sudutnalar.com, 22 September 2026

Acara Pembekalan dan Penandatanganan Kontrak Penerima Beasiswa Unggulan Tahun 2025 (Dok. sudutnalar.com/Arya Rafa Junaedi)
CILACAP, SUDUTNALAR – Di tengah anggapan bahwa mahasiswa Teknik Kimia identik dengan jadwal kuliah yang padat dan nyaris tak bersisa waktu untuk hal lain, Arya Rafa Junaedi justru membuktikan sebaliknya. Mahasiswa asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang kini menempuh studi pada Program Studi Teknik Kimia, Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN) Yogyakarta angkatan 2025 berhasil menjadi awardee Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sembari tetap aktif dalam berbagai organisasi kampus.
Rekam jejak organisasi Arya bukan hal baru. Sejak kelas 7 SMP, ia dipercaya menjadi wakil ketua OSIS selama dua periode berturut-turut, di tengah masa transisi pandemi COVID-19 yang penuh tantangan. Ia juga aktif di Pramuka sebagai humas Dewan Penggalang dan mengikuti Saka Kalpataru yang berfokus pada isu lingkungan hidup serta menjadi lulusan terbaik kelima di SMP Negeri 2 Kesugihan.
Semangat berorganisasi berlanjut di jenjang SMA. Meskipun sempat mencalonkan diri sebagai ketua OSIS, Arya akhirnya dipercaya menjadi sekretaris OSIS SMA Negeri 1 Adipala. Ia juga aktif di Paskibra tingkat Kecamatan Adipala, menjadi ketua buku tahunan angkatan ke-18 pada 2023, hingga mewakili sekolah dan kecamatannya di Forum Kepemudaan Gada Bercahaya tingkat Kabupaten Cilacap pada 2024.
Kini, di bangku kuliah aktivitas organisasinya tak surut. Arya tercatat sebagai anggota HRD (Human Resource Development) di Society of Renewable Energy (SRE), yang selaras dengan bidang studinya di energi baru terbarukan. Ia juga menjadi staf magang Biro Pengembangan Intra Organisasi (PIO) Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia, dan Koordinator Divisi PDD dalam kegiatan Pemilihan Umum Raya Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia.
Menyeimbangkan kuliah, organisasi, dan tanggung jawab sebagai penerima Beasiswa Unggulan bukan perkara mudah. Arya mengaku memegang teguh prinsip akademik sebagai prioritas, yaitu menempatkan kuliah sebagai tanggung jawab utama, sementara organisasi menjadi wadah untuk mengasah soft skill.
“Ketiganya harus saling support,” ujarnya. Kuncinya terletak pada skala prioritas dan komunikasi yang jujur kepada rekan organisasi ketika jadwal bertabrakan, serta keberanian berkata “tidak” pada ajakan yang berada di luar prioritas, sekecil apa pun godaan untuk sekadar berkumpul bersama teman.
Ketertarikan Arya terhadap beasiswa ini sebenarnya sudah tertanam sejak sekolah menengah, terinspirasi dari cerita orang tuanya tentang anak-anak muda yang berhasil kuliah gratis lewat jalur beasiswa. Namun keberanian untuk benar-benar mendaftar baru muncul saat ia menjadi mahasiswa baru.
Tantangan terberat justru berasal dari penulisan esai, sesuatu yang belum pernah ia tulis untuk kelas beasiswa nasional. Selama beberapa hari ia menyusun dan menghapus tulisannya berkali-kali, bahkan sempat merasa hampir menyerah.
“Saya kerjakan esai itu dengan konsentrasi penuh hingga akhirnya bisa disubmit satu jam sebelum portal pendaftaran ditutup,” ujarnya. Perjuangan itu berbuah manis, Arya dinyatakan lolos sebagai awardee Beasiswa Unggulan 2025. Beasiswa tersebut merupakan beasiswa pertama sekaligus satu-satunya yang pernah ia ikuti.
Kepada mahasiswa baru dan pejuang beasiswa lainnya, ia berpesan agar tidak cepat berpuas diri dan berani mencoba hal-hal baru, betapa pun sederhana hal-hal tersebut terlihat.
“Jangan pernah membatasi diri kalian dengan latar belakang atau masa lalu, kita mungkin tidak pernah bisa memilih dari mana kita memulai, tapi kita punya kendali penuh untuk menentukan mau ke mana kita melangkah,” pesannya.
Ia menutup pesannya dengan perumpamaan yang menjadi pegangan hidupnya, “Air yang diam itu bisa menjadi keruh, tapi air yang mengalir akan selalu membawa kehidupan.”
Penulis: Allexsa Adytia
Editor: Asya Sahitya Firdaniza
