
BANYUMAS, SudutNalar β Sebelum mampu membeli laptop dengan spesifikasi tinggi seharga belasan juta rupiah, Ade Saputra mengerjakan desain grafis hanya bermodalkan sebuah HP dan aplikasi PixelLab. Tanpa kursus khusus atau perangkat canggih, ia belajar secara otodidak dari layar kecil yang setiap hari berada dalam genggamannya. Siapa sangka, keterampilan yang awalnya ia pelajari sendiri itu kelak menjadi sumber penghasilan untuk membiayai kuliah dan membangun masa depannya.
Ade mulai mengenal desain grafis ketika duduk di kelas XI SMK. Ketertarikannya muncul setelah melihat teman-temannya membuat desain. Ia kemudian mencoba mempelajarinya sendiri melalui HP. Saat itu, desain masih menjadi keterampilan yang terus ia asah, tanpa mengetahui sejauh mana kemampuan tersebut akan membawanya.
Di balik keinginannya untuk bekerja sejak muda, ada kehilangan yang turut membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Ayah Ade meninggal ketika ia masih duduk di kelas III SMP. Kehilangan tersebut menjadi salah satu titik yang mendorongnya untuk belajar mandiri lebih cepat. Ia tidak ingin terus bergantung secara finansial kepada ibu dan kakaknya. Ia ingin mampu memenuhi kebutuhannya sendiri sekaligus meringankan beban keluarga.
Keinginan itu perlahan menemukan jalannya melalui desain grafis. Ketika duduk di kelas XII SMK, Ade memperoleh klien pertamanya, sebuah usaha konveksi di Banyumas yang membutuhkan desain untuk feed Instagram. Ia mendapatkan bayaran sekitar Rp600 ribu per bulan, dengan target kurang lebih satu desain setiap hari atau sekitar Rp20 ribu per desain.
Bagi Ade, pekerjaan tersebut menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hobi. Kemampuan yang dipelajari secara mandiri mulai menghasilkan uang. Ia belajar memenuhi kebutuhan klien, menyelesaikan pekerjaan sesuai target, dan memahami bahwa keterampilan yang diasah dengan tekun dapat memiliki nilai ekonomi.
Setelah lulus SMK, Ade sebenarnya tidak berencana melanjutkan kuliah. Ia lebih memilih bekerja. Namun, kesempatan memperoleh beasiswa KIP-K mengubah rencananya. Ia akhirnya melanjutkan pendidikan di jurusan Informatika sambil mempertahankan pekerjaannya sebagai desainer.
Memasuki masa kuliah, Ade mulai memperluas jangkauan pekerjaannya ke pasar internasional. Ia terinspirasi oleh teman-teman di komunitas desain yang telah lebih dahulu memperoleh klien luar negeri. Melihat peluang tersebut, ia memberanikan diri mencoba.
Keyakinannya sederhana.
βKalau mereka bisa, saya juga pasti bisa.β
Usahanya perlahan berkembang. Ade mulai bekerja dengan sejumlah studio desain yang melayani klien luar negeri. Kini, sekitar empat sampai lima studio rutin menggunakan jasanya. Kliennya beragam, mulai dari individu dan YouTuber hingga Virtual YouTuber (VTuber). Salah satu proyek besar yang pernah ditanganinya adalah Fandom Flush Studio, penyedia merchandise resmi untuk berbagai fandom, termasuk Marvel dan K-Pop.
Namun, perkembangan pekerjaan itu tidak serta-merta menghilangkan keterbatasan yang pernah dihadapinya. Klien internasional membutuhkan desain dengan resolusi dan detail tinggi. Beberapa studio juga meminta berkas master yang kompatibel dengan PC atau laptop, sementara Ade masih mengandalkan HP untuk mengerjakan desain. Perbedaan antara tuntutan pekerjaan dan perangkat yang dimiliki sempat menjadi penghambat.
Meski demikian, Ade tidak berhenti mengembangkan kemampuannya. Ia merasakan bahwa klien tetap menghargai hasil pekerjaannya, bukan semata-mata perangkat yang digunakan untuk membuatnya. Pengalaman tersebut membuatnya terus berusaha meningkatkan kualitas desain di tengah keterbatasan yang ada.
Perjalanannya pun tidak selalu berjalan mulus. Ade pernah menjadi korban penipuan setelah menerima tawaran proyek dengan bayaran besar. Seusai mengerjakan pekerjaan tersebut, ia menerima email pembayaran palsu dan diminta mengembalikan sejumlah uang. Karena belum memahami modus penipuan itu, ia akhirnya mengalami kerugian.
Komentar meremehkan dari orang-orang di sekitarnya juga pernah ia terima. Namun, Ade memilih tetap berfokus pada pekerjaan dan kemampuannya. Ia tidak ingin perkataan orang lain menentukan sejauh mana dirinya dapat berkembang.
Pilihan tersebut menuntut tanggung jawab yang tidak sedikit. Sebagai mahasiswa, Ade harus membagi waktu antara pekerjaan desain, tugas kuliah, ujian akhir semester, dan kehidupan sehari-hari. Ia juga perlu mengoordinasikan empat pekerja yang kini membantunya. Dari penghasilan desain, ia membiayai kebutuhan kuliah dan transportasinya sendiri.

Perjalanan yang dahulu hanya berawal dari HP kini membawanya pada pencapaian yang lebih besar. Ade berhasil membeli laptop dengan spesifikasi tinggi yang telah diimpikannya sejak SMK secara tunai, dengan harga belasan juta rupiah. Ia juga membeli gawai secara tunai untuk menunjang pekerjaannya sebagai desainer.
Ketika diminta menyampaikan sesuatu kepada dirinya sendiri di masa SMK, Ade memilih mengungkapkan rasa bangga.
βSaya sangat bangga pada dia.β
Ia bangga karena dirinya yang dahulu bersedia mengurangi waktu bermain dan nongkrong untuk mengasah keterampilan serta membangun bisnis. Baginya, perjuangan dan konsistensi pada masa itu menjadi bagian penting dari pencapaiannya sekarang.
Kini, HP yang dahulu menjadi satu-satunya perangkat untuk belajar desain telah menjadi bagian dari cerita awal perjuangannya. Dari layar kecil itu, Ade belajar bahwa kesempatan tidak selalu datang bersama fasilitas yang sempurna. Ia memulai dengan apa yang dimilikinya, mengembangkan kemampuan secara mandiri, dan terus mencoba meskipun menghadapi berbagai hambatan.
Kehilangan ayah tidak dapat diubah, tetapi Ade terus membangun langkahnya sendiri untuk menjalani kehidupan. Melalui desain grafis, ia menemukan cara untuk memperoleh penghasilan, memenuhi kebutuhan kuliah, dan mengembangkan pekerjaan yang kini melibatkan orang lain.
Dari sebuah HP, ia belajar desain. Dari desain seharga Rp20 ribu, ia belajar menghasilkan uang. Kini, keterampilan yang dahulu diasah dalam keterbatasan membantunya membangun masa depan dengan kemampuannya sendiri. Perjalanan Ade menjadi pengingat bahwa seseorang tidak harus menunggu memiliki fasilitas lengkap untuk memulai. Terkadang, langkah kecil yang dikerjakan dengan konsisten justru menjadi awal dari perubahan besar.
