Oleh: Hilmaida Nailal Karomah
sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Aroma adonan tepung tapioka yang tergoreng garing menyeruak dari sebuah dapur di sudut perkampungan. Suara minyak panas yang berdesis berpadu dengan denting irus stainless steel yang bersentuhan dengan wajan tebal. Di tengah kepulan uap hangat dan hawa gerah dapur, seorang perempuan berdiri sigap. Jemarinya yang cekatan mengaduk lembaran-lembaran tipis adonan berbalut bumbu gurih beraroma daun jeruk. Perempuan itu adalah Umi Azizah (39), seorang ibu rumah tangga beranak tiga yang menggantungkan asa pada renyahnya gurih cimoring—singkatan dari cimol kering.
Pagi masih gelap ketika aktivitas di rumah Umi sudah dimulai, bahkan sebelum gema azan subuh berkumandang membendung sunyinya perkampungan. Usai menyiapkan sarapan, mengantarkan buah hatinya pergi ke sekolah, dan merapikan rumah, Umi bergegas kembali ke dapur sederhananya. Di sanalah perjuangan utamanya dimulai—jemarinya dengan cekatan mulai bergelut memproses beberapa kilogram tepung tapioka, tepung terigu, racikan bawang putih, serta rempah-rempah pilihan untuk diolah menjadi adonan cimoring. Waktu longgarnya ini menjadi saksi bisu jerih payahnya meracik resep untuk mendapat uang tambahan keluarga.
Perjalanan usaha rumahan ini tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari keterdesakan ekonomi yang menuntut keberanian. Ketika kebutuhan anak-anak makin membengkak dan penghasilan suami sebagai pekerja harian lepas makin tak menentu, Umi memutar mulai otak. Sebagai ibu rumah tangga, ia tidak ingin tinggal diam meratapi keadaan. Keinginan membantu suami serta memastikan pendidikan anak-anaknya berjalan lancar menjadi bahan bakar utama yang membakar semangatnya.
“Saat itu muncul ide untuk membuat cimoring karena anak-anak saya suka sekali jajanan itu. Dari situ saya mulai mencari tutorialnya di YouTube, lalu coba buat cimoring sendiri,” kenang Umi teringat awal mula keberaniannya melangkah.
Membangun usaha rumahan dari nol jelas bukan perkara mudah. Pada masa awal percobaan, tak jarang adonan yang diproduksi menjadi keras, takarannya kurang pas, atau bahkan rasanya tidak sesuai harapan. Namun, kegagalan demi kegagalan tersebut tidak membuatnya surut langkah. Dengan telaten, Umi terus menguji komposisi adonan, mengukur ketebalan irisan, hingga rasanya enak, renyak, serta tahan lama tanpa bahan pengawet sintetik.

Usaha pantang menyerah itu perlahan membuahkan hasil. Camilan cimoring buatannya mulai digemari oleh tetangga sekitar, teman-teman sekolah anaknya, hingga merambah ke warung-warung keliling. Bumbu tabur racikan sendiri—kombinasi gurih pedas manis dengan aroma segar daun jeruk—menjadi daya pikat utama yang membuat pembeli ketagihan.
Tidak hanya sekadar mencari uang tambahan untuk uang belanja dapur dan biaya sekolah anak, Umi memiliki visi yang lebih luas untuk mengembangkan UMKM rumahannya. Ia mulai mempelajari cara pengemasan yang lebih modern dan higienis. Plastik polos tanpa identitas kini berganti dengan kemasan standing pouch bening. Pemasaran yang dahulu hanya mengandalkan kabar dari mulut ke mulut kini merambah ke jejaring media sosial.
Kehadiran usaha rumahan ini membawa dampak nyata bagi kehidupan keluarganya. Lebih dari itu, kegigihan Umi memberikan teladan langsung tentang arti kerja keras, ketangguhan, dan kemandirian kepada buah hatinya.
“Menjadi ibu rumah tangga bukan alasan untuk berhenti. Selama kita mau berusaha, dari rumah pun kita tetap bisa mendapat penghasilan,” tutur Umi.
Malam makin larut, namun lentera di dapur Umi Azizah masih menyala terang. Di balik helai-helai cimoring yang renyah dan gurih, tersimpan ikhtiar panjang seorang ibu yang tak pernah lelah merajut mimpi demi masa depan buah hatinya. Dari kesederhanaan adonan aci, Umi telah membuktikan bahwa ketekunan dan cinta seorang ibu mampu mengubah keterbatasan menjadi jalan keberkahan yang menghidupkan seluruh rumah.
