Shafrifa Rahma Aulia

Jarinya lihai memegang tetikus di atas meja. Tatapannya terpaku pada layar komputer, sesekali berpindah ke lembaran kertas. Setelah memastikan dokumen siap, lembaran tersebut ia taruh ke dalam mesin pencetak. Tak lama, selembar kertas keluar. Dengan ramah, lembar itu diserahkan kepada seorang mahasiswa.
Lelaki di balik mesin pencetak itu adalah Widyonarko. Pria berumur 40 tahun tersebut menjalankan usaha fotokopi tepatnya di Jalan Gunung Semeru, Purwokerto Utara. Letaknya yang berada di sekitar kawasan Universitas Jenderal Soedirman membuat sebagian besar pelanggan yang datang adalah mahasiswa. Ia dengan cekatan melayani berbagai kebutuhan mereka, mulai dari mencetak dan menggandakan dokumen hingga melayani keperluan fotokopi lainnya
Memasuki tempat usaha Widyonarko, meja kerja dan mesin pencetak berada di sisi ruangan, sementara etalase berisi kertas dan berbagai perlengkapan alat tulis berada di bagian depan. Meski sederhana, ruang tersebut cukup untuk melayani pelanggan yang datang silih berganti. Beberapa kursi juga tersedia bagi pelanggan yang menunggu dokumennya selesai dicetak.

Mencari Peluang
Fotokopi ini menjadi tumpuan ekonomi bagi Widyonarko dan keluarganya. Sejak membuka usaha pada September 2023, berbagai pasang surut ia alami. Ia pernah hanya mendapatkan dua pelanggan dalam sehari. Meski begitu, Widyonarko terus mencari peluang dan menyusun strategi agar usahanya tetap berjalan.
Hari Minggu menjadi salah satu peluang yang ia manfaatkan. Pada hari tersebut, Widyonarko sengaja membuka tempat usahanya hingga malam, bahkan beberapa kali sampai melewati pergantian hari.
Ada alasan di balik keputusannya membuka usaha hingga larut malam. Bagi Widyonarko, waktu tersebut menjadi kesempatan untuk melayani mahasiswa yang masih membutuhkan layanan fotokopi setelah tempat usaha lain tutup. Ia memilih tetap buka dan menunggu kemungkinan adanya pelanggan yang datang.
βSiapa tahu ada peluang di sini. Mahasiswa suka butuh fotokopi di jam-jam malam. Saat mencari fotokopi dan lihat toko saya, oh, ada fotokopi yang masih buka,β katanya.
Pelanggan fotokopi ini turut membantu mengenalkan usahanya kepada orang lain. Berbekal media sosial Twitter, beberapa pelanggan membagikan informasi mengenai tempat usahanya sehingga pelanggan baru mulai berdatangan.
Setiap pagi sebelum membuka usaha, Widyonarko terlebih dahulu mengecek tinta mesin pencetak. Komputer yang digunakan untuk mencetak dokumen juga tak luput dari pemeriksaannya. Ia menghapus dokumen-dokumen yang sudah tidak terpakai agar ruang penyimpanan tetap tersedia untuk dokumen baru yang akan dicetak. Setelah memastikan tinta dan komputer siap digunakan, barulah ia membuka tempat usahanya dan mulai melayani pelanggan.
Beragam Cerita
Widyonarko juga kerap menghadapi berbagai situasi dari para pelanggannya. Terlebih saat musim UTS, ketika beberapa mahasiswa baru mencetak kartu ujian beberapa menit sebelum ujian dimulai.
βAda yang belum nge-print kartu ujiannya. Masuk UTS jam sepuluh, datang ke sini jam sepuluh kurang lima. Ada yang minta diedit dulu, buru-buru. Saya juga ngomong, ya maaf Mbak atau Masnya datangnya mepet. Kata mereka, iya enggak apa-apa Pak, saya juga yang salah,β tuturnya.
Tidak hanya terburu-buru mencetak dokumen, HP dan kunci milik beberapa pelanggan juga pernah tertinggal di tempat usahanya. Barang-barang tersebut ia simpan dengan aman hingga pemiliknya kembali.
Menjelang akhir wawancara, seorang anak datang ke tempat usaha Widyonarko. Ia menyambutnya dengan senyum, kemudian menanyakan barang yang ingin dibeli. Tutur katanya tetap lembut saat melayani pelanggan tersebut. Percakapan wawancara pun berakhir di tengah aktivitasnya melayani pelanggan.
