
PURWOKERTO, SudutNalar β Bagi Prajnya, menari bukan sekadar melakukan gerakan mengikuti irama musik. Sejak usia tujuh tahun, dunia tari telah menjadi bagian dari kehidupannya. Perempuan yang akrab disapa Anya ini hingga kini masih mendalami berbagai tari tradisional khas Banyumasan.
Kecintaannya terhadap tari terus tumbuh berkat dukungan orang tua, keluarga, dan kerabat terdekat. Bagi Anya, tari Banyumasan juga bukan sekadar pertunjukan, tetapi bagian dari identitas budaya Banyumas, Iringan calung Banyumasan dan gerakannya yang energik menjadi ciri khas yang di dalamnya terdapat nilai rasa syukur kepada Sang Pencipta serta semangat guyub rukun masyarakat.
Untuk mempersiapkan penampilan, Anya terbiasa berlatih setiap hari. Ia menghafalkan gerakan, menyesuaikannya dengan ritme musik, serta berlatih bermain ekspresi wajah. Sebelum berlatih, ia juga melakukan pemanasan dan olah tubuh agar dapat tampil maksimal.
Namun, menurut Anya, menghafalkan gerakan saja tidak cukup. Ia perlu memahami karakter dan makna tarian agar dapat menjiwainya melalui gerakan tubuh dan ekspresi.
“Aku berusaha memahami karakter dan juga makna dari tarian yang akan aku bawakan. Jadi, aku tidak hanya menghafal gerakan, tetapi juga berusaha menjiwai tarian melalui gerakan tubuh dan ekspresi wajah,” jelasnya.
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Anya adalah ketika tampil dalam Sendratari Babad Baturraden pada acara Grebeg Sura. Saat itu, ia untuk pertama kalinya menari di dalam air Sungai Lokawisata Baturraden. Pengalaman tersebut menjadi tantangan sekaligus kenangan yang tidak terlupakan baginya.
Di tengah perkembangan budaya modern, Anya menyadari bahwa mempertahankan minat generasi muda terhadap kesenian Banyumas bukan hal yang mudah. Namun, ia melihat media sosial sebagai peluang untuk mengenalkan seni tradisional dengan cara yang lebih menarik.
Sebagai salah satu warisan budaya Banyumas, Anya berharap kesenian tradisional dapat terus berkembang dan dikenal lebih luas. Ia juga berharap pemerintah dapat menyediakan ruang untuk pertunjukan, pelatihan, dan berbagai kegiatan seni agar para penari serta pelaku seni dapat terus berkarya.
Penulis: Saskia Nova
Editor: Zulfa Nur Auliya
