakat, ia berpesan agar tetap mencintai pasar tradisional dengan terus berbelanja, karena hal itu menopang perputaran ekonomi lokal dan kesejahteraan ratusan keluarga pedagang kecil serta pelaku UMKM. Sementara itu, kepada para pedagang, ia mengajak untuk terbuka terhadap perubahan dan beradaptasi dengan teknologi, baik secara digital maupun nondigital. la menutup dengan menyampaikan bahwa pasar tradisional adalah tempat terjadinya tawar-menawar yang humanis.
Penulis : Sahna Naely Yazida
Editor : Linda Agustriana
