
PURWOKERTO, sudutnalar.com – Kebaya tak lagi sekadar pajangan di lemari yang dikeluarkan setiap acara formal atau wisuda. Di lingkungan kampus, busana tradisional ini mulai dihidupkan kembali dalam aktivitas harian. Fenomena menarik ini dapat ditemui di Jurusan Pendidikan Bahasa Jawa, Universitas Sebelas Maret. Mahasiswanya kompak mengenakan kebaya setiap Kamis Manis.
Tradisi berkebaya harian ini baru diterapkan oleh Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa UNS kepada mahasiswa angkatan 2025 dan dilanjutkan kepada mahasiswa angkatan 2026. Tradisi tersebut tentunya merupakan bentuk nyata melestarikan kebudayaan Jawa.
Ketika mayoritas mahasiswa masa kini lebih gemar mengeksplorasi gaya berpakaian ala Barat, Korean Style, ataupun pakaian oversized untuk kuliah, mahasiswa Pendidikan Bahasa Jawa justru tampil dengan identitas lokal. Tidak terkesan kuno, fenomena ini justru dapat memperlihatkan kebanggaan mahasiwa terhadap busana tradisional. Apalagi, kebaya dapat di mix and match dengan berbagai jenis pakaian dan aksesori sehingga dapat memperlihatkan budaya tradisionalnya tetapi juga tetap modis untuk kegiatan perkuliahan.
Meskipun menjadi kebiasaan yang membanggakan, berkebaya saat kuliah ternyata memiliki tantangan tersendiri bagi mahasiswa.
”Sebenarnya kadang ada yang mengeluh karena (memakai kebaya) ribet. Apalagi setiap Kamis Manis kelas ku harus naik ke lantai tiga, jadi kalau jalan dan naik tangga agak susah. Tapi walaupun begitu, teman-teman tetap saja memakainya setiap Kamis Manis,” ujar Rahma, salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Jawa, Universitas Sebelas Maret.
Sebagai bentuk pelestarian busana tradisional yang menjadi pemandangan unik setiap Kamis Manis, keberanian tampil berbeda ini memiliki sejumlah harapan. Salah satunya adalah harapan agar mampu menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain.
Swastika, mahasiswa Pendidikan Bahasa Jawa lainnya, berharap tradisi ini dapat menjadi pelopor gerakan berkebaya di lingkungan kampus secara lebih luas. Menurutnya, jika mahasiswa lain melihat saat ia dan teman-temannya berkebaya, kemudian merasa tertarik dan FOMO untuk ikut mengenakan kebaya di perkuliahan, itu merupakan suatu hal yang baik tentunya karena membuktikan bahwa tradisi berkebaya yang telah program studinya lakukan itu dapat memberikan dampak positif kepada mahasiswa yang lain.
Selain itu, Swastika juga menyampaikan harapannya terhadap keberlanjutan tradisi berkebaya yang dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa.
”Harapannya ke depan, tidak hanya mahasiswa Pendidikan Bahasa Jawa saja yang mengenakan kebaya untuk ngampus, tetapi teman-teman dari prodi lain juga bisa ikut merasakan euforia mengenakan kebaya,” tutur Swastika.
Penulis: Zulfa Kamila Oktafiani
Editor: Restina Diniati Cantika
