Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Menolak Berakhir di Dapur, Wanita Ini Mengubah Takdirnya Melalui Pendidikan

Posted on September 22, 2026 by Hanunah Mumtaz

Reporter: Fauzan Haris Wiarso | Editor: Handaru Arya Adhyasta

Wiwi Sukatni berfoto bersama murid-muridnya (Foto: Dok. Pribadi)

Tahun 1980-an bukanlah era yang ramah bagi perempuan desa yang ingin bermimpi tinggi. Di masa itu, nasib anak perempuan sering kali sudah ditentukan oleh keluarganya, untuk menunggu seseorang melamar, menikah, beranak, dan akhirnya menjadi ibu rumah tangga. Stigma patriarkis inilah yang nyaris menelan masa depan Wiwi Sukatni.

Lahir pada tahun 1971 sebagai bagian dari keluarga sederhana dengan delapan bersaudara, jalan hidup Wiwi nyaris berbelok tajam usai menamatkan bangku SMP. Kala itu, seorang pria berniat melamarnya. Sang ibu mendesaknya untuk menerimanya agar ia bisa cepat menikah,“Mau sekolah setinggi mungkin pun, namanya anak perempuan ya ujung-ujungnya tempatnya di dapur.” Kalimat yang dilontarkan ibunya masih terngiang-ngiang hingga sekarang.

Namun, ayahnya dari dahulu menyadari bahwa dirinya tak memiliki aset tanah maupun harta untuk diwariskan, ia segera pasang badan untuk menentang lamaran dan kalimat tersebut. “Aku tak bisa kasih dia apa-apa untuk anak-anakku. Cuma bisa jamin pendidikan dia supaya kelak dia bisa cari uang sendiri, biarkan dia bersekolah dahulu.” tegas sang ayah kala itu.

Sebuah pembelaan dari ayahnya itu akhirnya menjadi bensin bagi kehidupan Wiwi. Kepercayaan mutlak dari sang ayah memaksanya untuk tidak menyerah pada nasib. Sempat merantau ke Surabaya sebagai buruh pabrik, ia harus menelan pil pahit ketika mendapatkan surat pemutusan hubungan kerja (PHK) dari pabriknya pada tahun 1995, yang akhirnya memaksanya untuk pulang ke kampung halaman. Namun siapa sangka, kepulangannya ke kampung halaman dalam kondisi menganggur justru menjadi gerbang pembuka takdirnya. 

Berawal dari sekadar ikut-ikutan mengajar anak prasekolah di sebuah rumah warga pada tahun 1995, Wiwi menemukan panggilan jiwanya. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jam terbang, ia sadar bahwa untuk mendidik secara profesional, ijazah SMEA saja tidaklah cukup. Tersentil oleh ucapan seorang rekan yang mengibaratkan guru tanpa pendidikan setara dengan “petani tanpa cangkul”, tekadnya untuk menuntut ilmu kembali menyala. Ia pun memutuskan untuk menempuh kuliah jarak jauh D2 PGTK di IKIP PGRI Semarang. Di fase ini, Wiwi yang sudah berkeluarga beruntung tidak harus berjuang sendirian. Sang suami hadir sebagai pilar pendukung utama yang membantu membiayai penuh kuliah D2-nya kala itu.

Dedikasinya membuahkan hasil manis ketika bergulir program pengangkatan PNS dari pemerintah. Namun, tantangan baru menanti. Untuk menjadi guru bersertifikasi, ijazah D2-nya tidaklah cukup; ia diwajibkan menempuh pendidikan S1. Selain itu, ia juga harus dimutasi ke Sekolah Dasar. Wiwi akhirnya memutuskan untuk mengambil S1 PGSD di UT Pemalang agar sesuai dengan syarat mutasi. Beruntungnya, kali ini jenjang S1-nya disubsidi penuh oleh pemerintah, bahkan ia juga mendapatkan uang saku pendidikan, sehingga tidak terlalu memberatkan untuknya.

Meski begitu, proses mutasi ini memaksanya keluar dari zona nyaman. Setelah 15 tahun (1995-2010) mengabdi sebagai guru TK yang menangani anak-anak prasekolah bersama teman sejawatnya, ia harus putar otak untuk beradaptasi mengajarkan materi pelajaran ke murid SD seorang diri di kelas. Perasaan grogi dan kagok sempat menghantuinya di masa-masa awal transisi tersebut.

Kini, setelah 31 tahun berlalu sejak ia mulai mengajar pada 1995, Wiwi Sukatni masih mengabdi menjadi seorang Guru Kelas 3 di SD Negeri 01 Kuta Bantarbolang, ini adalah bukti hidup bahwa perempuan juga bisa menentukan nasibnya sendiri. Walau begitu, Wiwi kerap merendah. Ia selalu merasa dirinya adalah anak yang paling “biasa-biasa saja” dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Namun, jalan hidupnya membuktikan sebuah pencapaian yang jauh lebih berharga: kemandirian. Sesuai dengan doa dan harapan sang ayah puluhan tahun silam, pendidikan tidak hanya membuatnya mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tetapi juga menjadikannya sosok perempuan berdaya yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme