
PEMALANG, SudutNalar – Pelajaran matematika di sebuah SMP di Pemalang kerap dimulai sebelum murid sempat duduk. Satu per satu mereka dipanggil untuk menjawab sebuah soal perkalian. Tangan-tangan terangkat. Mereka yang menjawab benar boleh langsung masuk kelas. Kebiasaan serupa kembali dilakukan pada akhir pelajaran. Siswa yang mampu menjawab boleh langsung pulang.
Kebiasaan itu dijalankan Windi Anjani, guru matematika di sekolah tersebut, sejak mulai mengajar pada 2022. Meski murid-muridnya telah duduk di bangku SMP, Windi tetap meminta mereka menghafal perkalian.
“Murid-murid saat ini kurang fokus ketika pembelajaran matematika. Banyak juga yang belum bisa perkalian, padahal itu dasar yang harus dikuasai sebelum masuk jenjang menengah pertama,” ujar Windi.
Matematika bagi sebagian siswa bukan pelajaran yang mudah. Bahkan, mata pelajaran itu kerap dianggap menakutkan. Windi memahami anggapan tersebut dan berusaha mengubah pengalaman siswa ketika berhadapan dengan angka.
“Citranya sudah sangat menyeramkan. Banyak yang bilang matematika itu sulit,” katanya.
Windi memulainya dengan membangun kedekatan bersama murid. Menurutnya, sebelum siswa menyukai mata pelajaran yang diajarkan, mereka perlu merasa nyaman dengan gurunya. Karena itu, ia berusaha menciptakan interaksi yang nyaman, tetap dalam batas kesopanan, kemudian memadukan permainan dan teknologi dalam pembelajaran.
Cara tersebut membuat siswa lebih antusias. Bagi Windi, salah satu momen yang paling menyenangkan adalah ketika murid justru menunggu pelajaran matematika dimulai.
“Ketika peserta didik merasa senang, excited, bahkan menunggu saya untuk memulai pembelajaran,” ujarnya.
Namun, tidak semua murid dapat mengikuti pembelajaran dengan kecepatan yang sama. Di sekolah tempat Windi mengajar, terdapat dua siswa kelas VIII yang masih kesulitan berhitung. Penjumlahan saja belum mereka kuasai, terlebih perkalian.
“Penjumlahan pun masih kurang, masih belum bisa, apalagi perkalian,” kata Windi.
Kondisi itu tidak membuat Windi membiarkan keduanya mengikuti pelajaran seperti biasa. Ia menyediakan waktu tambahan, baik sepulang sekolah maupun saat jam istirahat. Ketika siswa lain mengerjakan soal di kelas, Windi menyisihkan waktu untuk mengajari keduanya kembali dari dasar, mulai dari penjumlahan hingga perkalian.
Keduanya pun memberikan respons yang berbeda. Salah satu siswa merasa senang karena pendampingan tersebut membantu. Sementara siswa lainnya justru merasa tertekan dan kerap mencari alasan agar tidak mengikuti kelas tambahan.
Perbedaan kemampuan juga membuat Windi tidak menggunakan satu pola pembelajaran untuk seluruh siswa. Ia menyiapkan tiga Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan tingkat berbeda bagi siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Siswa kemudian dikelompokkan sesuai kebutuhannya. Bagi siswa yang malu bertanya kepada guru, Windi menggunakan tutor sebaya.
Tantangan lain muncul dari siswa yang mudah ikut-ikutan. Satu siswa yang sulit fokus dapat mengajak teman-temannya bercanda hingga mengabaikan pelajaran. Namun, pengalaman mengajar selama bertahun-tahun membuat Windi tidak lagi melihat kegaduhan hanya sebagai kenakalan.
“Misalkan mereka dari keluarga yang, mohon maaf, broken home. Mereka kadang tidak fokus belajar di sekolah. Mereka hanya mencuri perhatian kita, entah dengan berbuat nakal, ngobrol di kelas, atau apa pun,” tuturnya.
Windi mengaku dulu lebih mudah marah atau kesal ketika menghadapi perilaku seperti itu. Kini, ia memilih mencoba memahami sudut pandang murid terlebih dahulu.
“Setelah kita cari tahu lebih dalam, kita lihat perspektifnya mereka, jadi bisa belajar untuk saling menghargai lagi. Untuk menerima bahwa apa yang kita mau belum tentu itu yang kita dapat,” ujarnya.
Bagi Windi, matematika juga bukan sekadar persoalan menghitung dan mendapatkan jawaban yang benar. Ia ingin siswa membawa cara berpikir yang mereka pelajari di kelas ke kehidupan sehari-hari.
“Saya ajarkan bagaimana menyelesaikan sebuah permasalahan, supaya pola pikirnya bermanfaat ketika mereka hidup di tengah masyarakat,” katanya.
Keinginan menjadi guru sudah tumbuh sejak Windi kecil. Lingkungan keluarganya yang banyak berprofesi sebagai guru turut memengaruhi pilihannya. Ia kemudian memilih matematika karena menyukai ilmu tersebut.
“Itu ilmu pasti. Mau caranya berbeda, hasilnya tetap sama,” katanya.
Hingga kini, Windi mengaku tidak pernah merasa ingin berhenti mengajar. Ketika ditanya tentang harapannya kepada para siswa, ia tidak menyebut nilai ataupun peringkat. Ia justru mengingatkan mereka dengan satu kalimat yang terus ia ulang.
“Kalau kalian tidak bisa melakukan satu hal, maka kalian jangan meninggalkan semuanya,” katanya.
Kalimat itu menjadi gambaran dari cara Windi menghadapi dua siswa kelas VIII yang masih berjuang menguasai penjumlahan dan perkalian. Di balik satu soal yang menunggu di pintu kelas, ada siswa yang belum mampu mengejar kemampuan teman-temannya.
Namun, bagi Windi, tertinggal bukan berarti harus ditinggalkan. Ia memilih memberi waktu, mencari cara, dan mendampingi mereka sampai kembali menemukan langkahnya.
Mereka mungkin belum sampai. Tetapi setidaknya, mereka tidak berjalan sendirian.
Penulis: Nur Alya Nabila
