Nagita Zulfa
sudutnalar.com, 8 Oktober 2026
BREBES, SUDUTNALAR – Aroma kedelai tercium dari tumpukan tempe yang sedang ditata Tuniroh ke dalam keranjang sepeda. Saat sebagian besar orang masih terlelap, perempuan berusia 55 tahun itu sudah bersiap menuju Pasar Jatibarang, Brebes. Pukul tiga subuh menjadi awal rutinitas yang telah dijalaninya selama 22 tahun. Dari tempe yang dijual seharga Rp1.000 per bungkus itulah ia membantu mengantarkan putranya, Syekhroni, hingga lulus kuliah dan mengenakan toga wisuda.
Tumpukan tempe yang dibawa Tuniroh dari rumah perlahan mulai berkurang. Sejak subuh, para pembeli datang silih berganti untuk membeli dagangannya. Di sela melayani pembeli, Tuniroh sesekali merapikan bungkus-bungkus tempe yang tersusun di lapaknya.
Bagi Tuniroh, berjualan tempe bukan pekerjaan yang asing. Sejak kecil, ia sudah mengikuti neneknya berdagang tempe. Dari situ, ia belajar hingga akhirnya meneruskan usaha yang sama.
“Karena dari kecil ikut nenek jualan tempe. Jadi, saya memilih usaha ini,” ujar Tuniroh.
Setiap hari, Tuniroh mengolah sekitar 15 kilogram kedelai menjadi tempe. Dari hasil penjualan, ia bisa memperoleh sekitar Rp150.000 dalam sehari. Namun, sebagian besar pendapatan tersebut kembali digunakan untuk membeli bahan baku.
“Bahan kedelainya saja sekitar Rp100.000,” ujar Tuniroh.
Setelah dikurangi modal, sisa keuntungan sekitar Rp50.000 per hari. Dari sisa keuntungan tersebut kebutuhan sehari-hari keluarga tetap terpenuhi.
Menurut Tuniroh, jumlah produksi tempe yang dibuatnya saat ini tidak sebanyak dulu. Persaingan usaha yang semakin banyak membuat jumlah pembeli berkurang dan produksi ikut menyesuaikan.
Tuniroh hanya menamatkan pendidikan hingga sekolah dasar. Sementara itu, suaminya bekerja sebagai tukang batu di Jakarta. Keterbatasan tersebut membuat mereka berusaha memberi kesempatan pendidikan yang lebih baik kepada anak mereka.
“Bagi saya pendidikan nomor satu. Saya tidak ingin anak saya seperti saya,” ujar Tuniroh.
Harapan itu perlahan terwujud ketika putranya, Syekhroni, diterima di Politeknik Baja Tegal pada Program Studi D3 Teknik Informatika. Kabar bahwa anaknya memperoleh bantuan melalui program KIP Kuliah menjadi kabar yang melegakan bagi keluarga tersebut.
Beasiswa tersebut membantu menutup biaya pendidikan Syekhroni sehingga Tuniroh tidak perlu menanggung seluruh kebutuhan kuliahnya. Selama anaknya menempuh pendidikan, ia hanya berusaha mencukupi biaya bensin dan uang saku sehari-hari.
“Paling saya membiayai bensin dan uang saku Rp20.000 per hari,” ujar Tuniroh.
Dari berbagai peristiwa yang dilalui selama mendampingi pendidikan anaknya, ada satu momen yang paling diingat oleh Tuniroh. Momen itu terjadi ketika ia melihat putranya mengenakan toga wisuda.
“Saya sangat senang melihat anak saya memakai toga. Bangga sekali. Saya yang bukan apa-apa bisa melihat anak saya wisuda,” ujar Tuniroh.
Bagi Syekhroni, keberhasilannya menyelesaikan pendidikan tidak lepas dari dukungan kedua orang tuanya yang selalu mengutamakan pendidikan meski hidup dalam keterbatasan.
“Saya berterima kasih kepada orang tua saya yang sudah membesarkan dan mendidik saya, serta mengedepankan pendidikan saya,” ujar Syekhroni
Kini Syekhroni sudah bekerja sebagai staf di sebuah perusahaan. Sementara itu, Tuniroh masih berjualan tempe di Pasar Jatibarang seperti yang telah dilakukannya selama puluhan tahun.
Besok pagi, ketika jarum jam kembali menunjukkan pukul tiga subuh, rutinitas itu akan kembali dilakukan. Tuniroh akan kembali berjualan seperti biasa. Tempe-tempe seharga Rp1.000 per bungkus akan kembali tersusun di lapaknya. Namun, ada satu hal yang berbeda. Harapan yang selama bertahun-tahun ia perjuangkan melalui hasil penjualan tempe kini telah menjadi kenyataan.
“Untuk orang tua di luar sana tetap semangat mencari nafkah, karena bagi saya pendidikan nomor satu. Saya tidak ingin anak saya seperti saya” ujar Tuniroh
