Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

“Menjaga Rasa Tradisional, Pedagang Kue Dongkal Eksis di Tengah JajananModern”

Posted on September 15, 2026 by Ardita Nadine

Penulis: Niscita Nariswari Vedacetta
Editor: Rahmah Dya Hamidah

SudutNalar, 11 September 2026

Kue dongkal atau awug, jajanan tradisional berbahan dasar tepung beras, gula merah,
dan kelapa parut. (Dokumen: Cita)

BANYUMAS, SudutNalar — Di tengah maraknya jajanan modern, seorang pedagang
tetap mempertahankan kue dongkal atau awug sekaligus mengembangkan usahanya
di Kecamatan Wangon, wilayah yang sebelumnya belum memiliki penjual jajanan
serupa.

Kue dongkal merupakan jajanan tradisional khas Betawi yang di beberapa daerah
Jawa Barat dikenal dengan nama awug atau dodongkal. Berbahan dasar tepung beras,
gula merah, dan kelapa parut, kue ini memiliki perpaduan rasa manis dan gurih yang
khas.

Aji, pedagang kue dongkal di Wangon, telah menjalankan usahanya selama kurang
lebih dua tahun. Ia memilih berjualan di wilayah tersebut untuk mengembangkan
usaha sekaligus membuka cabang baru. Belum adanya penjual kue dongkal di
Wangon juga menjadi peluang untuk memperkenalkan jajanan tradisional kepada
masyarakat setempat.

“Saya memilih jualan di Wangon karena ingin mengembangkan usaha dan membuka
cabang baru. Kebetulan di sini juga belum ada yang jual kue dongkal,” ujar Aji.

Persiapan berjualan dilakukan sejak pagi dengan membeli bahan baku dan
menyiapkan adonan tepung beras. Kue dongkal mulai dijual pada sore hingga pukul
21.00 atau 22.00 WIB, dengan rata-rata penjualan tujuh kilogram per hari. Satu
kilogram menghasilkan sekitar sepuluh porsi dengan harga Rp10.000 per porsi.

Sebagian besar pembeli kue dongkal merupakan orang dewasa. Meski jajanan modern
semakin beragam, kue dongkal masih memiliki peminat yang menyukai cita rasa
tradisional.

Seorang pembeli membeli kue dongkal di lokasi penjualan Kecamatan Wangon,
Kabupaten Banyumas. (Dokumen: Cita)

Dalam menjalankan usahanya, Aji menghadapi kendala pada ketersediaan dan harga
bahan baku, seperti daun pisang yang terbatas, kenaikan harga plastik, serta harga
kelapa yang meningkat saat musim kemarau.

“Yang jadi kendala itu bahan bakunya, terutama daun pisang yang kadang susah
didapat. Harga plastik juga naik, terus sekarang musim kemarau harga kelapa
biasanya ikut mahal,” jelasnya.

Meski menghadapi berbagai kendala, usaha kue dongkal tetap dipertahankan sebagai
jajanan tradisional. Hal tersebut tidak mengurangi semangat Aji untuk tetap berjualan
karena kue dongkal masih memiliki peminat, terutama dari kalangan orang dewasa.

Berjualan di Wangon menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kue dongkal
kepada masyarakat sekaligus mengembangkan usaha. Ke depannya, Aji berharap
dagangan tetap laris, masyarakat terus menyukai jajanan tradisional, dan usaha
tersebut dapat berkembang dengan membuka cabang baru di berbagai daerah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme