Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Menjelang Hajatan, Warga Desa Bumisari Pertahankan Tradisi Resik Makam

Posted on September 16, 2026September 18, 2026 by zulfa izaz

Reporter: Hanifah Adwa Nur Sifa | Editor: Isfarotul Khasanah

sudutnalar.com, 11 September 2026

Tradisi resik makam menjelang hajatan masih dipertahankan sebagian masyarakat Desa Bumisari sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi anggota keluarga yang telah meninggal dunia.(Foto Internet)

BUMISARI, Sudut Nalar β€” Sebagian masyarakat Desa Bumisari masih menjalankan tradisi resik makam menjelang hajatan pernikahan atau sunatan. Tradisi membersihkan makam keluarga ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada anggota keluarga yang telah meninggal, sekaligus menjadi sarana mengirim doa sebelum hajatan berlangsung.

Resik makam umumnya dilakukan dengan membersihkan area pemakaman keluarga, seperti mencabut rumput, menyapu, dan merapikan lingkungan sekitar makam. Kegiatan ini biasanya dilakukan sekali menjelang hajatan, dengan hari pelaksanaan yang dipilih jatuh pada Senin atau Kamis.

β€œTujuannya untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dan mengingatkan akan adanya kematian, karena makam merupakan tempat orang yang sudah meninggal,” ujar Ratmono, warga Desa Bumisari.

Menurutnya, tradisi ini berkaitan erat dengan kebiasaan keluarga yang hendak mengadakan pesta, sementara anggota keluarga yang telah meninggal tidak bisa turut hadir. Doa pun menjadi bentuk penghormatan yang tetap bisa diberikan sebagai pengganti kehadiran mereka.

“Orang yang masih hidup mau mengadakan pesta, sedangkan orang yang sudah meninggal tidak bisa ikut. Jadi, mereka dikirimi doa sebagai gantinya,” jelas Ratmono.

Tradisi ini telah dikenal masyarakat Bumisari sejak zaman nenek moyang dan diwariskan turun-temurun, diperkenalkan orang tua kepada anak-anak sejak kecil melalui nasihat dan arahan pelaksanaannya.

Ratmono menegaskan, resik makam dimaknai sebagai bentuk mendoakan orang yang telah meninggal, bukan meminta doa atau restu dari makam. Makam yang dibersihkan umumnya adalah makam keluarga inti, namun doa yang dipanjatkan tidak hanya ditujukan kepada mereka yang makamnya dibersihkan, melainkan juga kepada orang-orang yang telah meninggal secara umum.

Meski masih dilaksanakan, tata cara resik makam mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dahulu, pengantin biasanya ikut datang ke makam menjelang hajatan, didampingi pelaksana yang memahami tradisi tersebut. Memasuki awal 2000-an, pengantin tidak lagi hadir secara langsung, sebagai gantinya pakaian yang akan dikenakan saat hajatan dibawa ke makam oleh pelaksana.

Sejak sekitar 2015 hingga kini, pelaksanaan resik makam umumnya sepenuhnya dipercayakan kepada orang yang memahami tradisi tersebut. Baik pengantin maupun pakaian yang akan dikenakan tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan.

Tidak semua anggota keluarga memahami tata cara resik makam, sehingga mereka biasanya meminta bantuan sesepuh atau orang yang sudah terbiasa menjalankan tradisi ini. Satu atau dua anggota keluarga cukup mengantarkan pelaksana menuju makam yang hendak dibersihkan.

Meskipun mengalami berbagai perubahan, tradisi resik makam masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat Desa Bumisari. Pelaksanaannya kini lebih banyak dilakukan oleh generasi tua, sementara generasi muda mengenal tradisi tersebut melalui kebiasaan yang diwariskan dari keluarga ke keluarga.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme